DSLR


Indonesia Kaya Akan Pemandangan Landscape

Anda mungkin sudah banyak mengetahui bahwa negeri kita ini kaya akan pemandangan yang amat sangat indah dan pantas untuk dieksploitasi sebagai sumber fotografi landscape yang tidak akan ada habisnya. Negeri kita, Indonesia terdiri dari ribuan pulau. Maka tak heran kalau negeri ini memiliki banyak pantai indah dengan corak beragam. Mulai dari pantai berpasir putih sampai berbatu karang yang menyeramkan. Selain keindahan pantai, keindahan daratan negeri kita pun tak kalah menarik dan beragam. Sebagian besar daratan Indonesia ditutupi pepohonan, bahkan di beberapa daerah masih berupa hutan lebat. Selebihnya, daratan negeri ini dihiasi ladang-ladang pertanian. Sungguh menakjubkan, bahkan banyak dari backpacker luar negeri sering mengambil foto-foto pemandangan Indonesia untuk kemudian mereka jual dengan harga yang cukup tinggi. Nah, kemana backpacker negeri kita sendiri?Banyak yang kurang menyadari kalau kita memiliki tambang emas panorama alam yang sangat indah. Tambang emas yang tidak akan pernah habis digali dan dijelajahi seumur hidup sekalipun. Baik pemandangan daratan/lanskap (landscape), pemandangan pantai dan laut (seascape), pemandangan gunung dan dataran tinggi (mountainscape), dan pemandangan bawah laut (un­derwater world). Contoh-contoh pemandangan ini bisa Anda lihat pada kartu pos bergambar pemandangan alam Indonesia yang bisa ditemui di toko-toko. Indah dan beragam sekali bukan? Selanjutnya, yang menjadi masalah, bagaimana keindahan dan kekayaan pemandangan tersebut dapat direkam ke dalam sebuah gambar yang menawan?

Menyatu dengan Alam

Foto pemandangan yang sesungguhnya, tidak dapat dibidik dari jendela mobil yang berjalan, seperti banyak dilakukan oleh wisatawan. Karena hasilnya, hanyalah foto bidikan turis, sebuah dokumentasi perjalanan. Mengapa demikian? Jawabannya terletak pada alam yang memiliki keindahan tersendiri. Kita harus terlibat dan berusaha merasakan suatu kesatuan di dalamnya. Tak cukup hanya memandangnya saja. Fotografer harus mengenal dan menyatu dengan subjeknya, yaitu pemandangan. la harus berada di sana, merasakan sejuknya angin pagi hari, dinginnya malam atau berkeringat disengat teriknya matahari.

Membidik pemandangan sama seperti menyusun suatu komposisi musik. Anda harus merasakannya. Anda harus menikmatinya. Jika Anda tidak merasa hidup bersamanya, Anda tetap menjadi orang asing. Tidak mampu menghayati semangat dan kehidupan alam. Anda bisa merekam gambar alam, tetapi mati. Anda tidak mampu menghadirkan rekaman alam yang memiliki semangat hidup (spirit of nature).

Unsur-unsur Foto Pemandangan

Sebuah pemandangan memiliki berberapa unsur penting seperti tanah (padang, gunung), air (laut, pantai, danau, aliran sungai), tumbuhan (pepohonan, rumput), dan langit (awan, cuaca). Setiap pemandangan memiliki unsur-unsur ini dalam susunan dan proporsi berbeda. Hal inilah yang memberikan ciri khas sebuah pemandangan.

Langit (dengan penampilan awan) memiliki peranan penting bagi keseluruhan gambar. Karena langit biasanya menempati ruang gambar secara dominan. Kecerahan langit serta bentuk dan irama awan akan memberikan kesan tersendiri. Sebuah pemandangan selalu memiliki ekspresi. Bagian penting yang memberikan ekspresi adalah bentuk dan susunan awan saat itu. Perubahan alam juga menjadi bagian ekspresi sebuah pemandangan. Gejala alam seperti mendung, hujan, matahari terbit atau terbenam, bulan purnama, dan cahaya utara dapat membentuk ekspresi berbeda bagi sebuah pemandangan. Sama seperti perubahan roman wajah manusia. Sudah menjadi kewajiban seorang fotografer, memilih apa yang akan ditampilkannya, yang menjadi isi fotonya. Hal ini biasanya lebih banyak bersifat subjektif. Tetapi, fotografer haruslah jujur terhadap naluri dan perasaan pribadinya. Menghormati pandangan asli, tanpa merusak atau menambahkan unsur asing. Apalagi menggunakan trik atau manipulasi berlebihan.

Pengaruh Utama: Cahaya

Ditinjau dari sisi fotografi, perbedaan besar yang kita temui dari tempat satu dengan tempat lainnya adalah keadaan cahaya. Sumber cahaya utama di alam, matahari, memiliki sifat yang sangat khusus. Berbagai hal menarik sering kita lihat. Baik itu penduduk (people), kesenian, atau panorama indah. Seringkali, kita tidak menyadari ada sesuatu yang besar di sana, yaitu cahaya.

Cahaya menerangi subjek. la memberikan pengaruh paling kuat. Sedemikian kuatnya, ia bisa mengubah segala-galanya. Bisa mendukung kita mendapatkan bentuk gambar yang luar biasa atau sebaliknya, merusak dan sangat mengganggu. Cahaya mempengaruhi seluruh pembentukan gambar. Bukan hanya pengukuran dan keputusan pencahayaan saja, tetapi bentuk, titik pandang, komposisi, rasa kedalaman, desain dan penampilan dimensi dipengaruhinya. Cahaya jugamempunyai andil besar dalam maknadan suasanayang tampil dalam gambar. Kondisi cahaya berbeda, akan menciptakan gambar dan makna sangat berbeda, walaupun objeknya sama.

Kemampuan (Skill)

Keterampilan seorang fotografer saat membidik pemandangan, tergantung kemampuan teknis (skill) dan pengalaman pengamatan (sense) pribadinya. Saat memotret pemandangan, kita akan mengalami kesulitan bila mengandalkan trik atau berbagai teknik manipulasi. Karena, pada foto pemandangan, kita dituntut mampu merekam subjek dengan kualitas gambar sebaik-baiknya. Ini berarti, fotografer harus mampu bekerja dengan teknik kerja, peralatan dan material yang dimilikinya secermat mungkin. Semua pekerjaan harus dilakukan dengan ketelitian optimal. Setiap keteledoran, kelalaian atau ketidaktahuan akan langsung mempengaruhi pembentukan gambar.

Pencahayaan Optimal

Kemampuan utama yang harus dimiliki adalah memahami pencahayaan optimal terhadap subjek. Banyak fotografer mengabaikan hal ini. Padahal, kemampuan ini merupakan hal paling pokok dan penting dalam fotografi. Sebab, saat kita melakukan pencahayaan tersebut, kita merekam gambar. Bagaimanapun hasil gambar yang akan dibuat, ia akan sangat tergantung dari bagaimana kita mengatur dan memanfaatkan sumber pencahayaan secara optimal. Untuk mendapatkan hasil pencahayaan optimal, fotografer harus mengerti kondisi kecerahan yang dihadapinya. Kemudiaan, baru ia bisa mempertimbangkan bagaimana dia harus memutuskan pencahayaan akhir terhadap kameranya. Oleh karena itu, ia harus mahir menggunakan alat pengukur secara optimal untuk mengetahui kondisi kecerahan yang ada.

