Nah, sebelum terlalu jauh menjelaskan, saya ceritakan dulu yaa tentang hasil survey yang berisi satu pertanyaan, yaitu,

Berapa sih harga BBM ideal buat Indonesia?”

Sebagian besar orang pasti akan menjawab, “Kalau untuk rakyat, seharusnya yang semurah-murahnya, dong! Kita harus berani membandingkan dengan negara penghasil minyak lainnya seperti Iran atau Arab Saudi, jangan dibandingkan dengan negara2 cetek lainnya. Negara Indonesia ini kaya loh akan sumber daya alam dan sumber energi. Dan energi itu hajat hidup orang banyak, knapa harus bayar mahal?!!!”

6. Kita tidak bisa mensubsidi BBM lagi

Yeah, that’s the sh*tty fact. Dengan naiknya harga minyak dunia baru2 ini, tentu saja subsidi BBM yang harus ditanggung negara untuk mempertahankan harga BBM di negara kesatuan ini membengkak. Pengeluaran negara melonjak. Menteri BUMN dalam laporannya menyatakan bahwa uang negara sebesar 200 T telah terbuang cuma2 karena hanya membiayai orang2 yang mempunyai mobil dan motor.

Apa yang bisa rakyat Indonesia perbuat?

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Buang subsidiiii!!!!

Kalo ada 10 saja pemuda seperti ini di Indonesia

Well, beberapa kalangan bilang memang sudah seharusnya kita menghapus subsidi BBM. Mereka beralasan, kalau kita nasionalis, memang seharusnya kita rela harga energi kita menjadi mahal, membiarkan BUMN2 yang berkaitan dengannya mendapatkan keuntungan yang sebesar2nya untuk nantinya membangun infrastruktur untuk rakyat banyak.

Kayaknya penghapusan subsidi BBM disini bisa menjadi solusi untuk mengajarkan rakyat Indonesia untuk lebih menghemat energi. Otomatis ini juga bisa mengurangi subsidi pemerintah dan tidak berpengaruh besar terhadap rakyat kecil. Sembari rakyat berhemat, pemerintah berusaha secepat mungkin membenahi sarana transportasi umum. Clear kan? Ingat intinya cuma kita harus hemat energi dan Kerja! Kerja! Kerja!

Atau bisa juga menggunakan ide cemerlang hemat BBM seperti ini

Apalagi kalau SBY dan rekan kerjanya rajin mengingatkan dengan gaya prihatin khasnya bahwa negara kita sudah tidak punya uang lagi untuk mengayomi rakyat, rencana2 ini sepertinya bisa berjalan mulus tanpa di demo.

But, well, apa mau dikata, pengambil kebijakan kita emang orang berada yang tinggal di kota, jadi mereka mungkin tidak tahu bahwa solusi ini tidak bisa diterapkan, karena ada alasan ini ……

5. Harga BBM kita itu bisa murah, bisa juga mahal abis!!

Tapi, yah, apa mau dikata, pengambil kebijakan kita emang orang berada yang tinggal di kota, jadi yah, menurut mereka harga premium yang 4500 memang (terlalu) murah. Kadang2 bahkan lebih murah dari harga air mineral yang sekarang ada yang sudah sampai 6000 rupiah. BBM kita. Jadi sudah wajar kalau naik.

Lebih murni belum tentu lebih mahal lho

Tapi pernahkah Anda bayangkan bahwa harga premium di Papua bisa naik gila2an sampe 20000 rupiah?

Whaaaaaaaaatttt????????

Well, yeah, that’s the fact. Di daerah terpencil, walaupun dengan BBM subsidi, harga pasti naik karena alasan mahalnya biaya transportasi dan lain-lain yang digunakan agar si BBM sampai ke daerah itu dengan selamat. Memang di SPBU harganya normal, tapi di pengecer harganya jadi mengerikan, apalagi kalau sedang langka. Jadi, yah, harganya naik setinggi-tingginya. Nah, ntar kalo udah ga disubsidi? Bisa naik jadi berapa tuh????

Bisa ikut mejeng di wiki kita bareng negara2 ini,, sekarang Indonesia baru 0.59$/liter…

Kwik Kian Gie yang mengatakan bahwa “Minyak mentah yang berada di perut bumi Indonesia adalah milik rakyat Indonesia. Dengan demikian, minyak mentah untuk rakyatnya itu tak ada harganya[1]. Sederhananya: ibarat sebuah keluarga yang mempunyai sepetak sawah. Beras yang didapat dari sawah tersebut boleh dimakan oleh anggota keluarga tanpa harus dibeli dengan harga pasar. Pemerintah, seperti yang kita tahu, tidak berpikir seperti itu. Harga minyak yang dijual di dalam negeri jauh lebih murah daripada harga di pasar dunia. Dan selisih harganya harus dibayar oleh pemerintah. Uang inilah yang disebut subsidi.

