Umum


[BEKERJALAH ENGKAU SELAYAKNYA ENGKAU AKAN HIDUP 1000TAHUN LAGI]
Sekelompok alumni melakukan reuni, dan kemudian memutuskan untuk pergimengunjungi profesor favorit mereka yang sudah pensiun. Saat berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stres pada kehidupan dan pekerjaan mereka.

Profesor itu menyajikan coklat panas pada tamu-tamunya. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas di teko yang besar dan berbagai macamcangkir: porselen, gelas, kristal, dan lain-lain; sebagiannya bagus dan berharga mahal, akan tetapi sebagian lagi bentuknya biasa saja harganya murah. Ia mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut.

… Ketika mereka semua memegang secangkir coklat panas di tangan mereka, profesor yang bijak berkata, “Perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah diambil. Yang tersisa, hanyalah cangkir yang biasa dan murah. Memang, adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik. Namun,itu adalah sumber dari masalah dan stres kalian.”

“Cangkir tidak menambahkan kualitas dari coklat panas. Pada kebanyakankasus, itu hanya menambah mahal, dan bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah coklat panas, bukan cangkirnya. Tetapi secara tidak sadar kalian menginginkan cangkir yang terbaik. Lalu, kalian mulai saling melihat dan membandingkan cangkir kalian masing-masing.”

Para alumni terdiam, menyimak nasehat dari profesor.

“Sekarang pikirkan ini: Kehidupan adalah coklat panas. Pekerjaan, Uang, dan Kedudukan adalah cangkirnya. Itu hanyalah alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian miliki.”

“Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita hanya pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Tuhan sediakan bagi kita.Tuhan membuat coklat panasnya, tetapi manusia memilih cangkirnya. Orang-orang yang paling bahagia tidak memiliki semua yang terbaik. Merekahanya berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki.”

Profesor itu berhenti sejenak, menghela nafas, lalu melanjutkan, “Hiduplah dengan sederhana. Bermurah hatilah. Perhatikanlah sesama dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, silakan nikmati coklat panas kalian.”

1.USA

2.China
3.Russia
4.India
5.United Kingdom
6.France
7.Germany
8.Brazil
9.Japan
10.Turkey
11.Israel
12.South Korea
13.Italy
14.Indonesia
15.Pakistan
16.Taiwan
17.Egypt / Mesir
18.Iran
19.Mexico
20.North Korea

 

https://i1.wp.com/www.funny-football.co.uk/news/wp-content/uploads/girls_aloud.jpg

1. Perempuan adalah makhluk yang senang sekali “jajan”. Sebab, dalam nggapan mereka, toko, warung, mall, supermarket, atau pasar adalah tempat di mana mereka seolah merasa terkontrol (padahal buktina mereka sangat “lost control” di tempat itu).

2. Perempuan sangat menyukai segala hal yang bersifat “tawar-menawar”. Jadi, pertanyaan tentang ‘apakah itu dibutuhkan’ tidaklah relevan. Bagi mereka, segala sesuatu yang dijual dan ditawarkan ibarat sebuah permainan yang mengasyikkan dan adil.

3. Perempuan pada dasarnya tidak punya sesuatu untuk dipakai. jadi, jangan bertanya tentang rak baju di dalam kloset, kamu “hanya harus tidak mengerti kenapa”.

4. Perempuan butuh menangis. Dan mereka tidak akan menangis kecuali mereka tahu bahwa kamu bisa mendengarnya.

5. Perempuan akan selalu bertanya tentang sesuatu yang tidak mempunyai jawaban pasti. Ini adalah upaya mereka untuk membuatmu merasa bersalah.

6. Perempuan butuh berbicara. Jadi, mereka akan selalu ngobrol, ngomong, alis ngacapruk, karena berdiam diri atau menutup mulut sangat menyiksa bagi mereka, walaupun mereka sebenarnya tidak ada yang ingin dibicarakan.

7. Perempuan butuh untuk merasa bahwa ada orang lain yang lebih ‘buruk’ dari mereka. Itu kenapa acara-acara seperti Oprah Winfrey Show sangat sukses.

8. Perempuan tidak menginginkan seks sebesar keinginan laki-laki. Ini dikarenakan seks lebih bersifat fisik bagi laki-laki, dan bersifat emosional bagi mereka. Jadi, hanya dengan mengetahui bahwa laki-laki menginginkan seks dengan mereka, kebutuhan atau hasrat seksual mereka sudah terpenuhi.

9. Perempuan tidak menyukai serangga. Bahkan perempuan terkuat pun selalu membutuhkan laki-laki di samping mereka jika ada serangga yang muncul.

10. Perempuan tidak bisa menjaga rahasia. Sebab itu seolah mengerat mereka dari dalam. Imbasnya, mereka merasa bahwa bukanlah sebuah ‘dosa’ bila membicarakan rahasia tersebut kepada satu atau dua orang.

11. Perempuan selalu ingin tampil berkelompok di depan umum. Sebab, ini memberikan mereka kesempatan untuk menggosip.

12. Perempuan tidak pernah tahan untuk tidak menjawab telpon, apapun yang sedang mereka lakukan. Sebab mereka menganggap telpon itu sebagai pengumuman lotre dan mereka adalah pemenangnya (haha…).

13. Perempuan tidak pernah mengerti kenapa laki-laki menyukai mainan. Sedang laki-laki sangat paham bahwa mereka tidak membutuhkan ‘mainan’ lain bila perempuan punya tombol ‘on/off’.

14. Perempuan akan berpikir bahwa semua rasa ‘bir’ itu sama.

15. Perempuan akan menyimpan tiga jenis shampo yang berbeda dan dua jenis kondisioner di kamar mandi mereka.

16. Setelah perempuan mandi, jangan heran bila kamar mandi akan berbau seperti ‘hutan tropis’.

17. Perempuan tidak mengerti ‘daya tarik’ olahraga. Laki-laki akan mencari hiburan sebagai kesempatan untuk lari dari kenyataan. Sedang perempuan mencari hiburan untuk mengingatkan mereka bagaimana ’segala sesuatu’ bisa berbahaya.