Di alam, kondisi cahaya berubah-ubah dan kondisi keseluruhan pemotretan sulit diprakirakan terlebih dahulu. Karenanya, seringkali fotografer menghadapi banyak kesulitan jika hanya mengandalkan satu alat pengukur atau satu metode pengukuran saja. Misalnya, pengukuran cahaya rata-rata (av­erage metering} melalui pengukur cahaya kamera. Sewaktu membidik foto pemandangan, penguasaan teknik-teknik pengukuran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki. Kondisi cahaya yang berbeda-beda terkadang juga harus dihadapi dengan teknik pengukuran berbeda. Misalnya, pengukuran cahaya rata-rata kamera hanya bisa bekerja cukup optimal pada kondisi kecerahan yang merata (misalnya cahaya depan). Jika terdapat perbedaan kecerahan dalam pandangan kamera, maka ketepatan hasil pengukurannya hampir pasti tidak bisa diandalkan, atau tidak bisa dipercaya lagi. Untuk hal ini, kita harus menanganinya dengan teknik pengukuran lain. Misalnya, pengukuran cahaya jatuh (incident light metering). Tetapi, pengukuran cahaya jatuh juga memiliki keterbatasan. Sebab, kita tidak bisa mengukur keseluruhan perbedaan kecerahan dari yang paling terang sampai pal­ing gelap atau kondisi cahaya khusus dimana terdapat perbedaan ekstrim antara area paling terang dengan yang paling gelap. Dalam keadaan ini, pengukuran cahaya titik (spot metering) lebih handal dipergunakan.

Masalah selanjutnya, menggunakan alat-alat pengukur tadi saat memotret bukanlah hal yang mudah. Banyak kondisi cahaya yang sering membingungkan kita, menentukan teknik pengukuran mana yang efektif. Dengan menggunakan teknik pengukuran berbeda pada suatu kondisi cahaya, kita bisa mendapatkan nilai pencahayaan yang berbeda. Atau mungkin juga, kita tetap mendapatkan nilai pencahayaan yang sama. Meskipun, kita berhadapan dengan berbagai kecerahan yang berbeda.

Hal ini memang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat. Hasil pengukuran dan keputusan pencahayaan yang efektif hanya bisa diperoleh dari pangalaman kerja yang teliti. Pengalamanlah yang akan mengajarkannya kepada kita. Bagaimana bekerja efektif. Bagaimana menghadapi berbagai kondisi cahaya. Bahkan, kondisi yang kurang menguntungkan.

Kepekaan Artistik

Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah kepekaan artistik (sense of art). Kemampuan ini juga harus diasah perlahan-lahan. Kepekaan artistik juga terbentuk dalam waktu yang cukup panjang. Melalui pengalaman, fotografer akan paham bagaimana caranya memilih dan menata berbagai bentuk (objek di alam) menjadi suatu gambar yang menawan. Bagaimana kita mengenal bentuk, ruang , dan penataannya menjadi sebuah gambar harus dipelajari juga secara bertahap. Dari hal yang paling mudah, komposisi yang kompleks, bahkan penampilan yang cenderung abstrak. Dasar untuk mendapatkan kepekaan artisik ini adalah pengamatan.

Kita harus melatihnya agar dapat melihat suatu subjek atau bentuk dari sudut pandangan yang paling menarik. Meskipun, subjek itu dalam keadaan biasa sehari-hari. Kemahiran dan kemajuan kita atas hal ini sangat tergantung diri kita masing-masing. Karena, pemilihan subjek dan pandangan terbaik terhadapnya tergantung keputusan pribadi. Kita sendiri yang melihat melalui kamera. Kita jugalah yang harus memutuskan apa yang harus ditangkap menjadi gambar. Disamping itu, hasil yang diperoleh juga tergantung pada peralatan dan sistem kerja kita sendiri. Kita bisa menggunakan karya orang lain sebagai referensi kerja. Walaupun begitu, gambar yang terbentuk pada kamera kita, sekali lagi adalah pilihan dan pertimbangan pribadi.

Sistem Kamera

Peralatan pokok memotret pemandangan adalah kamera DSLR (Digital Single-lens Reflex). Kamera ini dapat dikendalikan otomatis maupun secara secara manual. Untuk mendapatkan hasil foto yang memuaskan dan kreatif, semua proses kerja harus dilakukan secara manual. Artinya, kita mengendalikan tahap demi tahap pembentukan gambar yang diinginkan. Kamera yang dilengkapi pengukur cahaya titik akan banyak membantu. Dengannya, kita bisa mengukur perbedaan kecerahan pada beberapa area yang ada saat pemotretan. Sehingga, kita bisa mengetahui, apakah seluruh kecerahan yang ada bisa terekam dengan baik atau tidak. Jika memiliki pengukur genggam titik, maka alat ini akan sangat membantu kita menghadapi keadaan cahaya yang sulit dan membutuhkan ketelitian pengukuran. Misalnya, cahaya belakang (back­lighting).

Memilih Lensa

Pemilihan lensa tergantung pada apa yang akan ditampilkan dalam foto. Fotografer pemandangan biasanya hanya menggunakan satu atau dua lensa kesukaannya. Mereka biasanya memiliki cara pandang tertentu, baik bentuk, ruang dan kecerahan. Dengan demikian, mereka cenderung menggunakan lensa yang sama untuk berbagai macam gambarnya.

Sebenarnya tidak ada ada aturan khusus tentang penggunaan lensa untuk membidik pemandangan alam. Namun, umumnya fotografer lebih banyak menggunakan jenis lensa sudut lebar. Jenis lensa ini bisa menangkap pandangan lebih luas. Dampaknya, kebesaran serta keindahan alam akan lebih terasa. Jika kita ingin berkonsentrasi pada suatu bentuk atau detail tertentu, mungkin salah satu bagian dari bentangan alamnya atau gejolaknya, maka kita bisa menggunakan lensa panjang (telephoto lens). Ada juga fotografer pemandangan yang menggunakan lensa zoom telefoto 80-200 mm sebagai lensa favoritnya. Sewaktu memotret pemandangan, biasanya kita membutuhkan kedalaman ruang tajam yang lebih luas, atau kadang ingin menampilkan lebih banyak subjek dalam barisan atau susunan tertentu. Untuk keperluan seperti ini, kita bisa menggunakan lensa sudut lebar antara 15-28 mm. Dengan pandangan seluas kira-kira 70 – 110°, maka kita bisa menangkap susunan bentuk bentangan alam yang lebih lengkap. Alhasil, kita bisa memperoleh keindahan alam dalam perspektif lebih lengkap.

Lensa 35 mm atau 50 mm bisa juga digunakan, terutama untuk berkonsentrasi pada subjek tertentu atau memperoleh pandangan yang lebih terbatas dari pemandangan tersebut. Biasanya lensa yang sering dipakai adalah lensa sudut lebar 24 mm (super wide-angle lens) sebagai lensa utama. Melalui lensa ini, kita dapat memperoleh luas pandangan memadai, dan berkonsentrasi pada keindahan panorama secara menyeluruh. Membidik dengan lensa sudut lebar seperti ini, biasanya membutuhkan ketepatan penajaman (focusing). Karena, semua elemen-elemen gambar tampil dalam skala sangat kecil. Saking kecilnya, seringkali elemen tersebut tidak begitu jelas terlihat pada jendela bidik, apakah mereka telah mencapai penajaman yang optimal atau tidak. Lensa telefoto juga bisa memberi dampak lain terhadap pemandangan yang direkam. Melalui lensa ini, kita bisa membatasi pandangan dan berkonsentrasi pada subjek tertentu saja. Terutama pada hal-hal yang tampil unik.

Sebaiknya, kita membatasi jumlah lensa yang dibawa. Pilihlah lensa-lensa favorit yang akan digunakan saja. Membawa bermacam-macam lensa akan menjadi beban yang berat. Dan juga, akan banyak waktu terbuang untuk memperhatikan dan menjaga semua peralatan yang dibawa. Akibatnya, konsentrasi dan perhatian kita terhadap subjek menjadi berkurang.

Sistem Kamera Sedang & Besar

Jika kita ingin mendapatkan kualitas lebih baik lagi, kita bisa menggunakan sistem kamera format sedang (medium format camera). Kamera jenis ini memang didesain untuk memberikan kualitas rekaman gambar yang lebih baik lagi. Format filmnya mulai dari 6 x 4,5 cm sampai 6×12 cm. Lebih besar dari format film 35 mm (24 x 36 mm) yang digunakan pada kamera RLT. Dengan ukuran film yang lebih besar ini, maka lebih banyak detil dan gradasi warna yang mampu ditangkap. Hasilnya, gambar pun mampu tampil dengan detil dan nada warna yang lebih kaya.