Mana yang betul?

saya bukan pakar dan tentu bukan tempat kami untuk mempertanyakan teori pemerintah maupun teori Pak Kwik. Tapi dari perdebatan tersebut, kita melihat dua pilihan: apakah kita mau seperti Venezuela, atau seperti Norwegia?

Kok begitu?

Venezuela dan Norwegia termasuk dua negara produsen minyak terbesar di dunia. Venezuela nomor 9 terbesar dengan memproduksi 2,8 juta barel per hari, dan Norwegia nomor 10 dengan 2,78 juta barel per hari[2].

Bedanya, harga BBM dalam negeri di Venezuela termasuk yang termurah di dunia, sementara Norwegia termasuk yang termahal di dunia[3].Venezuela menjual minyak ke rakyatnya dengan harga jauh di bawah harga pasar. Sedangkan Norwegia menjual bukan hanya sesuai harga pasar, melainkan juga dipajaki tinggi sekali. Apa ini berarti pemerintah Venezuela lebih mencintai rakyatnya dibanding pemerintah Norwegia? Sebegitu teganyakah pemerintah Norwegia menindas rakyatnya sendiri? Apa gunanya negara punya minyak kalau rakyatnya harus membayar sangat mahal?

Mari kita pelajari lebih lanjut:

Di Venezuela, harga BBM yang, sangat murah memicu rakyatnya untuk makin banyak mengonsumsi minyak. Saat ini, Venezuela menghabiskan sepertiga produksinya untuk dikonsumsi sendiri[4]. Dan permintaan tersebut diproyeksikan akan terus meningkat .

Di Norwegia, harga BBM yang sangat mahal membuat rakyatnya berusaha untuk menjadi se-efisien mungkin. Logis saja: harga bensin mahal, gunakan dengan bijaksana. Akibatnya konsumsi minyak dalam negeri Norwegia termasuk rendah bila dibandingkan negara kaya lain[5]. (Per kepala, rakyat Norwegia mengonsumsi minyak 40% lebih sedikit daripada rakyat Amerika).

Semakin sedikit yang dikonsumsi sendiri, semakin banyak pulalah  yang bisa diekspor, Norwegia mengekspor minyak jauh lebih banyak daripada Venezuela. (Norwegia eksportir terbesar ke4, sementara Venezuela ke7)[6].

Hasilnya: Norwegia mengumpulkan 300 miliar dolar dari keuntungan ekspor minyaknya. Dikemanakan uang ini? Diinvestasikan lagi, sebagai tabungan pensiun. Para ahli memperkirakan, dalam sepuluh tahun, dana tersebut akan berlipat menjadi 900 miliar dolar. Bila uang ini dibagikan ke seluruh rakyat Norwegia, per kepala akan menerima 1800000 dolar[7].

Masih berpikir pemerintah Norwegia tega terhadap rakyatnya sendirinya sendiri?

Beberapa kalangan memang berkomentar tentang hal ini. Mereka berkata bahwa kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin lebar lagi dengan kenaikan BBM ini. Data statistik sudah menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikkan harga BBM maka akan terjadi kenaikkan jumlah penduduk miskin. Apabila harga BBM sekarang dinaikkan lagi, harga bahan pokok dan pelayanan jasa lainnya akan ikut naik juga. UMR rata-rata penduduk Indonesia masih rendah untuk itu.

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Ya sudah lah, gimana kalau subsidinya dialihkan ke pembangunan infrastruktur? Adil kan buat semua? Infrastruktur bagus yang paling bisa nikmatin kan rakyat kecil?

Apalagi yang mencetuskannya adalah Dahlan Iskan. Dahlan Iskan gitu. Reformator PLN! Entrepreneur yang merangkak dari kecil dan mengerti semua permasalahan Indonesia dan bisa mengatasinya dengan kekuatan lobi dan publikasinya. Yeah! Merdeka! Pasti bener!

OK OK, back to topic. Eniwei Pak Menteri bilang daripada buang2 uang 200T buat subsidi BBM, mending kita gunakan untuk pembangunan. Kasihan juga orang2 yang gk punya mobil dan motor tidak bisa ikut menikmati kekayaan Indonesia. Lebih bijaksana kalo uang tersebut kita gunakan untuk membangun infrastruktur.

Pemerintah saat ini lagi giat2nya membangun jalan tol di Sumatra, di Bali, di Kalimantan, Sulawesi, dll. Pemerintah juga lagi giat2nya membangun pembangkit listrik dimana2. Pemerintah juga lagi giat2nya membangun sarana trasportasi, bandara, dan fasilitas umum lainnya. Pemerintah memang sudah menunjukan gelagat bertanggung jawab untuk mencegah dampak negatif kalau2 kebijakan kenaikan BBM ini jadi dijalankan.

Jadi ini bisa menjadi solusi? Jadi kalo rakyat bisa berhemat pemerintah akan membuat negara kita jadi maju dengan percepatan pembangunannya???