18. Bila laki-laki pergi untuk 7 hari perjalanan, maka mereka akan membawa pakaian untuk lima hari dan akan memakai pakaian yang sama untuk beberapa hari. Tapi bila perempuan pergi untuk 7 hari perjalanan, maka mereka akan membawa pakaian untuk 21 hari. Ini karena mereka tidak tahu yang akan mereka rasakan apa yang mereka pakai setiap harinya.

19. Perempuan akan merapikan rambut mereka bila mau tidur.

20. Perhatikan bagaimana perempuan makan es krim, maka kamu akan tahu bagaimana mereka di tempat tidur.

21. Perempuan akan digaji (dibayar) lebih murah dibandingkan laki-laki, kecuali dalam dunia model.

22. Perempuan tidak pernah ’salah’. Dan meminta maaf adalah tugas laki-laki. Hmm.. siapa sebenarnya yang merayu adam memakan buah apel..?

23. Perempuan tidak tahu apapun soal mobil, kecuali dibutuhkan pabrik mobil untuk iklan.

24. Perempuan punya tempat tidur yang lebih baik dan tertata dibanding laki-laki. Sebab mereka berpikir dalam mimpi pun mereka akan dipuja.

25. Jumlah rata-rata barang di kamar mandi perempuan adalah 437. Laki-laki tidak akan dapat mengerti brang-barang tersebut.

26. Perempuan akan bilang bahwa mereka menyukai binatang yang lucu seperti kucing. Laki-laki juga berkata yang sama, tapi bila tidak berada di depan perempuan, ia akan menendangnya.

27. Perempuan sangat suka berbicara di telpon. Mereka bisa menginap di tempat teman selama dua minggu, lalu ketika kembali ke rumah, mereka akan menelpon teman tersebut selama 3 jam.

28. Perempuan akan merapikan stelan mereka (bersolek) bila mau keluar untuk berbelanja, menyiram tanaman, membersihkan garasi, menjawab telpon, membaca buku, atau bahkan membuka surat.

sumber: http://jasadh.wordpress.com/2009/12/28/inilah-fakta-fakta-tentang-cewek-yang-harus-diketahui-oleh-cowok/

 

“Hanya Tuhan yang boleh tindas kami, itupun kalau Ia mau”

Mungkin mahasiswa ITB zaman sekarang sudah tidak mengenal lagi cerita ini. Dan mungkin juga mahasiswa-mahasiswa kampus lainnya, ketika almameter mereka mengalami tindakan represif yang sama. Tetapi gambar adalah bukti otentik bahwa benar kampus-kampus mereka pernah mencatat sejarah yang pahit.

Jauh sebelum adanya “Gerakan Reformasi” di tahun 1998, para mahasiswa ITB di tahun 1978 telah melihat bahwa Presiden Soeharto sudah mulai keluar dari idealisme-idealisme membangun sebuah bangsa & negara dengan baik dan benar. Karena media massa saat itu sangat dikontrol oleh Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat tidak bisa mengutarakan pendapat, maka hanya mahasiswa-lah yang mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat.
Dengan bersatu-padu, seluruh mahasiswa ITB saat itu melakukan berbagai kegiatan untuk “mengkoreksi” Presiden Soeharto melalui berbagai gerakan moral seperti menerbitkan buku putih dan mogok kuliah. Buku putih berisikan data-data kajian fakta dan juga pemikiran-pemikiran untuk perbaikan bangsa. Namun gerakan moral ini akhirnya di-“gebuk” dengan kekerasan melalui operasi pendudukan kampus ITB oleh tentara dan juga para tokoh mahasiswa-mahasiswanya dipenjara di tahanan politik, misalnya di tahanan Cimahi. Panglima Kodam Siliwangi di tahun 1978 adalah Mayor Jendral Himawan Soetanto.

Beberapa tokoh-tokoh pimpinan mahasiswa saat itu antara lain Heri akhmadi, Rizal ramli, Indro Tjahjono, Irzadi mirwan (alm), Al hilal, Ramles manampang, Jusman SD, Joseph Manurung, Kemal Taruc dan banyak lagi, ikut memimpin demonstrasi dan juga menuliskan sebuah buku putih. Dari sisi dosen ada nama Wimar witoelar yang cukup vokal dalam acara-acara demonstrasi.


wimar witoelar saat itu

Inilah kisah tentang sebuah peristiwa yang pertama kali, dan mudah-mudahan terakhir dalam sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, khususnya di kampus ITB. Kisah-kisah ini dituturkan oleh para alumni ITB angkatan 1977, yang pada saat itu relatif awam dalam berpolitik, namun berada dalam pusaran politik dan menerima dampak yang paling keras :

Kisah Kiswanti – pendudukan kampus yang pertama

kisah pertama:
Saya waktu itu bergabung di unit Keluarga Donor Darah (KDD). Tempat saya tinggal di Jl Pajajaran 79 juga sempat menjadi tempat kumpul beberapa teman-teman pergerakan. Tugas saya membagi-bagikan vitamin dan makanan. Tugas ini dilakukan bersama “Laskar mahasiswi” (Laswi).