Demi mendapatkan kualitas puncak (ultimate quality), mau tidak mau kita harus menggunakan kamera format besar (large format cam­era). Ukuran filmnya lebih besar dari medium format, 4×5 inci (9 x 12 cm) atau 8 x 10 inci (19 x 24 cm). Dengan ukuran film lebih besar, kemampuan pengendalian ketajaman dan pengaturan perspektif yang sempurna, maka kita bisa mendapatkan gambar dengan kualitas rekaman yang luar biasa. Setiap detil dapat direkam mendekati kesempurnaan pandangan mata kita. Sehingga, pemandangan tersebut seolah-olah pindah dan ada di hadapan kita. Banyak fotografer pemandangan yang menggunakan kamera format besar.

Tripod & Filter

Kaki tiga (tripod) merupakan salah satu perlengkapan yang perlu dibawa. Penyangga kamera ini sangat diperlukan saat memotret suasana matahari terbit atau terbenam, serta berbagai keadaan alam sekitarnya. Kondisi cahaya redup saat itu menuntut kita menggunakan kecepatan rana rendah, terutama mereka yang menggunakan lensa telefoto dengan bukaan diafragma terbatas.

Filter juga sering menjadi perlengkapan yang berguna untuk memotret pemandangan. Yang paling utama, filter polarizing, berfungsi untuk mengurangi berbagai refleksi cahaya yang tidak diinginkan. Sehingga, kita bisa memperoleh foto dengan warna-warna lebih jernih dan lebih jenuh. Seperti, memperbaiki tampilan langit menjadi lebih biru atau tampilan air yang lebih jernih di pantai. Filter lain yang juga berguna adalah filter gradasi (graduated fil­ters). Filter ini dapat menurunkan tingkat kecerahan langit, sehingga bisa direkam film secara baik. Hanya, kita harus berhati-hati memilih dan menggunakan gradasi warna. Supaya, tampilan gambar tidak menjadi aneh.

Warna atau Hitam Putih?

Anda menginginkan hasil foto yang berwarna atau hitam putih? Kita bisa menghasilkan apa saja. Hitam putih dapat menghantarkan karakter alam secara baik. Ini disebabkan, kekuatan tampilan bentuk dan gradasi nada hitam-putih tidak dipengaruhi oleh berbagai warna. Namun, untuk tampilan terbaik, kita harus memahami pemindahan berbagai warna menjadi gradasi hitam-putih lalu menyusunnya dengan serasi. Sebaiknya kita memang harus menggunakan hasil yang berwarna, dengannya kita mampu merekam warna-warna alam yang menarik. Umumnya penggunaan ISO 100 merupakan hal yang tepat, karena dengan ISO tersebut kita dapat memperoleh kecepatan rana yang tinggi, 1/60 detik bahkan bisa sampai 1/500 detik pada bukaan diagfragma f/5.6 dalam kecerahan cahaya matahari pagi atau sore.

Kesimpulan

Kita akan sulit mengharapkan foto pemandangan yang bagus hanya dengan mengandalkan kemampuan dasar memotret. Apalagi dengan menggunakan peralatan seadanya. Kondisi alam pun sulit diduga dan dimengerti. Ini berarti diperlukan kemampuan teknis, pengalaman cukup banyak, dan peralatan kerja memadai untuk menghadapi berbagai tantangan ini. Negeri kita ini kaya dengan pemandangan alam, tetapi menambangnya perlu usaha dan kerja keras. Jadi teruslah berkarya dengan segenap kemampuan dan peralatan teknis yang ada, jangan sia-siakan kekayaan alam di bumi Indonesia ini dan jadilah backpacker di negeri sendiri!

Sumber: http://goodigital.com/2011/02/landscape-photography-tips/

7. PAN

Jika Anda mengambil obyek bergerak dengan kecepatan yang rendah, gunakanlah teknik panning. Yang dimaksud dengan teknik ini adalah memberi kesan gerak pada obyek dengan mengikuti pergerakan obyek. Teknik ini mengakibatkan obyek seolah-olah diam/fokus dan latar belakang menjadi blur, sehingga menjadikan efek bergerak yang cukup dramatik. Teknik panning digunakan ketika Anda menginginkan kesan bergerak pada obyek tidak hilang.

8. Continuous Shots

Teknik ini berkaitan dengan teknik panning seperti disebutkan diatas. Untuk memperoleh gambar yang bagus dalam teknik panning, maka diperlukan continuous shots atau pengambilan gambar secara terus-menerus dengan menekan tombol shutter sehingga menghasilkan beberapa gambar yang sesuai dengan keinginan kita.

9. Bagaimana Mengambil Foto di Malam Hari

Pengambilan gambar di malam hari dapat menghasilkan obyek yang benar-benar luar biasa, tapi jika dilakukan dengan benar dan menguasai betul teknik pemotretan di malam hari. Kuasai betul teknik tersebut dan Anda akan menghasilkan gambar yang benar-benar di luar dugaan Anda.

10. Baca Buku Panduan

Jika kamera digital Anda memiliki modus operasi malam, pelajari dengan seksama untuk mendapatkan hasil terbaik melalui buku panduan yang disertakan di dalamnya.

11. Pegang Kamera dengan Mantap

Masalah yang biasa timbul bagi seorang fotografer adalah, hasil gambar yang blur/kabur. Untuk menghindari masalah ini adalah dengan memegang kamera dengan mantap, gunakan kedua tangan, siku beristirahat di dada Anda. Berusahalah untuk selalu tenang dan tidak tegang.

12. Matahari di Delakang Anda

Fotografi adalah berbicara mengenai cahaya, sehingga kita harus selalu memikirkan bagaimana obyek yang akan kita ambil dapat tercahayai dengan baik. Usahakan selalu mengambil obyek dalam posisi membelakangi matahari sehingga menghasilkan obyek yang tercahayai secara alami, dengan cahaya alami ini akan dapat memunculkan kesan warna secara natural dan kontras yang alami.

13. Tentukan Format Foto Anda

Anda dapat menentukan format foto yang ingin Anda ambil, apakah dengan format vertikal ataukah horizontal? Format vertikal menegaskan kesan ketinggian dalam gambar Anda, dan format horizontal cenderung untuk menghasilkan obyek yang bernuansa pegunungan.

14. Tambahkan Obyek

Foto lanskap dan oyek bebatuan merupakan obyek yang paling menyenangkan untuk diliput, tetapi seringkali membosankan untuk dilihat. Akan tampak lebih hidup jika dapat menambahkan obyek termasuk diri kita sendiri ke dalam gambar.

15. Pertimbangkan Berbagai Macam Gaya

Anda dapat mengambil gambar bagus, tetapi jika gambar tersebut diambil dengan gaya pemotretan yang sama tentu akan membosankan untuk dilihat bukan? Anda dapat menambahkan berbagai macam gaya,sertakan obyek pemandangan dan pemotretan orang, close up dan sudut lebar, cuaca yang baik dan cuaca buruk.

16. Tambahkan Kedalaman

Kedalaman adalah kualitas penting dari sebuah foto yang bagus. Anda tentu tidak ingin menghasilkan sebuah gambar yang datar-datar saja kan? Jika obyek Anda adalah gunung yang tampak jauh, tambahkan seseorang atau pohon di latar depan. Lensa wide angle dapat membantu Anda memperoleh perspektif ini.

17. Proporsional

Keindahan gambar sering kali kita peroleh jika kita dapat mengambil sebuah obyek sesuai dengan proporsinya.Ada sebuah teknik populer yang disebut Rule of Thirds. Anda dapat membagi frame menjadi tiga, secara horisontal dan vertikal. Sekarang tempatkan obyek Anda pada salah satu garis atau persimpangan. Menempatkan obyek dalam posisi centering akan membosankan. Gunakan Rule of untuk menambah variasi dan mendapatkan obyek yang terlihat lebih menarik.

