Oil and Gas


Nah, sebelum terlalu jauh menjelaskan, saya ceritakan dulu yaa tentang hasil survey yang berisi satu pertanyaan, yaitu,

Berapa sih harga BBM ideal buat Indonesia?”

Sebagian besar orang pasti akan menjawab, “Kalau untuk rakyat, seharusnya yang semurah-murahnya, dong! Kita harus berani membandingkan dengan negara penghasil minyak lainnya seperti Iran atau Arab Saudi, jangan dibandingkan dengan negara2 cetek lainnya. Negara Indonesia ini kaya loh akan sumber daya alam dan sumber energi. Dan energi itu hajat hidup orang banyak, knapa harus bayar mahal?!!!”

6. Kita tidak bisa mensubsidi BBM lagi

Yeah, that’s the sh*tty fact. Dengan naiknya harga minyak dunia baru2 ini, tentu saja subsidi BBM yang harus ditanggung negara untuk mempertahankan harga BBM di negara kesatuan ini membengkak. Pengeluaran negara melonjak. Menteri BUMN dalam laporannya menyatakan bahwa uang negara sebesar 200 T telah terbuang cuma2 karena hanya membiayai orang2 yang mempunyai mobil dan motor.

Apa yang bisa rakyat Indonesia perbuat?

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Buang subsidiiii!!!!

Kalo ada 10 saja pemuda seperti ini di Indonesia

Well, beberapa kalangan bilang memang sudah seharusnya kita menghapus subsidi BBM. Mereka beralasan, kalau kita nasionalis, memang seharusnya kita rela harga energi kita menjadi mahal, membiarkan BUMN2 yang berkaitan dengannya mendapatkan keuntungan yang sebesar2nya untuk nantinya membangun infrastruktur untuk rakyat banyak.

Kayaknya penghapusan subsidi BBM disini bisa menjadi solusi untuk mengajarkan rakyat Indonesia untuk lebih menghemat energi. Otomatis ini juga bisa mengurangi subsidi pemerintah dan tidak berpengaruh besar terhadap rakyat kecil. Sembari rakyat berhemat, pemerintah berusaha secepat mungkin membenahi sarana transportasi umum. Clear kan? Ingat intinya cuma kita harus hemat energi dan Kerja! Kerja! Kerja!

Atau bisa juga menggunakan ide cemerlang hemat BBM seperti ini

Apalagi kalau SBY dan rekan kerjanya rajin mengingatkan dengan gaya prihatin khasnya bahwa negara kita sudah tidak punya uang lagi untuk mengayomi rakyat, rencana2 ini sepertinya bisa berjalan mulus tanpa di demo.

But, well, apa mau dikata, pengambil kebijakan kita emang orang berada yang tinggal di kota, jadi mereka mungkin tidak tahu bahwa solusi ini tidak bisa diterapkan, karena ada alasan ini ……

5. Harga BBM kita itu bisa murah, bisa juga mahal abis!!

Tapi, yah, apa mau dikata, pengambil kebijakan kita emang orang berada yang tinggal di kota, jadi yah, menurut mereka harga premium yang 4500 memang (terlalu) murah. Kadang2 bahkan lebih murah dari harga air mineral yang sekarang ada yang sudah sampai 6000 rupiah. BBM kita. Jadi sudah wajar kalau naik.

Lebih murni belum tentu lebih mahal lho

Tapi pernahkah Anda bayangkan bahwa harga premium di Papua bisa naik gila2an sampe 20000 rupiah?

Whaaaaaaaaatttt????????

Well, yeah, that’s the fact. Di daerah terpencil, walaupun dengan BBM subsidi, harga pasti naik karena alasan mahalnya biaya transportasi dan lain-lain yang digunakan agar si BBM sampai ke daerah itu dengan selamat. Memang di SPBU harganya normal, tapi di pengecer harganya jadi mengerikan, apalagi kalau sedang langka. Jadi, yah, harganya naik setinggi-tingginya. Nah, ntar kalo udah ga disubsidi? Bisa naik jadi berapa tuh????

Bisa ikut mejeng di wiki kita bareng negara2 ini,, sekarang Indonesia baru 0.59$/liter…

Kwik Kian Gie yang mengatakan bahwa “Minyak mentah yang berada di perut bumi Indonesia adalah milik rakyat Indonesia. Dengan demikian, minyak mentah untuk rakyatnya itu tak ada harganya[1]. Sederhananya: ibarat sebuah keluarga yang mempunyai sepetak sawah. Beras yang didapat dari sawah tersebut boleh dimakan oleh anggota keluarga tanpa harus dibeli dengan harga pasar. Pemerintah, seperti yang kita tahu, tidak berpikir seperti itu. Harga minyak yang dijual di dalam negeri jauh lebih murah daripada harga di pasar dunia. Dan selisih harganya harus dibayar oleh pemerintah. Uang inilah yang disebut subsidi.

Mana yang betul?

saya bukan pakar dan tentu bukan tempat kami untuk mempertanyakan teori pemerintah maupun teori Pak Kwik. Tapi dari perdebatan tersebut, kita melihat dua pilihan: apakah kita mau seperti Venezuela, atau seperti Norwegia?

Kok begitu?

Venezuela dan Norwegia termasuk dua negara produsen minyak terbesar di dunia. Venezuela nomor 9 terbesar dengan memproduksi 2,8 juta barel per hari, dan Norwegia nomor 10 dengan 2,78 juta barel per hari[2].

Bedanya, harga BBM dalam negeri di Venezuela termasuk yang termurah di dunia, sementara Norwegia termasuk yang termahal di dunia[3].Venezuela menjual minyak ke rakyatnya dengan harga jauh di bawah harga pasar. Sedangkan Norwegia menjual bukan hanya sesuai harga pasar, melainkan juga dipajaki tinggi sekali. Apa ini berarti pemerintah Venezuela lebih mencintai rakyatnya dibanding pemerintah Norwegia? Sebegitu teganyakah pemerintah Norwegia menindas rakyatnya sendiri? Apa gunanya negara punya minyak kalau rakyatnya harus membayar sangat mahal?

Mari kita pelajari lebih lanjut:

Di Venezuela, harga BBM yang, sangat murah memicu rakyatnya untuk makin banyak mengonsumsi minyak. Saat ini, Venezuela menghabiskan sepertiga produksinya untuk dikonsumsi sendiri[4]. Dan permintaan tersebut diproyeksikan akan terus meningkat .