Kisah Saifi rosad – terkena popor senapan pada saat pendudukan Kampus kedua

kisah kedua:
Di awal tahun 1978, pendudukan Kampus ITB oleh tentara, terjadi dua kali. Yang pertama tidak terlalu ketat sehingga malam hari kita masih bisa masuk kampus lewat jalan samping, salah satunya seperti dari asrama di jalan Dago kemudian naik tembok dan turun sekitar Planologi.
Namun pada pendudukan kedua penjagaan lebih ketat. Di sisi timur tentara menjaga sampai di jalan menuju Dago seperti di jalan Hasanudin. Saat awal tentara masuk (siang hari) sebagian kita digiring dan didorong ke lapangan basket, waktu itu kebetulan saya berada dipinggir dan akhirnya ikut ditarik dan dibawa ke jalan Jawa. Menjelang malam hari sekitar pk 20:00 dikeluarkan lagi dan di-drop di Dago Cikapayang. Jalan Dago malam hari itu penuh sesak oleh orang.
Motor saya tertinggal di parkiran Unit Liga Film Mahasiswa & tidak bisa diambil hingga beberapa hari. Tentara Siliwangi sepertinya setengah hati melaksanakan tugasnya, saat kepala saya “terkena” gagang bedil mereka menyampaikan maaf. Sewaktu kami di jalan Jawa, mereka juga baik-baik saja. Saat makan siang di kantin sebagian mahasiswa bilang ke penjaga kantin bahwa nanti yang membayar pak komandan.
Waktu itu dibentuk sistem sel, kami menerima tugas menempel poster di tembok dan pagar di jalan atau digantung di pohon. Salah satu markas sel berada dirumah Purwo (SI) ada di jalan Banda.

Kisah Irwan natarahardja – saat pendudukan kampus yang kedua tentang Jeep Vietnam

kisah ketiga:
Pada hari kedua Pendudukan kampus yang kedua, saya ke kampus dengan ketidak-tahuan bahwa pendudukan dilakukan oleh Pasukan Kodam Brawijaya yang baru pulang dari Timtim. Saat itu saya masih mengira, kami para mahasiswa bisa “berbaikan” dengan tentara seperti pendudukan yang pertama. Ternyata, pada saat sampai di jln Ganesha di depan asrama, tengah terjadi pengejaran mahasiswa, yang sedang berjalan kaki ataupun naik motor, menggunakan “Jeep vietnam”. Istilah Jeep Vietnam adalah sebutan kami waktu itu untuk jip khusus milik tentara.
Didepan saya, terjadi adegan yang mengejutkan. Salah satu motor mahasiswa ditabrak sengaja oleh jip Vietnam tersebut dari belakang, sehingga pengemudinya terjatuh tak bergerak. Saya panik sekali dan berbalik, lalu dengan mengebut masuk ke tempat kost salah satu teman di Jl Taman Sari bawah. Sorenya saya keluar dari rumah tersebut dan mengetahui bahwa sang pengemudi sepeda motor terpaksa di rawat di RS Borromeus karena patah tangannya (saya juga lupa siapa korban itu) dan pada saat itu terdapat 3 mahasiswa yang menjadi korban dirawat inap. Mahasiswa ITB kemudian melakukan aksi mogok kuliah selama beberapa bulan alias memulai libur yang sangat panjang

Kisah Dana pamilih – kamar diacak-acak tentara pada saat pendudukan kedua

kisah keempat:
Pada pendudukan kedua, saya mendapat informasi bahwa tentara yang dikirim kali ini dari Kodam Brawidjaja yg baru pulang dari Timtim. Jadi mereka memang terkesan lebih kejam dan berjiwa perang dibanding dengan tentara dari Kodam Siliwangi yang mungkin mempunyai keterikatan emosional dengan mahasiswa/i ITB.
Sewaktu pulang dari Jakarta, & masuk tempat kost di Jalan Dago 212, saya sempat ter-kaget-kaget dan sedih melihat kamar saya bisa begitu porak poranda. Rupanya kamar saya telah diacak-acak oleh tentara.

Kisah Dewi utami – terinjak-injak oleh tentara

kisah kelima:
Aku pernah dikejar-kejar tentara sampai-sampai kakakku yang tidak sekolah di ITB-pun ikut dicari-cari dan diuber-uber dengan di-srempet mobil. Sehingga aku berdua dan kakak-ku ditampung oleh keluarga Soerono (orang tua Iwan dari Jurusan Elektro angkatan 1977) sampai 2 minggu dan baru
kemudian dengan bantuan senior-senior ITB dapat ticket kereta pulang ke Madiun untuk mengantar kakak-ku kerumah sakit.
Sebenarnya, aku tidak tahu persis kenapa aku dicari dan akan ditangkap.
Mungkin karena mereka tidak mau ada catatan orang meninggal di kampus ITB, maka aku jadi dicari-cari, bukan untuk di-interview, seperti teman-teman yang waktu itu masuk penjara, tapi mungkin hanya untuk meyakinkan bahwa aku tidak mati. Alhamdullilah, waktu itu saya hanya pingsan saja.


Penolakan Soeharto sebagai Presiden kembali di ITB, 16 Januari 1978. Dan ini berbuntut panjang pada agresi aparat keamanan masuk ke dalam kampus ITB.


Di gambar ini adalah Boulevard – jalan yang membelah kampus ITB. Terlihat tentara berada di pintu gerbang utama kampus, siap merangsek ke dalam kampus.


Digambar ini, mahasiswa di pagar betis dan dilakukan pemeriksaan KTM.


Penjagaan gerbang-gerbang kampus sejak suksesnya invasi aparat ke dalam kampus.


Pemeriksaan massal yang berujung pada penahanan beberapa mahasiswa.

* Penolakan Soeharto : 16 Januari 1978
* Agresi Militer Pertama : 1 Februari 1978
* Agresi Militer Kedua : 2 – 9 februari 1978

Sebagian orang masih mengingat kasus NKK – BKK di era 70-an ini, dikenal dengan nama Normalisasi Kehidupan Kampus. Awal dari infiltrasi kekuatan politik penguasa Orde Baru dalam struktur kehidupan kampus. Dimana adanya bentukan Senat-senat di dalam kampus oleh pemerintah untuk mengontrol kehidupan mahasiswa.