18. Detail

Jangan terpaku menggunakan lensa wide untuk mendapatkan obyek agar dapat masuk semua ke dalam frame kita. Anda akan kehilangan perspektif yang bagus dalam hal detail. Sebaliknya gunakan lensa zoom untuk mendapatkan beberapa detail secara representatif dan mendapatkan gambar yang kuat.

Sumber: http://goodigital.com/2011/02/18-tips-untuk-memulai-belajar-fotografi-bag-2/

Mengambil foto yang baik tidak sesulit yang Anda pikirkan. Anda tidak perlu kamera yang paling mahal atau memiliki pengalaman yang banyak, hanya 18 tips sederhana berikut ini. Nikmati…!

1. Gunakan semua space atau ruang yang tersedia

Jangan takut untuk menggunakan semua ruang dalam foto Anda. Jika Anda ingin mengambil sesuatu gambar, tidak menjadi masalah untuk mengambil seluruh gambar tanpa atau sangat sedikit menunjukkan latar belakang. Jauhkan pemikiran itu dalam tindakan Anda untuk mengambil gambar.

2. Belajar

Ini adalah aspek penting untuk fotografi. Memahami bentuk dalam foto Anda. Jangan hanya  melihat suatu obyek, temukan bentuk dan sudut terbaik dari sebuah obyek, tempat belajar yang baik ada di sekitar kita dan yang terpenting adalah selalu belajar dari buku-buku fotography yang pernah ada sebagai bahan referensi Anda.

3. Motion In Your Photos

Jangan pernah bergerak jika Anda memotret obyek diam. Jika ada sesuatu yang bergerak saat Anda mencoba untuk memotret obyek alat tulis, foto Anda tidak akan berubah menjadi lebih baik, dan juga tidak akan pernah menempatkan garis horizon di tengah frame Anda.

4. Belajar Menggunakan Kontras Warna

Beberapa foto terbaik memiliki nuansa putih, abu-abu dan hitam. Anda dapat mengambil gambar yang hebat  hanya dengan satu warna pada obyek Anda, tetapi sebaiknya Anda mengambil sebuah gambar dengan kontras warna yang  jelas, dan ini dapat menjadikan Anda seorang fotografer yang besar.

5. Lebih Dekat Dengan Obyek Anda

Ini adalah salah satu kesalahan terbesar yang sering dibuat seorang fotografer, yaitu tidak mendapatkan jarak yang cukup dekat dengan sebuah obyek yang akan mereka ambil. Berusahalah untuk selalu menutup kesenjangan jarak. Anda dapat mengatur ulang kembali semua setingan dalam kamera Anda dan akan mendapatkan hasil yang terbaik, dan tidak harus selalu mem-blow up sebuah obyek dari jarak jauh.

6. Shutter Lag

Mengambil gambar bergerak seperti momen olah raga dengan kamera digital, akan menemui sebuah kesulitan yang biasanya disebabkan oleh apa yang disebut sebagai shutter lag atau jeda waktu untuk setiap pengambilan gambar. Artinya, jika Anda menekan tombol untuk mengambil sebuah gambar akan dapat memakan waktu kira-kira sampai satu detik sampai tombol rana menutup kembali. Pada saat itu, mungkin obyek sudah bergerak entah kemana atau sudah melakukan aksi yang lain, ini berarti Anda harus mengkompensasi shutter lag dengan memprediksi apa yang akan obyek Anda lakukan berikutnya. Dan Anda harus dapat mengambil foto sesaat sebelum obyek yang Anda bidik melakukan tindakan atau gerakan yang sudah Anda prediksi sebelumnya. Untuk kamera kelas profesional, Anda tidak akan menemui masalah seperti ini. (bersambung ke bag.2)

Sumber: http://goodigital.com/2011/02/18-tips/

Inilah pertarungan sengit antara dua kamera DSLR di kelas menengah untuk tahun ini. Nikon yang hadir dengan D7000 (penerus D90) melawan Canon yang mengandalkan EOS 60D (boleh dibilang penerus EOS 50D, walau dalam beberapa aspek penerus EOS 50D yang sesungguhnya adalah EOS 7D). Walau di awal saya sampaikan kalau keduanya sama bagusnya, tentu bedah fitur keduanya membuat kita penasaran kan? Yuk simak bagaimana duel raksasa kali ini.

Dilihat dari penampilan, D7000 tampak sedikit lebih kecil dibanding 60D. Perbedaan utamanya justru dari material bahan bodinya, dimana D7000 memakai magnesium alloy sedang 60D memakai polycarbonate resin (plastik). Suatu hal yang berkebalikan karena dulu D90 yang memakai plastik sedang 50D justru memakai magnesium. Keduanya memiliki desain yang mirip, terutama bagaimana penempatan mode dial dan layar LCD di bagian atas. Kamera Nikon kelas menengah memiliki tombol putar di bagian depan yang bisa diputar dengan jari telunjuk, sedang Canon selalu menempatkan tombol putar di dekat tombol shutter.

Lensa kit D7000 sedikit lebih pendek dibanding lensa kit 60D, sehingga pada perbandingan di atas 60D tampak lebih panjang. Dari gambar di atas nampak pula bahwa desain layar top LCD dari 60D tidak berbentuk persegi panjang, sementara untuk desain grip nampak D7000 lebih kecil dan sempit dibanding 60D. On-off di D7000 seperti biasa melingkari tombol shutter, sedang 60D kini menempatkan on-off di dekat mode dial di sebelah kiri.

Perbedaan utama yang nampak dari belakang adalah tata letak tombol. D7000 memiliki empat tombol yang berderet di sebelah kiri layar, sedang 60D dengan layar sistem lipatnya membuat tidak mungkin ada tombol apapun di sebelah kiri layar. Kendali putar di bagian belakang yang dioperasikan dengan jempol berbeda dalam desain, dimana 60D memakai sistem roda seperti layaknya DSLR Canon kelas profesional lainnya.

Sebelum membahas perbedaan fitur dan kinerja keduanya, ada baiknya melihat dulu ringkasan head-to-head dari D7000 dan 60D berikut ini :

Ditinjau dari sensornya, meski D7000 kalah dalam hal resolusi namun dalam kenyataan di lapangan perbedaan 16 MP dan 18 MP tidak signifikan (16 MP = 4928 x 3264 sedangkan 18 MP = 5184 x 3456). Kinerja burst keduanya juga relatif berimbang antara 5 hingga 6 fps yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Dari tabel di atas nampak keduanya juga berimbang dalam hal maksimum shutter speed dan flash sync, hanya sebagai catatan pada D7000 dengan FP mode nilai flash sync bisa dinaikkan ke 1/320 detik. Kemampuan ISO keduanya sama-sama maksimum di ISO 6400 (batas tertinggi untuk hasil foto yang masih layak) namun ISO keduanya bisa dipaksa melampaui angka tersebut dengan resiko gambar jadi jelek, sehingga rasanya ISO 12800 atau ISO 25600 semestinya tidak terlalu dibutuhkan.

Nikon D7000 di atas kertas lebih unggul soal auto fokus dan metering, dengan 39 titik AF (9 diantaranya cross type) dan 2016 piksel metering, plus 3D AF tracking yang akurat. Di lain pihak EOS 60D cuma memiliki 9 titik AF yang semuanya cross type (bahkan EOS 7D hanya punya 19 titik AF) sedang untuk metering 60D mengandalkan 63 area zona metering. Dalam dunia nyata, angka yang tinggi memang memungkinkan akurasi lebih baik, namun hasil sangat tergantung pada fotografer dan kondisi pemotretan.

Tampilan di layar LCD khususnya untuk menu sudah sangat lengkap dengan struktur menu khas Nikon untuk D7000 (list ke bawah) dan khas Canon untuk 60D (list ke kanan).

Menu D7000
Menu EOS 60D

Keunggulan utama Nikon D7000

Satu hal yang tak terbantahkan adalah kesan profesional yang dirasakan saat melihat dan memakai D7000. Bodi yang kokoh, dilindungi dengan weather seal, serta adanya dual memori slot menandakan kamera ini sanggup diandalkan oleh para profesional. Hal lainnya adalah adanya berbagai tombol dan kendali langsung yang disukai fotografer profesional.