Di Norwegia, harga BBM yang sangat mahal membuat rakyatnya berusaha untuk menjadi se-efisien mungkin. Logis saja: harga bensin mahal, gunakan dengan bijaksana. Akibatnya konsumsi minyak dalam negeri Norwegia termasuk rendah bila dibandingkan negara kaya lain[5]. (Per kepala, rakyat Norwegia mengonsumsi minyak 40% lebih sedikit daripada rakyat Amerika).

Semakin sedikit yang dikonsumsi sendiri, semakin banyak pulalah  yang bisa diekspor, Norwegia mengekspor minyak jauh lebih banyak daripada Venezuela. (Norwegia eksportir terbesar ke4, sementara Venezuela ke7)[6].

Hasilnya: Norwegia mengumpulkan 300 miliar dolar dari keuntungan ekspor minyaknya. Dikemanakan uang ini? Diinvestasikan lagi, sebagai tabungan pensiun. Para ahli memperkirakan, dalam sepuluh tahun, dana tersebut akan berlipat menjadi 900 miliar dolar. Bila uang ini dibagikan ke seluruh rakyat Norwegia, per kepala akan menerima 1800000 dolar[7].

Masih berpikir pemerintah Norwegia tega terhadap rakyatnya sendirinya sendiri?

Beberapa kalangan memang berkomentar tentang hal ini. Mereka berkata bahwa kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin lebar lagi dengan kenaikan BBM ini. Data statistik sudah menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikkan harga BBM maka akan terjadi kenaikkan jumlah penduduk miskin. Apabila harga BBM sekarang dinaikkan lagi, harga bahan pokok dan pelayanan jasa lainnya akan ikut naik juga. UMR rata-rata penduduk Indonesia masih rendah untuk itu.

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Ya sudah lah, gimana kalau subsidinya dialihkan ke pembangunan infrastruktur? Adil kan buat semua? Infrastruktur bagus yang paling bisa nikmatin kan rakyat kecil?

Apalagi yang mencetuskannya adalah Dahlan Iskan. Dahlan Iskan gitu. Reformator PLN! Entrepreneur yang merangkak dari kecil dan mengerti semua permasalahan Indonesia dan bisa mengatasinya dengan kekuatan lobi dan publikasinya. Yeah! Merdeka! Pasti bener!

OK OK, back to topic. Eniwei Pak Menteri bilang daripada buang2 uang 200T buat subsidi BBM, mending kita gunakan untuk pembangunan. Kasihan juga orang2 yang gk punya mobil dan motor tidak bisa ikut menikmati kekayaan Indonesia. Lebih bijaksana kalo uang tersebut kita gunakan untuk membangun infrastruktur.

Pemerintah saat ini lagi giat2nya membangun jalan tol di Sumatra, di Bali, di Kalimantan, Sulawesi, dll. Pemerintah juga lagi giat2nya membangun pembangkit listrik dimana2. Pemerintah juga lagi giat2nya membangun sarana trasportasi, bandara, dan fasilitas umum lainnya. Pemerintah memang sudah menunjukan gelagat bertanggung jawab untuk mencegah dampak negatif kalau2 kebijakan kenaikan BBM ini jadi dijalankan.

Jadi ini bisa menjadi solusi? Jadi kalo rakyat bisa berhemat pemerintah akan membuat negara kita jadi maju dengan percepatan pembangunannya???

Well, sekilas memang terlihat indah, tapi ini juga tidak bisa ternyata, kenapa? Hmm, masalah klasik sih, jangan lupa penyakit kronis bangsa kita,,,,,, yang itu lho, yang ini …..

4. Dialihkan ke infrastruktur? Preeeetttt, dikorupsi lagi pastinya

Klasik, tapi pembangunan infrastruktur memang lebih rentan korupsi daripada subsidi BBM. Dan liat aja tuh saat ini korupsi kian marak gitu. Di TV aja rame abis kasusnya Nazarrudin dan Angelina Sondakh yang membawa nama partai yang orang2nya sekarang lagi mendominasi di pemerintahan saat ini. Mulai dari pusat sampai daerah.

Pembangunan infrastruktur sangat rentan korupsi karena dari pusat sampai daerah bisa mengambil keuntungan, beda dengan subsidi BBM yang pemerintah daerah ga bisa manfaatin buat korupsi. Bank Dunia aja memperkirakan korupsi proyek infrastruktur di Indonesia mencapai 40% dari total nilai proyek. WOW! Bisa dibayangkan kan apa jadinya kalo proyek2 pembangunan ini dikorupsi lagi? Uang 200T yang biasanya buat subsidi itu mungkin nantinya yang jadi infrastruktur cuma setengahnya. Sisanya? Entah.

Yah, Keadaan negara kita memang sadis gini, bung. Jiwa-jiwa semangat anak muda yang nasionalis dimanfaatkan hanya untuk kepentingan golongan2 tertentu.

Dan saya akan prihatin lagi, lagi, dan lagi…

Saya kasih contoh saja ya seberapa mudahnya ngakalin anggaran negara buat infrastruktur, walaupun cuma denger2 dari kabar angin. Entah benar atau salah hanya teman2 yang sudah berpengalaman yang dapat berkomentar disini.

Sebagai contoh, pemda suatu daerah ingin mengadakan proyek pembangunan jalan sebesar 100 Trilyun. Dari sini pemda tersebut membayar anggaplah 10 Trilyun untuk meloloskan anggarannya tersebut di pemerintah. Iyaa kalo gk mau bayar anggarannya gk akan keluar. Emang aneh negri ini!

Dari sini pemda mengundang kontraktor2 untuk menjalankan proyek. Kontraktor yang berani membayar pemda lebih banyak dia yang menang tender, sederhana kan? Kontraktor ini juga akan mengundang sub-kontraktor lagi dengan cara yang sama. Jadi deh yang awalnya keluar proyek 100 Trilyun karena sudah dipotong 10 Trilun di awal menjadi 90 T, dan terus dipotong2 sehingga jalan yang dibangun nantinya akan jadi korban, baru setahun udah banyak lobang dimana2.