Photo lainnya dari era-70-an.

foto ekstra:

Prosesi pemakaman Rene Conrad, korban penembakan karena gesekan mahasiswa dengan militer di tahun 1970
foto ekstra:

Ibu dari Rene Conrad menunjuk Awaludin Jamin, Kapolri saat itu.
foto ekstra:

jenazah Rene Conrad
foto ekstra:

pemakaman Rene Conrad
foto ekstra:

AKSI DI JAKARTA SETELAH RENE CONRAD DITEMBAK POLISI

Rene Conrad tidak ada kaitannya dengan gerakan 78 ITB secara langsung. Almarhum adalah korban penembakan di 1970 oleh aparat keamanan, yang disinyalir adalah Taruna AKABRI Kepolisian. Namun proses hukum dialihkan ke seorang Brimob – karena isu sang Taruna Akpol adalah anak seorang Jenderal.
Kejadian tersebut memanaskan situasi, salah satu alasan di tahun-tahun kedepannya mahasiswa-mahasiwa ITB anti terhadap setiap sikap represif militer, memuncak di 1978 tersebut.

yang menjabat sbg Kapolri tahun 1978-1982 adalah Awaludin Jamin .


memang ada benarnya apabila tugas utama mahasiswa itu belajar, tapi sudah seharusnya memang mahasiswa tetap menjadi kelompok yang juga paling dekat dengan masyarakat…

Hari ini tidak nampak satu pun status FB/FS/Twitter,dll. tentang Hari Nusantara. Sedih sekali, padahal pada 13 Desember 1957 perdana menteri Ir.H. Djuanda telah melakukan terobosan besar dalam mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan & laut yang menjadi wilayah teritorial Indonesia dgn mencanangkan Deklarasi Djuanda. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, bendungan, stasiun KA, bahkan bandara. Tp trnyta qta tdk mngenalnya, karena kita telah melupakannya :”( Mari blajar lagi sejarah!)  ;-)

12462_238547933451_798268451_4334529_6124757_a

Nggak banyak generasi masa kini yang mengenal sosok Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, meski namanya sudah sangat banyak diabadikan ke dalam nama jalan, nama bendungan, nama stasiun kereta api (di Jakarta) dan bahkan nama bandar udara di kota Surabaya. Banyak tokoh-tokoh yang hidup semasanya juga berpikir yang sama bahwa dalam dua puluh tahun terakhir ini namanya tidak menjadi buah bibir generasi muda, padahal Ir. H. Djuanda Kartawidjaja telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasiona RI. Walah, jangan-jangan banyak para elit Republik ini mengalami sindrom yang sama, yaitu sama sekali tidak mengenalnya. Ironis…

Tentunya hal ini menjadi kepedulian kita bersama. Perlu diketahui, bahwa sejak masa awal kemerdekaan (1946) sampai meninggalnya 6 Nopember 1963 dalam usia 52 tahun, Ir. H. Djuanda K. selalu mendapat kepercayaan menjadi menteri dalam berbagai kabinet, bahkan ketika meninggal masih menjabat sebagai Menteri Pertama antara tahun 1959-1963, dan sebelumnya adalah Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan selama tahun 1957-1959.

Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS), tamat tahun 1924. Selanjutnya oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa yaitu Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama dia masuk ke sekolah Tinggi Teknik (Technische Hooge School) di Bandung, mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933. Semasa mudanya Djuanda hanya aktif dalam organisasi non politik yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhamadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah. Karir selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum propinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.

Ir. Djuanda oleh kalangan pers dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri.

Pada saat diangkat oleh presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Karya, Ir. Djuanda bukanlah orang partai, sehingga ‘Kabinet Karya’ ini beranggotakan para menteri yang dipilih berdasarkan keahliannya bukan berdasarkan asal partainya. Pada saat menjabat sebagai perdana menteri inilah, Ir. Djuanda harus menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang berat dan rumit. Beberpa diantarannya adalah masalah ketegangan hubungan antara presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta yang mengundurkan diri tahun 1956. Selain itu pergolakan di daerah semakin memanas dengan ketidakpuasan elit politik dan militer di daerah seperti di Sumatera barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara. Selain itu pemerintahan Djuanda juga harus mengatasi pemberontakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa barat, Aceh dan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon dan Seram, dan juga masalah provinsi Irian Barat yang masih diduduki oleh Belanda.

Sebagai perdana menteri, Djuanda memprakarsai kegiatan yang berusaha untuk menormalisasi keadaan dan menegakkan keutuhan Negara Republik Indonesia. Untuk itulah diadakan Musyawarah Nasional yang mengundang para penguasa sipil dan militer di daerah, tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap mampu memberikan masukan-masukan yang positif sesuai dengan tujuan Munas. Acara diadakan di Gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan Timur no. 56. Presiden Soekarno dan mantan Wakil Presiden Moh. Hatta juga bersedia hadir dalam acara tersebut. Kehadiran tokoh ‘dwi tunggal’ diharapkan dapat mempengaruhi para elit lokal untuk mau duduk dan bermusyawarah memecahkan berbagai masalah kebangsaan yang tengah mengancam keutuhan Negara RI. Acara Munas dimulai tanggal 10 September 1957 dan berlangsung sampai 14 September 1957.

Dalam pembukaan Munas, Ir. Djuanda menekankan pentingnya segala komponen bangsa untuk memikirkan pemecahan masalah yang membuat Negara RI berjalan tidak normal. Dengan membawa kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan golongan atau partai. Sementara itu Bung karno dan Bung Hatta mengingatkan kembali agar segenap komponen bangsa mengambil teladan dari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai jiwa yang membawa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, mengingat munas ini juga diselenggarakan di gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan No 56.
Munas ini secara umum cukup berhasil meredam ketegangan antara pusat dan daerah untuk sementara waktu. Memburuknya hubungan RI dan Belanda menimbulkan gejolak di Indonesia, sehingga terjadi kekacauan dalam pengambilalihan asset-asset milik Belanda dan ditambah lagi terjadinya ‘Peristiwa Cikini’ pada tanggal 30 Nopember 1957 yaitu peledakan granat di sekolah Cikini ketika Soekarno berkunjung ke sekolah anaknya tersebut, Soekarno selamat tetapi banyak yang tewas akibat ledakan granat tersebut. Peristiwa ini berkembang dan meningkatkan suhu politik di dalam negeri, termasuk penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Keadaan menjadi tidak stabil ketika komandan-komandan militer dibeberapa daerah meminta agar Kabinet Djuanda dibubarkan atau mengundurkan diri. Sehingga memasuki 1958 situasi pergolakan mulai memuncak dan meletus di Sumatera Barat (PRRI) dan Sulawesi Utara (Permesta).