Keunggulan utama Canon EOS 60D

Bila tujuan membeli DSLR adalah untuk dimaksimalkan dalam merekam video, maka 60D mengungguli D7000 dalam hal tersebut. Dengan layar LCD yang bisa dilipat dan diputar membuat merekam video (dan juga memotret dengan mode live-view) menjadi mudah dan nyaman. Belum lagi 60D memberi berbagai pilihan untuk resolusi video berikut frame rate-nya hingga maksimal 1920 x 1080 piksel dan 30fps. Keunggulan lain 60D terhadap D7000 adalah harga jualnya yang lumayan terpaut banyak, saat ini 60D kit dijual 11 juta sedang D7000 kit dijual 13 juta.

Kekurangan kecil Nikon D7000

Tidak ada gading yang tak retak. Beberapa hal kecil yang cukup disayangkan untuk kamera selengkap D7000 diantaranya adalah tidak ada histogram saat live view (bahkan semua kamera saku bisa melakukan ini) dan tidak menampilkan nilai ISO di viewfinder optik (sebaliknya, 60D bisa).

Kekurangan kecil Canon EOS 60D

Untuk kamera yang mewarisi semua fitur dari nama besar EOS ‘dua digit’ semestinya Canon tidak menghilangkan fitur micro AF adjust di 60D. Tanpa fitur ini, beberapa lensa yang mengalami front focus atau back focus tidak bisa dikalibrasi ulang (fitur ini ada di D7000).

Kesimpulan

Kedua kamera ini sama-sama mantap, bisa dimiliki sebagai kamera pertama anda maupun anda yang ingin upgrade (misalnya sudah punya Nikon D40/D60/D70/D80/D90/D3000/D5000 atau EOS 400D/450D/500D) namun anda yang punya 40D atau 50D lebih disarankan upgrade ke EOS 7D. Kualitas foto dan video yang dihasilkan keduanya tak perlu diragukan. Sensor keduanya sudah mampu dipakai untuk hasil cetak resolusi tinggi dan fitur videonya sudah mencukupi untuk membuat klip berkesan profesional. Kinerja keduanya juga cukup cepat, apalagi bila pemakainya bisa memaksimalkan tombol, kendali putar dan tuas yang terdapat di berbagai sisi kamera.

Nikon D7000 semestinya lebih akurat dalam urusan auto fokus dan metering, meski 60D tidak bisa dibilang kalah dalam aplikasi di lapangan. Pilihan lebih baik ditujukan dengan mengacu anggaran yang ada, rencana pemakaian kamera ke depan (lebih banyak outdoor atau hanya di studio), rencana pasangan lensa (bila membeli body-only) dan apakah anda perlu layar LCD lipat atau tidak.

Sumber: http://gaptek28.wordpress.com/2011/03/04/nikon-d7000-vs-canon-eos-60d/

Introduction

Nikon D7000 adalah kamera DSLR prosumer baru dengan sensor DXformat 16.2-megapixel. Highlights dari Nikon D7000 ini adalah termasuk kapasitas Video Full HD 1080p dengan full autofocus dan kontrol manual exposure, rentang ISO 100-25600 merupakan yang terluas dari setiap kamera Nikon DX, sistem Matrix Metering terbaru yaitu 3D 2016-pixel, mesin EXPEED 2 image – processing terbaru, 39-point Autofocus dengan sistem pelacakan 3D, 14-bit konversi analog ke digital, 6fps continous shooting, body yang anti debu dan kelembaban yang dibalut magnesium alloy, resolusi ketajaman layar yang mencapai 912k pada pada layar LCD 3 inch, serta slot memori yang dapat menampung 2 kartu sekaligus. Harga kamera ini sekarang sekitar Rp. 11.399.000 body only.

Ease of Use

Kehadiran Nikon D7000 dapat dikatakan berada diantara 2 kamera Nikon lainnya yaitu D90 dan D300s, bukan hanya dalam hal fitur dan fungsinya tetapi juga dalam hal bobotnya. Kamera ini lebih berat daripada D90 dan lebih ringan dari D300s. Pegangan tangan sebelah kanan mempunyai kemiripan dengan D300s yaitu sama-sama berlapis karet chunkier.

Lensa kit 18105mm f/3.5-5.6G ED VR terasa seimbang pada Nikon D7000, meskipun hanya memiliki mount dari plastik. Fasilitas VR (Vibration Reduction) yang disertakan pada lensa ini memiliki nilai keuntungan tersendiri, mengingat Nikon saat ini belum menawarkan fasilitas VR pada bodi kamera-kamera mereka. Lensa ini serbaguna karena rentang fokus yang dihasilkan cukup lebar yaitu antara 18-105mm, sehingga cocok untuk dipakai pada kondisi pemotretan landscape hingga zoom sekalipun.

Shutter release pada Nikon D7000 cukup tenang tanpa menimbulkan kebisingan berarti, dan telah melalui uji coba melampaui 150.000 siklus. Selain itu terdapat juga mode Quiet, yaitu ketika cermin diangkat cukup perlahan untuk mengurangi suara. Hal ini akan sedikit menambah shutter lag meskipun tidak terlalu signifikan. Dalam hal ini pihak Nikon tetap merekomendasikan penggunaan mode Quiet untuk pengambilan moment yang memang membutuhkan suasana yang sangat tenang (pengambilan gambar bayi dalam kondisi tidur) dimana problem shutter delay bukan merupakan masalah yang berarti.

Secara garis besar, keseluruhan fungsi kontrol yang terdapat pada kamera ini sangat mirip dengan pendahulunya yaitu D90. Dengan dua roda kontrol dan tombol khusus untuk mengendalikan sensivitas ISO, white balance, metering dan mode AF. Hanya tombol live view, movie dan lockable drive mode yang memang baru dan belum terdapat pada model D90. Selain itu tombol playback telah berpindah ke sebelah kiri jendela bidik. Peningkatan tampilan ini disesuaikan berdasarkan pengalaman yang telah ada dan telah diterapkan sebelumnya pada model D90.

Nikon D7000 menggunakan baterai ENEL15 baru, MH25 charger dan baterai grip MBD11, yang dapat meningkatkan kapasitas baterai tetapi tidak dapat mempercepat kinerja kamera dengan cara apapun. Kapasitas penyimpanan gambar cukup besar yaitu dengan 2 slot memory card SD / SDHC yang tersimpan dalam sebuah kompartemen yang terdapat di sebelah kanan bodi kamera. Hal ini memungkinkan Anda untuk menggunakan dua kartu secara bersamaan atau ketika kartu pertama penuh maka secara otomatis kartu ke dua akan menyimpan gambar Anda. Fasilitas dual slot memory ini memudahkan penggunaan ketika Anda hendak menyimpan model gambar RAW atau JPEG. Slot pertama dapat digunakan untuk menyimpan gambar berformat RAW dan slot kedua untuk JPEG. Hal ini juga jelas sangat memperluas kapasitas memori secara keseluruhan, dan sangat berguna ketika Anda mengambil banyak gambar dalam waktu singkat.

Nikon D7000 mengikuti model kamera DSLR umumnya, yaitu menempatkan mode dial diatas bagian kamera, yang memungkinkan Anda untuk memilih salah satu dari modus seperti Manual, Aperture Priority, Shutter Priority atau 19 mode scene yang berbeda. Tombol exposure compensation ditempatkan di sebelah tombol shutter release. Penggunannya cukup sederhana, tahan tombol ini dengan telunjuk kanan kemudian putar roda kontrol yang berada di belakang kamera dengan ibu jari Anda untuk menyesuaikan pengaturannya. Sedangkan tombol lain yang letaknya berdekatan dengan tombol ini adalah fungsi metering.