Masalah seperti ini belum beres dan belum tau gmana cara mencari solusinya tapi sudah mau mempercepat pembangunan infrastruktur? Orang2 yang berdiri di birokrasi masih sama tapi sudah mau mempercepat pembangunan infrastruktur? Apa kita gk sebaiknya tunggu saja sampai pemerintahan SBY berakhir? Masalahnya kalo nunggu itu negara kita gk kolaps nih nanti bayarin subsidi BBM kita? Terus jawabannya apa dong? KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI?

TIDAAAAKKKKKK!!!!!!!

Sayangnya ini jawaban klise. Bisa mati dulu negara kita kalau apa2 harus nunggu korupsi berhenti. Sampai Indonesia menang lawan MU 10-0 juga bakal masih ada itu korupsi. Kita harus cari cara, dong, untuk membantu rakyat kecil tapi meminimalisasi korupsi.

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Nah kalau subsidi emang ga bisa dihapus, yaudah kita efektifkan saja subsidinya, kan? Jadi subsidi benar2 buat yang membutuhkan saja. Gimana kalo kita strictly hapus subsidi untuk kendaraan pribadi???

Ide cemerlang ini! Jadi cuma kendaraan umum dan rakyat miskin yang dapat subsidi! Apalagi ada alasan konstitusional. Kita tidak bisa menghapus subsidi karena melanggar UU APBN 2012 Pasal 7 Ayat 4. Kalau mau menghapus kita harus mengubah UU dulu. Repot dan memakan waktu lama. Jadi yaudah ga usah dihapus tapi lebih difokuskan ke yang tidak mampu. Bagus kan solusinya?

Caranya bisa macem2 lagi, mulai dari mengharuskan kendaraan pribadi menggunakan Pertamax, atau memberi bantuan langsung bagi yang membutuhkan, seperti yang diusulkan oleh Pak Jero Wacik sang menteri pariwisata yang entah gimana ceritanya berubah menjadi menteri sumber daya.

Sayangnya solusi ini juga ga bisa diterapkan (iya lah ga bisa kalo bisa ga akan kita tulis di sini). Why? Ini dia sebabnya …..

3. Kita tidak bisa membatasi subsidi bagi kendaraan pribadi

Untuk yang solusi pertamax yang Pertamax (wow iramanya enak ya), kita tidak bisa membatasi subsidi BBM bagi kendaraan pribadi, setidaknya sampai Pertamina berbenah. Why? Karena mereka nggak bisa bersaing dengan pom bensin asing, teman2ku.

Kalau kalian perhatikan, harga Pertamax Pertamina selalu lebih mahal daripada bensin2 beroktan 92 lainnya dari pom bensin asing. Bukan, bukan karena korupsi. Ini karena Pertamina tidak dapat memproduksi Pertamax sendiri.

Whaaaattt?????

Yup. Selama ini Pertamina hanya mampu memproduksi 500000 kiloliter Pertamax, sedangkan Pertamax yang dipakai selama ini sudah mencapai 800000 kiloliter. Suplai tambahan sebesar 62.5% dari seluruh penjualan itu dibeli Pertamina dari luar negeri juga, makanya harganya di Pertamina selalu lebih mahal daripada misalnya Shell yang juga jual Super 92 (Pertamaxnya Shell Oil).

Kalo udah lebih mahal, jelas aja orang Indonesia pasti beli yg lebih murah di pom bensin asing. Apalagi mental bangsa kita yg emg udah suudzon sama produk dalam negeri. Dikira diakalin dan dikorupsi sehingga ga sebagus yg dari luar. Jelas banget orang2 bakal ninggalin Pertamina. Ga ada duit yg masuk kas negara deh. Berabe.

Cuma 1 pihak yg senang dengan kondisi ini. ‘Tetangga’

“Lho bos, kalo yang usul Pak Menteri yang keren tadi? Bantuan langsung? Jadi yaudah subsidi Premium dicabut tapi Pertamina bakal kasi subsidi khusus pake bantuan langsung . Oke kan? Harganya tetep bersaing jadinya.”

Nah, buat yang ini, ya jawabannya jadi sama seperti poin sebelumnya tadi, rawan korupsi. Gimana lu mau jamin bantuan langsungnya sampai ke yang benar2 membutuhkan? BLT ke rakyat kecil sama aja juga banyak bgt masalahnya.

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Well, oke, cara ini juga tidak bisa dilakukan, tapi masih ada cara lain, kan, bro? Cara2 radikal yang memberantas akarnya, gimana kalau kita bunuh penyebabnya? Kita batasi jumlah kendaraan pribadi! Kan yg buang2 BBM kendaraan pribadi kan? Yaudah kt buat sebuah aturan biar jumlah kendaraan pribadi berkurang.

Bisa jadi ga cuma Lebaran doang nih Jakarta kayak gini

Ini dia jawabannya! Untuk mengatasi membengkaknya penggunaan BBM, negara2 maju juga pake langkah drastis batasi jumlah kendaraan pribadi. Caranya banyak, mulai dari menaikkan pajak kendaraan pribadi, membatasi umur kendaraan, dan lain-lain. Pake ginian jumlah kendaraan pribadi turun, penggunaan BBM berkurang, negara tidak terbebani!

Tapi, Well, yah, udah sampe poin 5 dan poin2 sebelumnya epic fail semua, dan kalian sedang membaca postingan ini, jadi, Anda pasti tahu kemana larinya poin ini.

2. Kita tidak bisa membatasi jumlah kendaraan pribadi.

Yup, tidak bisa juga. Kali ini penyebabnya adalah sumber pemasukan kas (pejabat dan politikus) negara.

Buat yang belum tahu, Indonesia adalah SURGA bagi industri otomotif dan sepeda motor. Years of shitty mass transportation combined with people’s laziness sudah membuat rakyat negara ini sangat tergantung pada kendaraan pribadi sehingga kendaraan apapun harga berapapun pasti laku dibeli di negara ini. Walaupun sebenarnya harganya bahkan 50-120% lebih tinggi daripada di the Land of the Expensive Freedom Amerika sapisuci Serikat. Semua tetap beli karena malas naik public transport. Malas berhemat. Including us. Termasuk semua orang yang kalo di Singapore aja mau naik bis, tapi di Indon anti. Kapan mau bikin Jakarta jd kyk Singapur kalo gitu caranya? Hipokrit.

Kalo lu adalah Walikota dari Kota terkaya di dunia, tapi naik kereta TIAP HARI ga cuma pencitraan, even when there’s a BOMB threat, baru lu bisa ‘ngomong dikit’ tentang transportasi lu, cuk!