Namun dari semua kesulitan yang dihadapi oleh Kabinet Djuanda dan juga bangsa Indonesia umumnya. Perdana menteri Djuanda ternyata mampu melakukan terobosan besar dalam upanya mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan dan laut yang menjadi wilayah territorial Indonesia dengan mencanangkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957, yang berbunyi:

”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada di bawah kedaulatan Indonesia”.

Pernyataan ini dibacakan dalam sidang Kabinet oleh Perdana menteri Djuanda sebagai landasan hukum bagi penyusunan Rancangan Undang Undang yang nantinya dipergunakan untuk menggantikan Territoriale Zee and Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939, terutama pasal 1 ayat 1 yang menyatakan wilayah territorial Indonesia hanya 3 mill diukur dari garis air rendah setiap palung. Hal ini mengakibatkan wilayah perairan antara pulau-pulau di Indonesia menjadi kantung-kantung internasional yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar, dan waktu itu banyak kapal-kapal perang Belanda yang melintasi laut-laut dalam kita menuju Irian Barat dengan memanfaatkan hukum territorial laut tahun 1939.

Penyusunan Deklarasi Djuanda yang sangat penting ini tidak terlepas dari peran. Mochtar Kusumaatmadja yang pada saat itu adalah anggota panitia rancangan Undang-undang (RUU) Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim. “Ketika RUU sedang dalam proses penyelesaian dengan menetapkan wilayah laut territorial Indonesia adalah 12 mil dari garis air rendah. Bulan oktober 1957, menteri Chaerul Saleh mendatangi saya dan mengatakan bahwa RUU tersebut tidak banyak berguna untuk menutup Laut Jawa dari pelayaran kapal-kapal asing terutama kapal perang Belanda. Mochtar kemudian menyusun draft deklarasi atas seizin Letkol Laut Pirngadi, ketua Panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dan juga Kepala Staff Operasi Angkatan Laut.” kata Mochtar.

Pada tanggal 13 Desember 1957, panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dipanggil PM. Djuanda di Pejambon, Jakarta. Letkol Pirngadi dan Mochtar kusumatmadja kemudian dipersilahkan menjelaskan peta Indonesia yang sudah menggunakan konsep laut “antara” sebagai wilayah territorial Indonesia bukan hanya 3 mil atau 12 mil dari garis air rendah. Hasil rapat kabinet kemudian memutuskan konsep yang menyatakan bahwa; ”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada dibawah kedaulatan Indonesia” diterima sebagai keputusan rapat. Kemudian keputusan ini diumumkan oleh PM Djuanda, yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda, yang memiliki arti yang strategis bagi perjuangan bangsa Indonesia untuk meningkatkan pembangunan dan memantapkan kesatuan nasionalnya. Dengan demikian wilayah laut kita dihitung 12 mil dari garis-garis dasar yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau Indonesia yang terluar, dengan demikian luas territorial Indonesia berkembang dari dua juta km2 menjadi lima juta km2.

Meskipun Deklarasi Djuanda belum diakui secara internasional, namun oleh pemerintah RI, deklarasi ini diundangkan melalui keputusan Undang-Undang/Prp No. 4/1960, bulan Februari 1960. UU ini kemudian diperkuat dengan Keputusan presiden no. 103/1963 yang menetapkan seluruh perairan Nusantara Indonesia sebagai satu lingkungan laut yang berada di bawah pengamanan Angkatan laut RI. Berbagai peraturan ini juga menimbulkan kecaman dari dunia Internasional, namun Indonesia tetap bersikukuh bahwa deklarasi Djuanda merupkan solusi yang terbaik untuk menjaga keutuhan laut Indonesia dan dipergunakan untuk kemamkmuran rakyat Indonesia.

Dalam konferensi Hukum laut PBB ke-3, Indonesia memprjuangkan konsep kesatuan kewilayahan Nasional yang meliputi wilayah darat, laut dan udara dan seluruh kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Konsep ini kemudian diakui dalam konvensi Hukum laut PBB di Montego Bay (Jamaika) pada tanggal 10 Desember 1982. Indonesia kemudian meratifikasinya dalam UU No. 17/1985 pada tanggal 31 Desember 1985. akhirnya setelah 25 tahun menunggu Deklarasi Djuanda telah diakui oleh PBB, namun baru diakui secara internasional sejak 16 Nopember 1994, setelah 60 negara meratifikasinya. Hal ini berarti butuh waktu 37 tahun sejak Deklarasi Djuanda Kesatuan Kewilayahan Indonesia diakui oleh dunia Internasional. Saat ini dengan diberlakukannya Zona Ekonomi Eksklusif sejauh 200 mil dari garis dasar perairan maka wilayah yang dapat dikelola ekonominya termasuk wilayah laut seluas delapan juta km2, enam juta km2 diantaranya adalah wilayah perairan laut. Sosok diplomat dan ahli hukum laut Indonesia yang sangat aktif memperjuangan cita-cita deklarasi Djuanda adalah selain prof. Dr, Mochtar Kusumaatmadja adalah prof. Dr. Hashim Djalal yang dengan aktif mengikuti berbagai sidang PBB tentang hukum laut, sejak tahun 1970-an sampai 1990-an. Hashim Djalal menyelesaikan gelar Doktor tentang hukum laut pada Universitas Virginia tahun 1961, karena diilhami oleh Deklarasi Djuanda. Bahkan dia juga menggagas Rancangan peraturan pemerintah temntang lalu Lintas Laut Damai Kendaraan Air Asing melalui Perairan Nusantara Indonesia, pada bulan Juli 1962, yang kemudian disetujui oleh kabinet dan dijadikan Peraturan pemerintah No. 8/1962.