Nikon D7000 memiliki status LCD monokromatik hampir sama dengan D90, sebuah fitur prolevel yang target penggunaannya memang ditujukan bagi pengguna yang pro. Untuk sebagian besar kamera, penggunaan LCD di bagian belakang menampilkan semua menu yang terdapat di dalam kamera, tetapi untuk Nikon D7000 sebagian pengaturan kunci pada kamera ini dapat dilihat pada panel yang lebih kecil yang terletak di atas bodi kamera. Hal ini tentu menghemat pemakaian baterai.

Sensor CMOS 12 megapixel yang terdapat pada D90 telah digantikan oleh sebuah chip berukuran 16.2 megapixel (sensor yang sama seperti yang digunakan pada Sony A55). Sensor ini mampu menampilkan Live View mode, merekam video Full HD dan mengambil gambar 6fps hingga 100 gambar JPEG, terdapat peningkatan dari 4.5fps pada D90. Terdapat pula mode cleaning sensor yang dapat membersihkan partikel debu yang menempel pada sensor melalui getaran frekuensi tinggi. Anda dapat menentukan fasilitas ini melalui Menu setup, apakah Anda ingin proses pembersihan sensor berlangsung ketika shut down, start up atau opsi default kedua-duanya dijalankan. Sensor baru pada kamera ini dilengkapi dengan image processing EXPEED 2 dengan 14-bit A/D Conversion, sehingga dapat menghasilkan warna yang lebih kaya serta menghasilkan kinerja kamera secara lebih cepat.

Nikon D7000 memiliki tampilan LCD dengan resolusi 920.000 pixel dengan ukuran layar 3.0 inch. Layar tersebut bukan hanya berfungsi sebagai navigasi menu dan preview hasil foto saja, tetapi juga berfungsi untuk menampilkan status sekunder dan memberi fasilitas menampilkan sebagian menu bagi pemilik kamera DSLR entry-level yang tidak terbiasa untuk menggunakan fasilitas-fasilitas menu yang terpampang di layar LCD kamera mereka. Layar LCD ini juga dapat menampilkan menu live view baik untuk pengambilan gambar diam maupun video.

Perbedaan yang mendasar antara D90 dengan D7000 adalah cakupan bingkai, dengan cakupan yang hanya sebesar 96% pada D90 dan untuk D7000 dapat mengcover area bidik sebesar 100%. Sementara itu sistem auto focus juga telah ditingkatkan secara signifikan, dengan titik pusat secara permanen ditandai pada layar dan 39 titik fokus lainnya ditandai sebagai kotak-kotak merah. Terdapat pula 3 tanda peringatan, yang dapat mengingatkan Anda ketika Anda berada dalam mode pengambilan gambar hitam putih, baterai hampir habis atau Anda lupa menyisipkan kartu memori. D7000 memiliki 39 sensor auto focus, dimana 9 diantaranya adalah jenis cross. Sedangkan 30 titik fokus lainnya berasal dari berbagai variasi garis, sehingga akibatnya fokus hanya peka terhadap detail yang berada pada titik vertikal atau horisontal, bukan untuk keduanya. Tetapi hal ini bukan merupakan masalah yang berarti, pada prakteknya kamera masih tetap mampu mengunci fokus pada objek dengan mudah dimanapun titik fokus berada.  Perlu diketahui bahwa default area AF adalah ‘auto-area’ di sebagian besar scene mode dan exposure, termasuk juga untuk mode P, A, S dan M. Dalam mode ‘auto-area’. Anda dapat merubah titik fokus sesuai dengan keinginan Anda, apakah single point, dynamic atau 3D-tracking auto focus. Untuk single point akan memberikan kesempatan kepada Anda untuk dapat menentukan yang mana saja dari 39 titik fokus yang ingin Anda gunakan. Pada jendela bidik, akan terlihat kotak berwarna merah sebagai titik fokus Anda, untuk memilihnya dapat dilakukan dengan menekan tombol mode AF sambil menggerakkan pad empat arah, kecuali focus selector ada dalam posisi “L” (locked).

Jika Anda memilih dynamic AF, Anda juga dapat menentukan titik AF berdasarkan keinginan Anda. Tetapi kamera akan mencari titik fokus berdasarkan informasi dari sekitar titik fokus jika objek secara singkat bergerak meninggalkan titik fokus yang sudah kita tentukan tadi. Jadi intinya adalah dynamic focus merupakan suatu cara untuk dapat mengambil atau menentukan titik fokus dimana objek yang sudah ditentukan selalu dalam posisi bergerak. Anda akan dapat melihat bahwa titik fokus pada kamera akan selalu bergerak mengikuti objek. Mode ini biasanya dipakai untuk mengambil scene olahraga.

Untuk flash, kamera ini memiliki lampu kilat yang terpasang pada bodi (built-in) dengan Guide Number 12 pada ISO 100. Dalam modus otomatis, lampu kilat ini akan menyala jika kamera menganggap itu perlu. Tapi di sebagian besar exposure mode lainnya hal ini diserahkan sepenuhnya kepada fotografer, apakah akan menggunakan lampu kilat atau tidak. Lampu kilat yang terdapat dalam kamera ini dapat berfungsi sebagai sumber cahaya darurat (emergency light source) atau sebagai cahaya pengisi (fill in), tetapi dapat pula berfungsi sebagai cahaya utama (main light) terhadap 2 kelompok lampu kilat nirkabel (wireless flash units). Anda dapat men-setting built-in flash pada kamera ini menjadi master atau slave, atau Anda dapat juga memilih mode operasi TTL, Auto atau Manual. Lampu kilat eksternal yang compatible terhadap kamera ini adalah SB-900, SB-800, SB-700, SB-600 dan SB-400.

Seperti kebanyakan kamera DSLR terbaru dari Nikon dan juga produsen lain, D7000 juga menawarkan fasilitas Live View dari sensor utama. Fasilitas ini memudahkan kita untuk mengambil gambar dengan sudut yang cukup menyulitkan. Anda dapat melihat pada layar di belakang kamera sama dengan apa yang Anda lihat melalui jendela bidik, dan Anda dapat juga menghubungkan kamera melalui kabel HDMI untuk dapat dilihat pada panel LCD atau layar plasma. Terdapat sebuah persegi panjang berwarna merah yang terletak di tengah yang berfungsi sebagai fokus pada kamera. Anda dapat memindahkan kemana saja sesuai dengan fokus yang Anda inginkan.

D7000 memiliki dua mode fokus, yaitu AF Live View, AF-A dan AF-F. Keduanya menggunakan kontras untuk mendeteksi sebuah metode fokus, dengan menekan tombol rana setengahnya dan arahkan fokus ke objek untuk kemudian dapat menguncinya dengan AF-locking. Untuk mode AF-F (AF full time servo) dapat secara otomatis melacak objek terus menerus bahkan ketika objek tersebut bergerak. Mode AF-Live View bukan merupakan mode auto focus yang cepat, butuh sekitar 1 sampai 2 detik untuk mengunci fokus pada objek dengan kondisi pencahayaan yang bagus.

AF-area mode dapat dipilih berdasarkan: face-priority AF, wide-area AF, normal-area AF dan subject-tracking AF. Face-priority AF tidak memiliki masalah dalam menemukan dan melacak wajah manusia selama mereka menghadap ke arah kamera, dan sistem dapat mendeteksi hingga 35 wajah dan akan berusaha untuk tetap fokus pada objek yang paling dekat dengan kamera.

Live View pada Nikon D7000 dapat juga digunakan untuk mengambil gambar bergerak (movie). Setelah menggeser Lv switch ke kiri, kemudian secara opsional memberikan setting untuk aperture, shutter speed dan focus, Anda dapat dengan mudah mengambil video dengan menekan tombol Movie. Kamera dapat merekam secara full high-definition, wide screen video dalam resolusi 1920×1280 pixel, pada frame rate 24fps, berformat AVI dan menggunakan motion JPEG codec. Dengan menggunakan mode live view, contrast-detect AF juga dapat dilakukan selama pengambilan video berlangsung. Terdapat sedikit suara menderu ketika kamera melakukan fokus terhadap objek dan tetap terlihat terlalu lambat dalam mencari fokus untuk objek yang bergerak, dan biasanya banyak pengguna kamera ini beralih menggunakan mode fokus manual untuk mengantisipasi hal ini. Walaupun demikian, Nikon D7000 merupakan kamera DSLR pertama yang dapat melakukan fokus selama proses perekaman video berlangsung, meskipun tidak secepat kamera pesaingnya seperti Panasonic Lumic GH1/2.