Back to topic, dengan penjualan yang sedemikian gilanya karena pajak yang luar biasa, sudah jelas sekali bahwa negara meraup untung banyak dari kegilaan industri mobil ini. Kalau negara kesatuan republik mahakorupsia kita ini meraup untung, well, sudah pasti pejabat2nya juga kan ya, sudah tradisi :D

Don’t get me wrong, ga semua pejabat mau ambil uang sampah ini. Fauzi Bowo, in his 1 and only comment in his career that deserves our standing ovations with all of our hands and legs, including the extra one, pernah mengajukan ide yang akan mengurangi jumlah kendaraan umum di Jakarta (I can’t find the godd*mn news on the net, but I’m sure I’ve read it somewhere years ago. Kalo ada yg punya link nya kirim ke kami ya ^^). Asik bgt kalo gitu pasti. Sepi dan nyaman!

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Well, sadly, setelah menganalisa semua poin di atas, kita akhirnya sampai kepada kesimpulan yang mengatakan bahwa tidak ada solusi sama sekali dari permasalahan ini, karena…..

1. Kita sendiri boros BBM

Kita. Ya, kita. Saya, mereka, dan Anda sekalian. Boros banget ya kita sebenernya kalo dipikir-pikir.

“Nggak lah Bos ! Jelas2 konsumsi per kapita (orang) nya masih rendah!”

Yah, nggak dari situ lah bro liatnya. Mereka pake energi banyak buat menghasilkan produk yg lebih banyak lagi. Untuk melihat itu ada yang namanya intensitas energi dan elastisitas energi.

Intensitas energi adalah perbandingan antara jumlah konsumsi dengan Produk Domestik Bruto. Gampangnya, kita makan berapa, berapa yang keluar jadi energi, berapa yang jadi keringat & kotoran doank. Nah, untuk Indonesia, nilainya sekitar 400, atau 4x lebih besar dari Jepang! Yang berarti kita 4x lebih boros dari Jepang. Ibaratnya kita makannya sama kek Jepang, tapi kalo kita sebagian besar keluar jadi keringat & kotoran doank, sedangkan Jepang jadi energi.

Yang elastisitas energi, itu adalah perbandingan antara kenaikan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Yang ini juga sejutasetanalastopanbadai nilainya jelek banget bwt Indonesia. Untuk Indonesia angkanya sekitar 1.04, sedangkan negara maju hanya 0.55, yang berarti mereka nambah makan cuma setengah kalinya Indonesia untuk menghasilkan pertumbuhan yang sama. Ini mereka yang irit atau kita yg rakus ya??

“Kok bisa gitu, sih, ?”

Yah bisa aja, itu berarti kita pake energinya buat hal2 yang ga berguna. Di saat negara maju pake sebagian besar energinya untuk membangun Industri, kita pakenya buat having fun aja, hal2 konsumtif yg ga produktif sama sekali.

Yuhuuuuuu!!!!

Sedikit-sedikit naik mobil, sedikit-sedikit naik motor hanya untuk pergi ke tempat2 yg sebenernya bisa kita jangkau dengan jalan kaki saja (dan tidak melelahkan) atau dengan angkutan umum. Merasa pernah melakukannya? Atau mungkin pernah melihat keluarga yg seluruh anggota keluarganya memiliki kendaraan bermotor masing-masing? Entah itu motor atau mobil? Bahkan untuk anggota2 keluarga yg masih di bawah umur?

Okay, kalau yg di atas itu tidak, sadarkah kita bahwa kita seringkali tidak hemat listrik? Membiarkan lampu menyala saat tidak diperlukan, memanaskan makanan dengan microwave, terlalu sering menonton TV dan ditonton TV, menggunakan komputer untuk melakukan hal2 yg kurang esensial (ya, contohnya seperti yg Anda lakukan saat ini).

Kalo Anda bertanya apa hubungannya listrik dan bbm, ya jelas karena biaya pembangkitan listrik di Indonesia sebagian besar masih utk membeli BBM untuk pembangkit listrik tenaga diesel. Dan yg namanya diesel oil itu BBM. Saat Anda boros listrik, pada detik yg sama Anda sudah memboroskan BBM negeri ini juga.

Dan sadarilah bahwa produksi BBM oleh perusahaan minyak kebanggaan Negara Kesatuan Republik ini tidak cukup untuk memenuhi konsumsi rakyat negeri ini. Makin boros kita, makin banyak kita beli BBM dari luar. Dan ketika permintaan makin banyak, menurut Adam Smith, harga yg ditawarkan akan makin tinggi.

Dan kita yang ga mau ngurangin borosnya pemakaian energi kita, jelas aja bakal terus ngemis2 pemerintah biar tetap mensubsidi BBM. Which brings us back to our first point. Pelik ya? Muter2. Lingkaran setan. Yang membawa kita kepada realitas, bahwa masalah ini kayaknya ga bisa selesai, which shows that are really doomed, my friends. 

Oh Sh*t. Kayaknya emang gitu, deh.

So, cos there’s nothing you can/want to do, then just sit back, relax, check your facebook status every minute and buy 1 car for each family member, ride them with pride while watching the world burn, my friends. Yah, paling nggak, dengan boros dan santainya kita, kita masih dapet kebanggaan jadi negara paling bahagia di dunia. Seriously. It’s a survey by foreign journalists you so trust.

GREAT.

Tips Wawancara Kerja :

Menjawab dengan cerdas, taktis dan optimis. Meski anda merasa pintar dan brilian, jangan keburu yakin bahwa semua pintu perusahaan akan terbuka secara otomatis untuk anda. Sebab kenyataannya, para tuan dan nyonya pintar ini seringkali gagal dalam wawancara. Alasannya ? tidak smart dan taktis dalam menjawab pertanyaan.

1. Ceritakan tentang diri anda

Erina Collins, seorang agen rekruitmen di Los Angeles menyatakan seringkali ada perbedaan yang mengejutkan antara ketika kita membaca lamaran seseorang dengan saat berhadapan dengan si pelamar. “Pengalaman menunjukkan, surat lamaran yang optimis tidak selalu menunjukkan bahwa pelamarnya juga sama optimisnya,” kata Erina. Ketika pewawancara menanyakan hal yang sederhana seperti “Di mata anda, siapa anda?” atau “Ceritakan sesuatu tentang anda”, banyak pelamar menatap pewawancaranya dengan bingung dan lalu seketika menjadi tak percaya diri.