Demikianlah Deklarasi Djuanda yang kita peringati setiap tanggal 13 Desember ini merupakan momentum yang dapat dijadikan refleksi sudah sejauh mana wilayah territorial darat dan laut yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita termasuk Prof. Dr. Mochtar kusumaatmadja dan Prof. Dr. Hashim Djalal dapat kita ambil semangatnya bagi pembangunan Indonesia yang lebih baik. Kehilangan Sipadan dan Ligitan, hilangnya pulau-pulau di selat Malaka akibat pengerukan pasir yang dijual ke Singapura dan masalah-masalah pulau terdepan kita yang rentan dijarah oleh pihak luar. Sudah selayaknya dalam peringatan Deklarasi Djuanda para elit sipil dan militer negeri ini selalu mengedepankan kinerjanya agar jangan sampai wilayah territorial kita berkurang karena ketidakpedulian kita terhadap territorial laut dan pulau-pulau di perbatasan dengan Negara lain. Peringtan Deklarasi Djuanda dapat dimaknai sebagai tanggung jawab setiap generasi untuk menjiwai semangat deklarasi tersebut. Maka, fahami dan dalamilah segenap ruh dan jiwa dari deklarasi itu, agar kita tidak kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak kita dan generasi setelah kita.

Naskah:

Tim Panitia Seminar dan Pameran 50 Tahun Deklarasi Djuanda. Direktorat Georgrafi Sejarah Departemen Kebudayaan & Pariwisata RI.

Disarikan oleh:
Didik Prdjoko, M.Hum dan Drs. Asep Kambali

Sumber:
I.O. Nanulaita, Ir. Haji Juanda Kartawijaya, Depdikbud, IDSN, 1980/1981

Awaloedin Djamin, ed., Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda: Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama, Jakarta, Kompas, 2001

Samurai

Toyotomi Hideyoshi adalah Shogun yang mengeluarkan aturan untuk melestarikan senjata khas kalangan samurai, yaitu dengan memberikan ketentuan pemakaian pedang Daisho (yaitu membawa sepasang pedang: Katana dan Wakizashi). Jadi hanya kalangan samurai sajalah yang diizinkan untuk memakai dua pedang. Pedang pendek dapat digunakan oleh setiap orang, sedangkan pedang panjang hanya digunakan untuk kalangan ksatria / bangsawan militer atau lebih dikenal dengan istilah golongan samurai.

Di bawah ini adalah lukisan / gambar Toyotomi Hideyoshi

Spoiler for toyotomi hideyoshi:

Ada empat kelompok strata / kelas sosial masyarakat Jepang, yaitu: samurai, petani, seniman dan pedagang / saudagar. Samurai merupakan golongan yang memegang status / strata masyarakat yang tertinggi, karena termasuk dalam golongan bangsawan, golongan militer, golongan terpelajar, penguasa, pegawai negara dan ksatria. Keturunan samurai (baik laki-laki maupun perempuan) dengan sendirinya masuk kedalam golongan bangsawan militer, tanpa memandang apakah mereka pernah mengangkat pedang atau tidak.

Namun peran samurai tidak semata-mata terbatas pada bidang militer saja. Beberapa samurai juga banyak yang menjadi cendikiawan termahsyur, ada yang berkiprah sebagai administrator sipil dan militer, seniman, pakar estetika dan bahkan seringkali dalam bidang politik. Namun semuanya dituntut untuk akrab dengan peran status mereka dalam keadaan perang.

Bagi anak-anak samurai, pelatihan untuk hidup keprajuritan yang akan mereka jalani dimulai sejak dini, bahkan sejak lahir, apabila ada tanda-tanda bahwa bayi itu nantinya kidal. Di Jepang, yang mengutamakan penyesuaian diri, tidak boleh ada orang yang kidal, kekidalan adalah suatu aib yang tidak dapat diterima. Jika ada kemungkinan seorang anak akan mengalami kekidalan maka lengan kirinya akan diikat, semua barang akan ditempatkan dalam jangkauan tangan kanan, dan segala sesuatunya akan dilakukan dan diupayakan untuk menghilangkan sifat kidal tersebut.

Antara usia tujuh dan delapan tahun, anak-anak samurai didorong untuk bersikap baik dan kooperatif terhadap rekan-rekan bermain mereka, dan diajarkan agar menjauhi sikap suka berkelahi maupun terlalu mementingkan diri sendiri. Pada usia sembilan dan sepuluh tahun, mereka lebih memusatkan perhatian kepada subjek-subjek akademis seperti belajar dan menulis. Bagian pendidikan yang serius berlangsung antara usia sepuluh dan dua belas, ketika seorang anak dapat menghabiskan waktu sampai dua belas jam sehari untuk berbagai mata pelajaran, mulai dari menekuni ilmu-ilmu abstrak, filsafat, jasmani termasuk bela diri khusunya kendo / berlatih pedang, hingga belajar alat musik. Banyak para samurai muda diantaranya yang berumur kisaran tiga belas sampai empat belas tahun yang mulai diikut sertakan dalam pertempuran / medan perang.

Spoiler for perang:


“Jalan samurai dapat ditemukan dalam kematian”, pepatah sederhana itu sering dikutip atau diungkapkan dalam karya-karya mengenai sejarah Jepang, yang menekankan konsep kewajiban para samurai. Kematian di medan laga adalah ambisi yang terhormat. Para petarung seringkali terjun ke suatu pertempuran dengan menyadari bahwa kematian tidak terelakkan. Ada sejumlah hal yang lebih buruk dan menyedihkan dibandingkan kematian, yaitu: gagal melayani tuannya dengan baik, gagal dalam menjalani misi yang diemban, atau membawa aib kepada marga, junjungan / bahkan dirinya sendiri. Jika terluka parah dalam perang, seorang samurai pada umumnya akan lebih memilih bunuh diri daripada membiarkan dirinya ditawan musuh atau mendapat malu karena menderita oleh rasa sakit yang dialaminya. Mereka beranggapan bahwa mereka toh akan mati juga, jadi bunuh diri dipandang sebagai kematian dengan cara mereka sendiri, yaitu mati dengan membawa harga diri dan kehormatan yang tetap utuh.