Anda dapat mengatur aperture dan shutter speed dari kamera pada mode movie, meskipun kecepatan terendah yang dapat digunakan hanya 1/30 serta menambahkan exposure compensation dan AE-Lock. Suara yang dihasilkan dari built-in microphone masih bersifat mono dengan 3 tingkat sensivitas yang berbeda. Untuk dapat menghasilkan suara yang stereo dapat ditambahkan external microphone.

Ukuran maksimal sebuah video klip berkisar 2 gigabytes, mengingat setiap menitnya data yang tersimpan mencapai 100 megabytes yang berarti akan diperoleh sebuah video berdurasi sekitar 20 menit untuk kapasitas 2 gigabytes. Tetapi pihak Nikon menerapkan peraturan khusus yang berlaku di Uni Eropa, bahwa panjang maksimal clip hanya 5 menit untuk kualitas video yang high definition.

Nikon D7000 menawarkan beberapa software terintergrasi pada kamera yang berfungsi untuk meningkatkan hasil gambar yang sudah kita buat. Diantaranya adalah, post-capture D-lighting (berguna jika Anda lupa mengaktifkan Active D-Lighting sebelum mengambil gambar), red-eye correction, trimming, monochrome conversion, different filter effects, colour adjustments, image resizing, image overlay, in-camera RAW processing, quick auto retouching, straightening of crooked pictures, lens distortion correction, perspective control (reduction of keystoning, and new fish eye, miniature, colour outline and colour sketch effects. Fitur-fitur yang terdapat dalam kamera ini sangat membantu kita dalam proses pengolahan gambar, dan mungkin akan mengurangi waktu Anda untuk retouching di depan komputer dengan menggunakan software pengolah gambar yang biasa Anda gunakan.

Konektivitas yang digunakan pada kamera ini adalah USB/Video Out dan HDMI (High Definition Multimedia Interface) mini port, serta aksesori tambahan untuk mikrofon eksternal.

Conclusion

Nikon D7000 hadir mengadopsi keberhasilan D90 sebagai kamera entry level dan D300s sebagai kamera semi pro yang tentunya memiliki kelebihan yang berada di atas keduanya. Bahkan kehadiran Nikon D7000 mampu menarik hati para pecinta D300s sebagai alternatif kamera pengganti bagi mereka. Dengan sensor 16.2 megapixel merupakan kelebihan tersendiri bagi kamera ini, didukung dengan kualitas gambar yang sempurna di rentang ISO 100 – 6400 yang tanpa noise, bahkan untuk settingan ISO up to 6400, 12.800 dan 25.600 hasil yang diperoleh masih sanggup untuk dicetak meskipun untuk ukuran yang relatif lebih kecil.

Exposure, colour dan white balance semuanya dapat diandalkan, dan pilihan format gambar RAW dapat memberikan keleluasaan bagi Anda untuk bermain dengan tone warna yang baik. Mungkin satu kekurangan kecil, yaitu tidak disertakannya kontrol terhadap pengurangan noise pada kamera tetapi tetap disediakan dalam paket pembelian yaitu ViewNX 2 RAW.

Untuk fasilitas video juga sangat baik, dengan dukungan format video Full HD 1080p pada 24fps ditambah kemampuan untuk fokus secara otomatis selama proses perekaman video. Hanya saja kekurangan dalam hal ini adalah sistem AF masih berjalan lambat apalagi jika mengambil objek yang bergerak cepat. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari proses perekaman video, memang disarankan untuk pengambilan fokus secara manual.

Dengan berbagai macam fasilitas serta kelebihan yang terdapat dalam kamera ini, akan terasa sangat sulit untuk memilih antara Nikon D7000 dengan saingan utamanya yaitu Canon EOS 60D. Mode full-time AF selama perekaman video pada Nikon D7000 tidak sungguh-sungguh menciptakan perbedaan kelas dan bukan merupakan sebuah kekurangan terhadap Canon 60D yang memiliki vari-angle LCD screen. Tetapi dalam hal ini berarti Nikon D7000 memiliki sedikit kelebihan pada kualitas gambar yang bersih meskipun diambil pada ISO yang tinggi, sistem AF yang lebih halus, lebih cepat untuk proses burst shooting dan tentunya bodi kamera yang terbuat dari magnesium yang lebih tahan lama. Untuk pemilik kamera Nikon D90, memiliki kamera Nikon D7000 adalah merupakan upgrade dari kamera lama Anda dan salah satu alternatif sebelum Anda beralih untuk membeli Nikon D300s. Selamat mencoba dan merasakan hasil karya Anda yang fantastis!

Specifications

  • Lens Mount

Nikon F bayonet mount

  • Picture Angle

Effective picture angle 1.5x (Approx.) conversion factor (Nikon DX format)

  • Effective Pixels

16.2 million

  • Sensor Size

23.6 x 15.6mm

  • Image Sensor Format

DX

  • Image Sensor Type

CMOS

  • Total Pixels

16.9 million

  • Dust-Off Reference Photo

Yes

  • Image Area (pixels)

DX-format
(L) 4928 x 3264
(M) 3696 x 2448
(S) 2464 x 1632

  • File Format

NEF (RAW): lossless compressed or compressed 12 or 14 bit
JPEG: JPEG-baseline-compliant; can be selected from Size Priority and Optimal Quality
MOV

  • Picture Control

Landscape
Monochrome
Neutral
Nine User-customizable Settings
Portrait
Standard
Vivid

  • Storage Media

SD
SDHC
SDXC

  • Card Slot

2 Secure Digital (SD)

  • File System

Compliant with DCF (Design Rule for Camera File System) 2.0
DPOF (Digital Print Order Format)
EXIF 2.3 (Exchangeable Image File Format for Digital Still Cameras

  • Viewfinder

Eye-level pentaprism single-lens reflex viewfinder

  • Viewfinder Frame Coverage

100%Approx.

  • Viewfinder Magnification

0.95x Approx.

  • Viewfinder Eyepoint

19.5mm

  • Viewfinder Diopter Adjustment

-3 to +1m⁻¹

  • Focusing Screen

Type B BriteView Clear Matte Mark II with AF area brackets (grid lines can be displayed)

  • Reflex Mirror

Quick-return type

  • Depth-of-field Control

Yes

  • Lens Compatibility at a Glance***

AF-S or AF lenses fully compatible
Metering with AI lenses

  • Compatible Lenses

Type G or D AF NIKKOR: All functions supported
IX Nikkor lenses cannot be used
DX AF NIKKOR: All functions possible
AF-NIKKOR for F3AF not supported
AI-P NIKKOR: All functions supported except 3D color matrix metering II
PC Micro-NIKKOR does not support some functions
Non-CPU: Can be used in modes A and M; color matrix metering and aperture value display supported if user provides lens data (AI lenses only)
Electronic rangefinder can be used if maximum aperture is f/5.6 or faster
Other AF NIKKOR: All functions supported except 3D color matrix metering II

  • Shutter type

Electronically controlled vertical-travel focal-plane

  • Fastest Shutter Speed

1/8000 sec. in steps of 1/3
1/2
1 EV

  • Slowest Shutter Speed

30 sec. in steps of 1/3
1/2
1 EV

  • Flash Sync Speed

Up to 1/250 sec.
Synchronizes with shutter at 1/320s or slower (flash range drops at speeds between 1/250 and 1/320s)

  • Bulb Shutter Setting

Yes

  • Shutter Release Modes

Single-frame [S] mode
Continuous low-speed [CL] mode; 1-5 frames per second
Continuous high-speed [CH] mode; 6 frames per second
Live View [LV] mode
Self-timer mode

  • Continuous Shooting Options

DX-format
CH: Up to 6 frames per second
CL: Up to 5 frames per second

  • Top Continuous Shooting Speed at full resolution

6 frames per second
(CIPA guidelines)