Saya merasa biasa-biasa saja” atau “tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang diri saya” seringkali menjadi jawaban yang dipilih pelamar sebagai upaya merendahkan diri. Selama ini banyak artikel karir konvensional yang menyarankan agar anda sebaiknya merendahkan diri sebisa mungkin, sebagai upaya mencuri hati si pewawancara. “Tapi ini jaman modern. Jawaban yang terlalu merendah dan banyak basi-basi hanya menunjukkan bahwa anda sebenarnya tidak yakin dengan diri anda. Dan perusahaan masa kini tidak butuh karyawan seperti itu,” tegas Erina.

Pengalaman Eliana Burthon, staf humas sebuah hotel berbintang di New York mungkin menarik untuk disimak. Ketika pewawancara memberinya satu menit untuk bercerita tentang dirinya, Eliana mengatakan “Saya Eliana Burthon, anak pertama dari lima bersaudara. Sejak SMA, saya aktif di koran sekolah. Disitu saya menulis, mewawancarai orang-orang di sekitar saya dan berhubungan dengan mereka. Dari situ saya sadar alangkah menariknya bisa bertemu dengan orang banyak, berdiskusi dan mengetahui banyak hal dari mereka. Diluar itu, saya senang musik, membaca dan traveling. Ketika kuliah, saya sering menulis pengalaman jalan-jalan saya, atau sekedar memberi referensi kaset yang sedang laris untuk koran kampus saya.”

Meski tak memberikan jawaban yang berbunga-bunga, apa yang diungkapkan Eliana tentang dirinya menunjukkan bahwa dirinya terbuka, ramah dan punya rasa ingin tahu. “Jawaban itu cerdas dan efektif untuk menggambarkan bagaimana dia menyatakan secara implisit bahwa dirinya merasa layak ditempatkan di posisi yang diincarnya. Pewawancara butuh jawaban seperti itu. Cukup singkat, tapi menunjukkan optimisme yang alamiah,” kata Erina Collins. Kalau anda dipanggil untuk wawancara, sebisanya persiapkan diri dengan baik. Rasa percaya diri dan menunjukkan bahwa anda menjadi diri sendiri adalah yang terpenting.

Pewawancara tidak butuh jawaban yang berbunga-bunga, berapi-api apalagi munafik. Pada kesempatan pertama, mereka biasanya ingin melihat bagaimana si pelamar menghargai diri sendiri. Sebab itu, buatlah beberapa poin tentang kemahiran anda, hal-hal yang anda sukai dan inginkan untuk masa depan anda. Kalau telah menemukan poin -poin itu, berlatihlah mengemukakan semua itu dalam sebuah jawaban singkat yang cerdas dan optimis.

2. Hati-hati pertanyaan jebakan

Siapapun idealnya tak suka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. Tapi begitulah kenyataannya ketika anda diwawancara. Seringkali banyak hal tak terduga yang dilontarkan si pewawancara dan membuat anda seringkali kelepasan bicara.

Dalam hal ini, Erina memberi contoh pengalamannya ketika mewawancarai seorang pelamar tentang mengapa ia memutuskan pindah kerja. “Ketika itu saya tanya ‘apa yang membuat anda memutuskan pindah kerja? tadi anda bilang, lingkungan kerjanya cukup nyaman kan?’ dan pelamar itu menjawab ‘saya tidak suka bos saya. Seringkali ia membuat saya jengkel dengan pekerjaan-pekerjaan tambahan dan itupun tidak membuat gaji saya naik.’Saya lalu berpikir, apa yang akan dia katakan jika suatu saat keluar dari perusahaan saya tentulah tak beda buruknya dengan apa yang dia ungkapkan pada saya tentang perusahaan lamanya,” ungkap Erina. Poinnya, taktislah dalam memberi jawaban.

Jangan pernah memberi jawaban yang menjelekkan tempat kerja anda yang lama atau apapun yang konotasinya negatif. Lebih baik kalau anda menjawab “saya menginginkan ritme kerja yang teratur dan terjadwal. Mengenai gaji, sebenarnya di tempat kerja yang lama tak ada masalah, tapi tentu saya senang kalau ada peluang untuk peningkatan gaji.” Atau kalau anda ditanya tentang kelemahan anda, lebih baik tidak menjawab “saya sering telat dan lupa waktu.” Tetapi jawablah lebih taktis, misalnya “kadang saya memang pelupa, tetapi beberapa waktu ini sudah membaik karena saya selalu mencatat segalanya di buku agenda.” atau “saya sering kesal kalau kerja dengan rekan yang lamban, tetapi sebisanya kami berdiskusi bagaimana caranya menyelesaikan kerja dengan lebih cepat.”

Dalam wawancara, si pewawancara selalu berupaya mengorek sedapat mungkin tentang kepribadian pelamar. Kadang pertanyaan sepele seperti “Sudah punya pacar? Ada niat menikah dalam waktu dekat?” sering ditanggapi buru-buru oleh si pelamar dengan menjawab misalnya “Sudah, rencananya kami akan menikah akhir tahun ini.” Padahal, menurut Erina, jawaban itu bisa jadi penutup peluang kerja anda. “Perusahaan selalu ingin diyakinkan bahwa calon karyawannya hanya akan fokus pada pekerjaan mereka, terutama pada awal masa kerja. Jawaban bahwa anda akan menikah dalam waktu dekat justru menunjukkan bahwa perusahaan bukanlah fokus anda yang sebenarnya, tetapi hanya seperti selingan,” ujar Erina sambil menambahkan bahwa akan lebih baik kalau anda menjawab “sudah, tapi sebenarnya saya ingin mempunyai pengalaman kerja yang cukup sebelum memutuskan untuk menikah.”

3. Semangat dan bahasa tubuh

Dalam wawancara kerja, penampilan memang bukan nomor satu tetapi menjadi pendukung yang ikut menentukan. Karena itu selain berpakaian rapi, tidak seronok, mencolok atau banyak pernik, tunjukkan bahasa tubuh yang baik. Jangan pernah melipat tangan di dada pada saat wawancara, karena memberi kesan bahwa anda seorang yang kaku dan defensif. Idealnya, tangan dibiarkan bebas untuk mengekspresikan kata-kata anda, tentu saja dengan tidak berlebihan. Selama wawancara berlangsung, buatlah kontak mata yang intens.