Cara bunuh diri yang paling banyak dipilih ialah seppuku / dikenal juga dengan harakiri. Bunuh diri menjadi pilihan dalam berbagai situasi, dan mungkin paling dikenal sebagai bentuk hukuman, selain itu bunuh diri juga merupakan cara menebus suatu kesalahan secara sepenuhnya sukarela. Biasanya ritual bunuh diri (seppuku/hara-kiri) yang resmi dilakukan dengan menggunakan wakizashi. Harakiri berasala dari Kata hara yang berarti perut dan kiri yang berarti memotong, secara harfiah berarti memotong / merobek perut. Kebiasaan harakiri ini dilakukan oleh prajurit berkelas tinggi dari kalangan samurai sebagai bukti kesetiaan. Bunuh diri yang dilakukan para samurai ini sangat menyiksa, karena si pelaku harus menunggu kematian karena kehabisan darah setelah merobek dan mengeluarkan isi perutnya.

Di bawah ini adalah ilustrasi dari ritual Harakiri/Seppuku yang dilakukan oleh Samurai :

Spoiler for harakiri:


Ada ritual khusus yang harus dilakukan oleh samurai jika ingin melakukan hara-kiri, yaitu; ia harus mandi, menggunakan jubah putih, dan makan makanan favoritnya. Namun aturan ini tidak mutlak / tidak wajib untuk dilaksanakan.

Secara aturan tradisional seharusnya ada seorang asisten / pendamping (kaishakunin) yang dipilih oleh samurai yang akan melakukan harakiri, yang siap membantu untuk memenggal kepala sang pelaku hara-kiri hingga terlepas dari batang lehernya dengan katana. Jika pelaku harakiri menjerit atau menangis kesakitan saat ia menusuk dan mengeluarkan isi perutnya, hal tersebut dianggap sangat memalukan bagi seorang samurai. Karena itu Kaishaku bertugas mengurangi penderitaan itu, mempercepat kematian dengan memenggal kepala si pelaku.

Ritual seppuku/hara-kiri yang lengkap terdiri dari dua sayatan diperut, sayatan pertama mendatar dari kiri ke kanan, melintang pada perut di bawah pusar, kemudian sayatan yang kedua mengarah keatas dari bawah pusar, hingga seluruh isi perutnya terburai keluar. Namun pada kenyataannya sebagian besar samurai hanya sempat melakukan sayatan pertama sebelum akhirnya dipenggal. Tetapi adapula samurai yang hendak membuktikan ketegarannya, dan memerintahkan pendampingnya untuk menunggu sampai sayatan kedua selesai dilakukan. Tanpa didampingi asisten, maka kematian yang lama dan menyakitkanlah yang menanti. Karena alasan inilah mereka yang tidak didampingi siapapun seringkali memotong leher sendiri setelah melakukan satu atau dua sayatan tadi.

Kaum perempuan dari golongan samuraipun melakukan bunuh diri dengan aturan dan cara tersendiri, yang dinamakan dengan ojigi. Mereka harus menusukkan belati kedalam tenggorokan, atau menghujamkannnya ke dada. Kaum perempuanpun seringkali saling membantu dalam melakukan ritual bunuh diri.

Obsesi kepada kematian (terutama bunuh diri) menegaskan keseluruhan konsep kesetiaan yang berapi-api sebagai kekuatan pemotivasi. Para samurai diharapkan untuk setia dan bersedia mengorbankan jiwa dan raga demi tuan / junjungan mereka. Apa saja yang diminta oleh sang junjungan, itulah yang menjadi tuntutan dan kewajiban untuk dilakukan. Sejarah kehidupan samurai penuh dengan kisah kesetian dan keperwiraan di hadapan maut. Perlu ditekankan bahwa kesetiaan yang sangat fanatik seperti ini hanya lazim bagi samurai yang terlahir dalam satu marga, atau yang keluarganya secara turun temurun mengabdi menjadi pengikut marga tersebut.

Dibawah ini adalah Kabuto Yoroi / jubah perang yang digunakan Samurai kelas atas / Samurai yang memiliki kedudukan tinggi, untuk bertempur di medan perang :

Spoiler for kabuto yoroi:









Kabuto Yoroi memiliki harga yang sangat mahal, biasanya dipakai oleh Komandan, Jendral atau kepala Klan. Kabuto yoroi dibuat dari lebih dari seratus piringan logam / plat logam, yang digabungkan bersama-sama. Piringan / plat tersebut diatur dan disusun secara vertikal, dan memancar, diikat dengan simpul tali, kemudian dipernis dan diberi hiasan. Kabuto yoroi ini dirancang untuk melindungi diri dari serangan liar, seperti tebasan dan tikaman pedang serta hujaman tombak, juga untuk melindungi diri dari terjangan busur panah yang biasanya datang dari berbagai arah. Selain itu kabuto yoroi ini bertujuan untuk meningkatkan gengsi dan menunjukan derajat seorang samurai di medan perang, serta untuk menakuti lawan dengan warnanya yang mengkilat dan juga dengan topeng (pelindung wajah) yang seram.

Samurai

Samurai adalah istilah untuk golongan bangsawan / perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Samurai mengalami masa kejayaannya pada zaman pertempuran, atau periode perang antar negri (dalam bahasa Jepang disebut Sengoku Jidai). Kata “samurai” berasal dari kata kerja “samorau” asal bahasa Jepang kuno, berubah menjadi “saburau” yang berarti “melayani”, dan akhirnya menjadi “samurai” yang berarti bekerja / mengabdi kepada “majikan” (tuan / junjungannya).