  • Self-timer

2, 5, 10, 20 sec. Timer duration electronically controlled

  • Exposure Metering System

TTL exposure metering using 2,016-pixel RGB sensor

  • Metering Range

0 to 20 EV (Matrix or center-weighted metering at ISO 100 equivalent, f/1.4 lens, at 20°C/68°F)
2 to 20 EV (Spot metering at ISO 100 equivalent, f/1.4 lens at 20°C/68°F)

  • Exposure Meter Coupling

CPU
AI

  • Exposure Modes

Programmed Auto with flexible Program (P)
Shutter-Priority Auto (S)
Aperture-Priority Auto (A)
Manual (M)
Auto
Auto (flash off)
Advanced Scene Modes
U1 (user setting 1)
U2 (user setting 2)

  • Advanced Scene Modes

Portrait
Landscape
Close-up
Sports
Night Portrait
Night Landscape
Party / Indoor
Beach / Snow
Child
Sunset
Dusk / Dawn
Pet Portrait
Candlelight
Blossom
Autumn Colors
Food
Silhouette
High Key
Low Key

  • Exposure Compensation

±5 EV in increments of 1/3 or 1/2 EV

  • Exposure Bracketing

2 to 3 frames in steps of 1/3, 1/2, 2/3, 1 or 2 EV

  • Exposure Lock

Yes

  • Mirror Lock Up

Yes

  • ISO Sensitivity

ISO 100 – 6400
Hi-1 (ISO 12,800)
Hi-2 (ISO 25,600)

  • Lowest Standard ISO Sensitivity

100 in steps of 1/3
1/2
1 EV

  • Highest Standard ISO Sensitivity

6400 in steps of 1/3
1/2
1 EV

  • Highest Expanded ISO Sensitivity

HI-2 (ISO 25,600 equivalent)

  • Expanded ISO Sensitivity Options

Hi-1 (ISO-12,800 equivalent) in 1/3, 1/2 or 1 EV
Hi-2 (ISO 25600 equivalent)

  • Long Exposure Noise Reduction

Yes

  • High ISO Noise Reduction

Low
Normal
High
Off

  • D-Lighting Bracketing

2 or 3 exposures

  • Single-point AF Mode

Yes

  • Dynamic AF Mode

Number of AF points: 9, 21, 39 and 39 (3D-tracking)

  • Auto-area AF Mode

Yes

  • Autofocus System

Nikon Multi-CAM 4800DX autofocus sensor module with TTL phase detection
Finetuning
39 focus points (including 9 cross-type sensors)
AF-assist illuminator (range approx. 1 ft. 8in.-9 ft. 10 in.)

  • Focus Lock

AE-L/AF-L button
Half press of shutter-release button (single-point AF in AF-S)

  • Focus Modes

Single-servo AF (AF-S)
Continuous-servo (AF-C)
Auto AF-S/AF-C selection (AF-A)
Full-time Servo (AF-A) available in Live View only
Face-Priority AF
Wide area
Normal area

  • Maximum Autofocus Areas/Points

39

  • Autofocus Sensitivity

-1 to +19 EV (ISO 100, 20°C/68°F)

  • Built-in Flash

Yes

  • Flash Bracketing

2 to 3 frames in steps of 1/3, 1/2, 2/3, 1 or 2 EV

  • Built-in Flash Distance

39 (ISO 100) ft.

  • Top FP High Speed Sync

Up to 1/8000

  • Flash Control

i-TTL Balanced fill-flash, standard i-TTL flash for digital SLR

  • Flash Sync Modes

Front-curtain sync (normal)
Slow sync
Rear-curtain sync
Red-eye reduction
Red-eye reduction with slow sync

  • Flash Compensation

-3 to +1 EV in increments of 1/3 or 1/2 EV

  • Accessory Shoe

Yes

  • Nikon Creative Lighting System (CLS)

CLS Supported
Built-in flash Commander Mode

  • White Balance

Auto (2 types)
Incandescent
Fluorescent (7 types)
Direct Sunlight
Flash
Cloudy
Shade
Preset manual (up to 5 values can be stored)
Auto (TTL white balance with 2,016-pixel RGB sensor)
Fine Tune by Kelvin color temperature setting (2,500 K to 10,000K)
Seven manual modes with fine-tuning

  • White Balance Bracketing

2 or 3 exposures

  • Live View Shooting

Yes

  • Movie

Movie with sound
HD 1,920×1,080 / 24 fps
HD 1,280×720 / 24 fps
HD 1,280×720 / 30 fps
VGA 640×424 / 30 fps

  • Movie Audio

Built-in microphone, monaural
Optional external stereo mini-pin jack (3.5mm diameter)
Microphone sensitivity can be adjusted

  • Monitor Size

3.0 in. diagonal

  • Monitor Resolution

921,000 Dots

  • Monitor Type

Super Density
Wide Viewing Angle TFT-LCD

  • Monitor Angle of View

170-degree wide-viewing angle

  • Monitor Adjustments

Brightness, 7 levels

  • Virtual Horizon Camera Indicator

Yes

  • Playback Functions

Full frame
Calendar
Thumbnail (4, 9 or 72 segments)
Zoom
Movie Playback
Slideshow
Histogram display
Auto image rotation
Shooting data
Highlight point display
Sound playback

  • In-Camera Image Editing

Trim
D-Lighting
Color Balance
Image Overlay
Side-by-Side Comparison
Filter Effects
Distortion Control
Monochrome
NEF (RAW) Processing
Quick retouch
Straighten
Fisheye
Red-eye Correction
Perspective Control
Color Outline
Resize
Edit Movie
Miniature Effect

  • Image Comment

Yes

  • Interface

Hi-speed USB
NTSC
PAL
HDMI
Stereo Microphone Input
Audio/Video out

  • WiFi Functionality

Eye-Fi Compatible
FTP file transfer available and PTP/IP with optional WT-4A (IEEE 802.11 a/b/g)

  • GPS

GP-1 GPS unit

  • Save/Load Camera settings

Yes

  • My Menu

Yes with customization

  • Recent Settings

Yes

  • Supported Languages

Arabic
Chinese (Simplified and Traditional)
Danish
Dutch
English
Spanish
Finnish
French
Italian
German
Indonesian
Japanese
Korean
Polish
Portuguese
Russian
Swedish
Czech
Norweigan
Thai
Turkish

  • Date, Time and Daylight Savings Time Settings

Yes

  • World Time Setting

Yes

  • Battery

Rechargeable

  • Battery / Batteries

EN-EL15 Lithium-ion Battery

  • Battery Life (shots per charge)

1,050 shots (CIPA)

  • AC Adapter

EH-5a AC Adapter

  • Battery Charger

MH-25 Quick Charger

  • Tripod Socket

1/4 inch 20

  • Approx. Dimensions

Width 5.2 in. (132mm)
Height 4.1 in. (103mm)
Depth 3.0 in. (77mm)

  • Approx. Weight

24.3 oz. (690g)
camera body only

  • Supplied Software

ViewNX 2 CD-ROM

  • Optional Accessories

MB-D11Multi-Power Battery Pack
EH-5A AC Adapter (requires EP-5B Power Supply Connector)
CF-DC-3 Semi-soft Case
MC-DC2 Wired Remote Release
GP-1 GPS Adapter
ML-L3 Remote Controller
DK-21M Magnifying Eyepiece
DK-21C Correction Eyepieces
Camera Control Pro 2
Capture NX 2 Software

  • Supplied Accessories
  • EN-EL15 Rechargeable Li-ion Battery
  • MH-25 QuickCharger
  • DK-5 Eyepiece Cap
  • DK-21 Rubber Eyecup
  • UC-E4 USB Cable
  • EG-D2 Audio Video Cable
  • AN-DC1 Camera Strap
  • BM-11 LCD Monitor Cover
  • BF-1B Body Cap
  • BS-1 Accessory Shoe Cover
  • ViewNX 2 CD-ROM

Sumber: http://goodigital.com/2011/02/nikon-d7000-review/