Pelamar yang sering membuat kontak mata menunjukkan keinginan untuk dipercaya serta kesungguhan memberikan jawaban. Rilekslah dan sesekali tersenyum untuk menunjukkan bahwa anda pribadi yang hangat. Umumnya, perusahaan menyukai pelamar yang menyenangkan. Kurangi kata-kata “saya merasa…” atau “saya kurang…” dan sebaiknya gunakan “saya pikir…”, “menurut pendapat saya..”, “saya yakin…”, “saya optimis…”.

Kata-kata “saya merasa …” atau “saya kurang…” mengesankan anda lebih sering menduga, menggunakan perasaan, tidak terlalu percaya diri dan tidak menguasai persoalan. Cara berpakaian yang baik dalam wawancara Berpakaian yang “baik” dalam wawancara memang tidak dapat digeneralisasikan karena setiap perusahaan memiliki kebiasaan-kebiasaan/budaya perusahaan yang berbeda. Namun, ada beberapa tips yang dapat diingat, antara lain: • Cari informasi terlebih dahulu tentang perusahaan dan Bapak/Ibu yang akan mewawancarai anda. Beberapa perusahaan memiliki peraturan atau “kebiasaan” berpakaian secara formal, tetapi ada juga yang semi formal, atau bahkan ada yang bebas.

Hal ini penting, agar anda tidak dilihat sebagai “orang aneh’, disesuaikan dengan posisi yang akan dilamar. Bagi pelamar pria disarankan menggunakan kemeja lengan panjang dan berdasi, tidak perlu menggunakan jas. Berpakaian rapih dan bersih, tidak kusut. Hal ini memberi kesan bahwa anda menghargai wawancara ini.

• Berpakaian dengan warna yang tidak terlalu menyolok (mis.,mengkilap,ngejreng).

• Bagi pelamar wanita berpakaian yang tidak terlalu ketat (rokbawah, kancing baju atasan).

• Berpakaian dengan disain yang simple (tidak telalu banyak pernik-pernik, toch ini bukan acara pesta).

• Tidak berlebihan dalam menggunakan wangi-wangian dan perhiasan.

Berapa gaji yang anda minta ? Bila dalam wawancara, Anda ditanya berapa gaji yang anda inginkan, bagaimana cara menjawab pertanyaan itu dengan baik tanpa menimbulkan kesan bahwa Anda pencari gaji tinggi atau memberi kesan berapapun imbalan yang diberikan Anda mau. Pada umumnya perusahaan sudah mempunyai rentang standar gaji untuk jabatan-jabatan yang ditawarkan. Bagi pelamar untuk posisi yang lebih tinggi dan langka biasanya memiliki kekuatan tawar menawar yang lebih tinggi. Jadi dalam menjawab pertanyaan tersebut anda harus memperoleh gambaran dulu imbalan total yang akan anda terima dalam setahun. Imbalan total adalah gaji dan tunjangan lain yang diberikan termasuk insentif dan bonus. Selain itu perlu ditanyakan apakah imbalan yang ditawarkan itu termasuk PPH atau netto.

Dalam menjawab pertanyaan tersebut jawablah imbalan yang anda harapkan setahun. Berdasarkan harga pasar yang sesuai untuk jabatan tersebut serta nilai tambah yang anda miliki. Jawablah dengan diplomatis: ” Saya berpendapat perusahaan ini pasti sudah mempunyai standar imbalan bagi jabatan ini. Berdasarkan pengalaman yang saya miliki dan kontribusi yang dapat saya berikan pada perusahaan ini, saya mengharapkan imbalan yang akan diberikan adalah minimal Rp. …/tahun ditambah fasilitas-fasilitas lain sesuai dengan peraturan perusahaan.

Negosiasi mengenai gaji pada saat ini tidak lagi dipandang tabu oleh sebagian besar perusahaan, namun anda diharapkan mengumpulkan informasi dulu agar dapat bernegosiasi dengan baik. Variasi pertanyaan dalam wawancara Bagi pelamar terutama bagi pemula pencari kerja perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan dihadapi.

Berikut ini kami berikan variasi-variasi pertanyaan yang kerap muncul dalam wawancara: Pertanyaan mengenai riwayat pendidikan : • Mengapa anda memilih jurusan tersebut?

• Mata pelajaran apa yang anda paling suka, jelaskan alasannya.

• Mata pelajaran apa yang kurang anda sukai, jelaskan alasannya.

• Pada tingkat pendidikan mana anda merasa paling berprestasi, mengapa?

• Apakah hasil ujian menggambarkan potensi anda, jelaskan?

• Siapakah yang membiayai studi anda?

• Bagaimana teman-teman atau guru mengambarkan mengenai diri anda?

• Dalam lingkungan macam apakah anda merasa dapat bekerja paling baik?

Pertanyaan mengenai pengalaman kerja :

• Ceritakan mengenai pengalaman kerja anda

• Bagi yang belum pernah bekerja pada umumnya diminta untuk menceritakan mengenai aktivitas ekstra kurikuler selama studi.

• Pekerjaan manakah yang paling menantang bagi anda, mohon dijelaskan.

• Pekerjaan manakah yang paling menantang bagi anda dan bagaimana anda menyelesaikan hal tersebut

• Dengan kolega macam apakah anda senang bekerja sama?

• Dengan boss macam apakah anda senang bekerja?

• Bagaimanakah anda memperlakuan anak buah anda?

Pertanyaan mengenai sasaran anda :

• Mengapa anda ingin bekerja dalam industri ini?

• Apakah yang mendorong anda melamar kepada perusahaan kami?

• Apakah yang anda inginkan dalam 5 tahun mendatang?

• Apakah yang anda inginkan dalam hidup anda?

• Apa yang anda lakukan untuk mencapai sasaran anda?

Pertanyaan mengenai organisasi yang ingin anda masuki :

• Apakah yang anda ketahui tentang organisasi yang akan anda masuki?

• Menurut anda faktor faktor sukses apa yang dibutuhkan seseorang untuk bekerja disini?

• Apakah yang anda cari dalam bekerja?

• Bagaimana anda dapat berkontribusi dalam perusahaan ini?

• Menurut anda apa visi dan misi dari organisasi ini?