Istilah yang lebih tepat adalah bushi (secara harafiah: “orang bersenjata”) yang digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan untuk prajurit elit dari kalangan bangsawan. Samurai yang tidak terikat dengan klan atau tidak bekerja bekerja untuk majikan/ (daimyo) disebut ronin (secara harafiah: “orang ombak”). Golongan samurai hanya dapat dimasuki melalui kelahiran atau pengangkatan sebagai anak berdasarkan hokum. Meskipun samurai berstatus social tinggi, namun secara internal golongan samurai terbagi lagi dalam berbagai jenjang. Jenjang teratas ditempati oleh para daimyo beserta keluarga mereka, yang menikmati semua hak istimewa yang menyertai kedudukan itu. Sedangkan jenjang terendah ditempati oleh kaum ashigaru. Kaum ashigaru (secara harfiah: “kaki ringan”) adalah para serdadu pejalan kaki, laskar garda depan, pasukan bertombak, pembawa panji / bendera yang bertuliskan simbol klan. Mereka adalah prajurit rekrutan dari rakyat biasa yang biasanya golongan petani (samurai dadakan / samurai tanpa nama).

Spoiler for samurai:



Samurai dianggap sebagai golongan ksatria/ militer yang terpelajar dan memiliki derajat yang tinggi di masyarakat, namun semasa Keshogunan Tokugawa berangsur-angsur samurai kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara umumnya adalah kakitangan umum bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19, samurai dihapuskan sebagai kelas berbeda dan digantikan dengan tentara nasional yang menyerupai negara Barat. Bagaimanapun juga, sifat samurai yang ketat yang dikenal sebagai bushido masih tetap ada dalam masyarakat Jepang masa kini, sebagaimana tercermin dalam aspek cara hidup mereka yang ulet, gigih, tekun, penuh semangat dan pantang menyerah.

Berikut ini adalah contoh peraga Samurai :

Spoiler for samurai:





Samurai mengunakan beberapa macam jenis senjata, tetapi katana adalah senjata yang paling sering digunakan dan identik dengan keberadaan mereka, Katana adalah sebutan untuk bilah pedang panjang. Dalam Bushido diajarkan bahwa katana adalah roh/ jiwa dari samurai dan digambarkan bahwa seorang samurai sangat tergantung pada katana dalam setiap pertempuran. Mereka percaya bahwa katana sangat penting dalam memberi kehormatan dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan seorang samurai.

Katana biasanya dipasangkan dengan wakizashi, keduanya hanya boleh dipakai oleh golongan samurai. Kedua senjata tersebut dipakai bersama-sama disebut daisho (secara harfiah memiliki arti: pedang panjang dan pendek), dan mewakili kekuatan sosial dan kehormatan pribadi samurai. Pedang panjang dipakai untuk pertempuran terbuka, sementara yang lebih pendek dipakai sebagai senjata sampingan (side arm), lebih cocok untuk menikam, pertempuran jarak dekat, dan juga digunakan untuk seppuku/harakiri (ritual bunuh diri).

Berikut ini adalah contoh Katana :

Spoiler for katana:





Pedang Jepang terkenal diseluruh dunia karena kualitasnya. Bilahnya merupakan lapisan baja yang sangat kuat dan keras. Katana adalah pedang terbaik yang pernah ada. Pembuatan bilah pedang katana merupakan proses yang sangat panjang dan sulit, dimana satu batang logam baja yang tebal dan panas dilipat berulang-ulang. Bilah pedang yang setengah jadi lalu diserahkan kepada tukang asah dan tukang poles, sebelum dikembalikan lagi kepada si pembuat pedang untuk dilakukan proses finishing dan diberi rincian-rincian akhir beserta tanda tangan pembuatnya. Pembuatan pedang katana hingga ‘siap pakai’ bisa mencapai waktu hingga berbulan-bulan. Dari dulu pedang katana tua / antik sangat dikagumi dan dihormati, harganyapun bisa mencapai jutaan dollar. Bahkan pada sebuah museum di Jepang ada pedang yang telah berusia lebih dari 800 tahun namun hingga kini masih tampak baru dan seakan-akan baru selesai di poles.

Apabila seorang anak dari golongan samurai telah mencapai usia tiga belas tahun, ada upacara yang dikenali sebagai Genpuku. Anak laki-laki yang menjalani genpuku mendapat sebuah wakizashi (pedang pendek) dan diberi nama dewasa untuk menjadi samurai secara resmi. Ini dapat diartikan dia diberi hak untuk mengenal katana walaupun biasanya katana tersebut diikat dengan simpul tali untuk menghindari katana terhunus secara tidak sengaja. Pasangan katana dan wakizashi dikenal sebagai Daisho, yang artinya “besar dan kecil”, atau secara harfiah berarti pedang penjang dan pedang pendek.

Berikut ini adalah contoh beberapa Wakizashi :

Spoiler for wakizashi:




Daisho adalah istilah untuk sepasang pedang, yaitu; sebilah pedang panjang (Katana), dan sebilah pedang pendek (Wakizashi),yang merupakan jiwa dan identitas sebagai seorang samurai. Katana dan Wakizashi merupakan senjata yang ideal pada zaman samurai. Kesempurnaan pedang jepang sebagai senjata yang elegan, tangguh dan eksklusif dimanifestasikan oleh kecantikan kilauan baja yang menakutkan pada kilauan bilah mata pedang yang dihaluskan/ diasah dengan cermat, konon pedang tersebut diyakini sanggup untuk memotong besi atau bahkan baja. Pedang jepang dapat bertahan hingga ribuan tahun, sebagai perlambang harta warisan generasi bangsawan militer yang sangat sakral, mewah dan membanggakan. Pedang semacam ini tidak dibuat atau ditemukan pada tentara atau pada negara lain di dunia.

Berikut ini adalah contoh sepasang Katana dan Wakizashi / (Daisho) :

Spoiler for daisho:

Samurai membawa Daisho (Katana dan Wakizashi) terselip pada sebelah kiri kain sabuk/ ikat pinggangnya (obi), dengan bilah mata pedang tajam menghadap ke atas. Wakizashi/ Pedang pendek dibawa sepanjang waktu, sedangkan Katana/ Pedang panjang hanya dibawa ketika sedang bepergian. Samurai menyimpan Wakizashi di pinggiran tempat tidur pada saat sedang tidur, sedangkan Katana biasanya diletakan pada rak-khususnya.

Dibawah ini adalah contoh peraga Samurai dalam menggunakan Daisho :

Spoiler for daisho:


Laman Berikutnya »