Nah, siap bersaing di dunia kerja? Yang penting, persiapkan diri anda dengan baik dan jangan pernah meremehkan pertanyaan sekecil apapun dalam wawancara kerja. Selamat bersaing!

sumber: Head Hunter Team

Sebagai tindak lanjut dari hasil kajian Panitia Negara Urusan Pertambangan, maka sistem konsesi dalam pengusahaan pertambangan tidak lagi digunakan karenak dinilai memberikan hak yang terlalu luas dan terlalu kuat bagi Pemegang Konsesi, sehingga diganti dengan Kuasa Pertambangan. Maka pengusahaan pertambangan Migas dilakukan oleh Negara dan dilaksanakan hanya oleh Perusahaan 8 Negara.

Hal ini tertuang didalam UU No. 37 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan sebagai pengganti “Indische Mijn Wet” dan UU No. 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. Selanjutnya pengelolaan Migas Indonesia berada dibawah Kementrian Keuangan dengan kewenangan menunjuk kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan oleh perusahaan negara. Konsekuensinya semua pemegang konsesi pertambangan migas yaitu Shell, Stanvac dan Caltex pada saat itu beralih menjadi Kontraktor Perusahaan Negara.

Kemudian juga terjadi perubahan dalam perusahaan pertambangan negara. Berdasarkan UU No. 19 Prp. Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara dan UU No. 44 Prp. Tahun 1960, NV Niam (kepemilikan Pemerintah dan Shell) diubah menjadi PT. PERMINDO yang kemudian menjadi Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Indonesia (PT. PERTAMIN) berdasarkan PP No. 3 Tahun 1961. Menyusul PT. TMSU di Sumatera Utara juga diubah menjadi PT Perusahaan Minyak Nasional (PT. PERMINA), yang kemudian menjadi PN. PERMINA.

Pada pertengahan tahun 1960-an seluruh aset perminyakan dan gas bumi yang sudah terikat Kontrak Karya dikuasai oleh Negara yang pengelolaannya dilakukan melalui perusahaan negara yaitu PN.PERTAMIN, PN.PERMINA, dan PN.PERMIGAN. Selanjutnya PN. PERTAMIN dan PN. PERMINA menjadi PN.PERTAMINA atas dasar PP No. 27 Tahun 1968 yang kemudian berubah menjadi PERTAMINA berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, sebagai satu-satunya perusahaan negara pemegang Kuasa Pertambangan di Indonesia.

PERTAMINA sebagai “Integrated State Oil Company” mendapatkan tugas sebagai pelaksana pengusahaan pertambangan migas. Pertamina juga mendapatkan Kuasa Pertambangan yang meliputi Eksplorasi, Eksploitasi, Pemurnian dan Pengolahan, Pengangkutan serta Penjualan. Berdasarkan UU No.8 tahun 1971, PERTAMINA dapat mengadakan kerjasama dengan pihak lain dalam bentuk “Kontrak Production Sharing” dengan syarat tertentu dan berlaku setelah disetujui oleh Presiden untuk kemudian diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Syarat-syarat dalam kerjasama tersebut harus diusahakan syarat yang paling menguntungkan Negara. 9

Gambar 1. Kelembagaan Pengelolaan Migas Indonesia berdasarkan UU No.8 tahun 1971 Periode 2001 – Sekarang (BP Migas)

Pada tanggal 23 Nopember 2001 disahkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi karena Undang Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan usaha pertambangan migas baik dalam taraf nasional maupun internasional2. Dengan berlakunya UU No.22 tahun 2001 tersebut, maka terdapat ketentuan yang dinyatakan tidak berlaku lagi yaitu: 2 Perubahan UU Migas banyak dipandang sebagai liberalisasi sektor migas di Indonesia. Amandemen UU Migas merupakan paket kebijakan yang harus dilakukan oleh Indonesia sebagai syarat untuk mendapatkan bantuan dari IMF guna menghadapi krisis finansial tahun 1998.

  • Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi;
  • Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1962 tentang Penetapan PERPU No. 2 Tahun 1962 tentang Kewajiban Perusahaan Minyak Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri;
  • Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara, berikut segala perubahannya, terakhir dengan UU No. 10 Tahun 1974.
  • Segala peraturan pelaksanaan UU No. 44 Prp. Tahun 1960 dan UU No. 8 Tahun 1971.

Konsekuensi dari lahirnya UU No.22 tahun 2001 ini adalah Pemerintah sebagai Pemegang Kuasa Pertambangan. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa penguasaan atas Migas tetap berada pada Negara, namun pelaksanaannya diselenggarakan oleh Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan.

Kemudian dalam Pasal 1 angka 5, Kuasa Pertambangan adalah wewenang yang diberikan Negara kepada Pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi.

Di sinilah letak perbedaannya dengan UU No. 44 Prp. Tahun 1960 dimana yang memegang Kuasa Pertambangan adalah Perusahaan Negara yaitu Pertamina.

Konsekuensi yang kedua, kalau berdasarkan UU yang lama kegiatan usaha migas itu mencakup hulu dan hilir. Tetapi berdasarkan UU No.22 tahun 2001 kegiatan usaha migas dipisahkan antara usaha hulu dan hilir. Untuk hulu dibentuk Badan Pelaksana Migas (BP Migas) sedangkan untuk hilir dibentuk Badan Pengatur Hilir (BPH Migas). Dengan kata lain Pertamina sebagai badan usaha milik negara memiliki posisi yang sama dengan kontraktor migas lainnya.

Berdasarkan Pasal 4 ayat (3) UU No. 22 Tahun 2001, Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan membentuk Badan Pelaksana yaitu Badan yang dibentuk untuk melakukan kegiatan pengendalian di bidang Kegiatan Usaha Hulu Migas. Kegiatan Usaha Hulu Migas itu sendiri menurut Pasal 6 UU No. 22 Tahun 2001 dilaksanakan dan dikendalikan melalui Kontrak Kerja Sama.

Sedangkan Kegiatan Usaha Hilir dikendalikan dengan Izin Usaha yang intinya adalah izin kepada Badan Usaha untuk melaksanakan kegiatan Hilir dengan tujuan memperoleh keuntungan. Kegiatan Usaha Hulu dilaksanakan berdasar Kontrak Kerja Sama (KKS), dimana menurut Pasal 6 ayat (2) UU No. 22 Tahun 2001 paling sedikit memuat:

  • Kepemilikan sumber daya alam tetap di tangan Pemerintah sampai pada titik penyerahan;
  • Pengendalian manajemen operasi berada pada Badan Pelaksana;
  • Modal dan Resiko seluruhnya ditanggung Badan Usaha atau Badan Usaha Tetap.

Pembentukan Badan Pelaksana yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Usaha Hulu adalah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Dengan demikian, bila suatu badan usaha hendak mengadakan kerja sama dalam kegiatan usaha hulu migas tidak lagi berhubungan dengan Pemerintah selaku Pemegang Kuasa Pertambangan tetapi dengan Ditjen Migas dan BP Migas. Berdasarkan PP Nomor 42 Tahun 2002 tentang BP Migas, salah satu tugas BP Migas adalah melaksanakan penandatanganan 11 Kontrak Kerja Sama dengan Badan Usaha.

Gambar. Kelembagaan Pengelolaan Migas Indonesia berdasarkan UU No.22 tahun 2001

Beda UU Migas Dulu & Sekarang

Pada tahun 2001, Pemerintah telah menerbitkan Undang Undang Migas Nomor 22 tahun 2001 sebagai pengganti Undang Undang Nomor 8 tahun 1970. Tentunya, perubahan Undang-undang telah mengakibatkan perubahan yang mendasar dalam pengeloaan industri migas nasional serta kedudukan Pertamina.

Ada beberapa yang perlu dicatat mengenai perbedaan UU Migas dulu dan sekarang, diantaranya;

a) Sebelumnya hak mineral dikuasai Negara ( dengan kapital N ), sekarang dikuasai negara ( dengan n kecil yang diartikan hanya Pemerintah saja ).

b) Sebelumnya hak pertambangan dikuasai Pemerintah atas nama Negara dan didelegasikan kepada Perusahan Negara cq Pertamina, sekarang didelegasikan kepada Badan Pelaksana Migas.

c) Sebelumnya economic-right diberikan kepada Perusahan Negara ( Pertamina ), sekarang diberikan kepada Badan Pelaksana Migas.

d) Sebelumnya Pertamina adalah Badan Usaha atau korporasi, sekarang Badan Pengelola Migas adalah Badan Hukum atau bukan korporasi.

e) Sebagai konsekuensi butir d) bila terjadi tuntutan hukum, pada masa lalu yang bertanggung jawab adalah Pertamina, sekarang yang bertanggung jawab adalah Pemerintah cq Negara. Kebijakan ini bertolak belakang dengan praktik-praktik multi national corporation dimana untuk melindungi perusahaan dari tuntutan hukum mereka justru membentuk paper company, sedang kita justru melimpahkan tuntutan hukum menjadi kewajiban Pemerintah cq Negara.

f) Sebelumnya pada Kontrak Bagi Hasil, kontraktor kedudukannya di bawah Pertamina sebagai perusahaan yang dikontrak, sekarang pada Kontrak Kerja Sama kedudukan hukum kontraktor sejajar dengan Badan Pengelola Migas.

g) Sebelumnya semua ketentuan perpajakan dan bea masuk diatur dalam Undang Undang Nomor 8 tahun 1970, sekarang ketentuan tentang ketentuan perpajakan dan bea masuk diatur menurut masing – masing undang-undang.

h) Sebelumnya kepastian hukum dan kepastian operasi lebih jelas dan tegas tetapi undang-undang baru menimbulkan keraguan pada para kontraktor, sehingga investasi turun, produksi mi nyak turun 30 % dan penerimaan negara dari sektor migas sejak tahun 2001 turun.

i) Sebelumnya Pertamina masih mendapatkan penerimaan dari hasil pengelolaan Kontrak Bagi Hasil k.l. Rp 2 – 4 triliun pertahun. Sekarang penerimaan tersebut digunakan oleh Badan Pengelola Migas.

Melihat struktur hokum UU Migas No.22/2001, eksistensi Pertamina diarahkan untuk menjadi perusahaan yang terpecah-pecah menjadi berbagai anak-anak perusahaan. Hal ini mengakibatkan anak-anak perusahaan Pertamina rentan untuk privatisasi.

Sebagai perusahaan BUMN dan terbesar di Indonesia, pemerintah seharusnya membuka peluang seluas-luasnya bagi Pertamina untuk melakukan aliansi/kerjasama dengan pihak lain terutama dengan Perusahaan Minyak yang lebih maju.

Sebagai perbandingan perlu disimak langkah perusahaan minyak Malaysia Petronas yang dapat menjadi besar seperti saat ini justru karena meniru pola UU No.8/1971 dimana hingga saat ini Petronas oleh PDA 1975 (Petroleum Development Act 1975 Malaysia – mirip UU No.8/1971) tetap diberi Kuasa Pertambangan sehingga:

  1. Semua investor minyak asing (KPS) masih tetap berada di bawah pengawasan Petronas. Sedangkan di Indonesia, oleh UU 22/2001, Kuasa Pertambangan dicabut dari Pertamina. Saat ini pengawasan terhadap KPS dilakukan oleh BP Migas tidak lagi oleh Pertamina
  2. Penjualan migas bagian Negara yang berasal dari KPS, di Malaysia tetap dijual oleh Petronas. Sedangkan di Indonesia, oleh UU 22/2001, migas bagian Negara yang diperoleh dari KPS tidak bisa dijual langsung oleh BP Migas karena BP Migas bukan Badan Usaha, sehingga migas bagian Negara tersebut harus dijual oleh pihak ketiga (trader di Singapura ).
  3. Di Malaysia, tidak ada badan semacam BPH Migas (Regulator Hilir), sehingga Pemerintahlah (Ditjen Perdagangan Dalam Negeri) yang menetapkan harga jual BBM di pompa bensin sekaligus menetapkan marjin yang diperoleh oleh perusahaan minyak (termasuk perusahaan minyak asing yang menjual bensin). Harga jual yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut selalu diatas biaya dan mengacu kepada harga minyak dunia, sehingga Petronas dapat memperoleh keuntungan/marjin dari menjual BBM di dalam negeri. Sedangkan di Indonesia, harga jual BBM ditetapkan oleh Pemerintah tidak pernah memperhitungkan marjin bagi pelaku usaha (Pertamina) sehingga Pertamina tidak dapat mengakumulasi dana dari menjual BBM.