Well, sekilas memang terlihat indah, tapi ini juga tidak bisa ternyata, kenapa? Hmm, masalah klasik sih, jangan lupa penyakit kronis bangsa kita,,,,,, yang itu lho, yang ini …..

4. Dialihkan ke infrastruktur? Preeeetttt, dikorupsi lagi pastinya

Klasik, tapi pembangunan infrastruktur memang lebih rentan korupsi daripada subsidi BBM. Dan liat aja tuh saat ini korupsi kian marak gitu. Di TV aja rame abis kasusnya Nazarrudin dan Angelina Sondakh yang membawa nama partai yang orang2nya sekarang lagi mendominasi di pemerintahan saat ini. Mulai dari pusat sampai daerah.

Pembangunan infrastruktur sangat rentan korupsi karena dari pusat sampai daerah bisa mengambil keuntungan, beda dengan subsidi BBM yang pemerintah daerah ga bisa manfaatin buat korupsi. Bank Dunia aja memperkirakan korupsi proyek infrastruktur di Indonesia mencapai 40% dari total nilai proyek. WOW! Bisa dibayangkan kan apa jadinya kalo proyek2 pembangunan ini dikorupsi lagi? Uang 200T yang biasanya buat subsidi itu mungkin nantinya yang jadi infrastruktur cuma setengahnya. Sisanya? Entah.

Yah, Keadaan negara kita memang sadis gini, bung. Jiwa-jiwa semangat anak muda yang nasionalis dimanfaatkan hanya untuk kepentingan golongan2 tertentu.

Dan saya akan prihatin lagi, lagi, dan lagi…

Saya kasih contoh saja ya seberapa mudahnya ngakalin anggaran negara buat infrastruktur, walaupun cuma denger2 dari kabar angin. Entah benar atau salah hanya teman2 yang sudah berpengalaman yang dapat berkomentar disini.

Sebagai contoh, pemda suatu daerah ingin mengadakan proyek pembangunan jalan sebesar 100 Trilyun. Dari sini pemda tersebut membayar anggaplah 10 Trilyun untuk meloloskan anggarannya tersebut di pemerintah. Iyaa kalo gk mau bayar anggarannya gk akan keluar. Emang aneh negri ini!

Dari sini pemda mengundang kontraktor2 untuk menjalankan proyek. Kontraktor yang berani membayar pemda lebih banyak dia yang menang tender, sederhana kan? Kontraktor ini juga akan mengundang sub-kontraktor lagi dengan cara yang sama. Jadi deh yang awalnya keluar proyek 100 Trilyun karena sudah dipotong 10 Trilun di awal menjadi 90 T, dan terus dipotong2 sehingga jalan yang dibangun nantinya akan jadi korban, baru setahun udah banyak lobang dimana2.

Masalah seperti ini belum beres dan belum tau gmana cara mencari solusinya tapi sudah mau mempercepat pembangunan infrastruktur? Orang2 yang berdiri di birokrasi masih sama tapi sudah mau mempercepat pembangunan infrastruktur? Apa kita gk sebaiknya tunggu saja sampai pemerintahan SBY berakhir? Masalahnya kalo nunggu itu negara kita gk kolaps nih nanti bayarin subsidi BBM kita? Terus jawabannya apa dong? KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI?

TIDAAAAKKKKKK!!!!!!!

Sayangnya ini jawaban klise. Bisa mati dulu negara kita kalau apa2 harus nunggu korupsi berhenti. Sampai Indonesia menang lawan MU 10-0 juga bakal masih ada itu korupsi. Kita harus cari cara, dong, untuk membantu rakyat kecil tapi meminimalisasi korupsi.

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Nah kalau subsidi emang ga bisa dihapus, yaudah kita efektifkan saja subsidinya, kan? Jadi subsidi benar2 buat yang membutuhkan saja. Gimana kalo kita strictly hapus subsidi untuk kendaraan pribadi???

Ide cemerlang ini! Jadi cuma kendaraan umum dan rakyat miskin yang dapat subsidi! Apalagi ada alasan konstitusional. Kita tidak bisa menghapus subsidi karena melanggar UU APBN 2012 Pasal 7 Ayat 4. Kalau mau menghapus kita harus mengubah UU dulu. Repot dan memakan waktu lama. Jadi yaudah ga usah dihapus tapi lebih difokuskan ke yang tidak mampu. Bagus kan solusinya?

Caranya bisa macem2 lagi, mulai dari mengharuskan kendaraan pribadi menggunakan Pertamax, atau memberi bantuan langsung bagi yang membutuhkan, seperti yang diusulkan oleh Pak Jero Wacik sang menteri pariwisata yang entah gimana ceritanya berubah menjadi menteri sumber daya.

Sayangnya solusi ini juga ga bisa diterapkan (iya lah ga bisa kalo bisa ga akan kita tulis di sini). Why? Ini dia sebabnya …..

3. Kita tidak bisa membatasi subsidi bagi kendaraan pribadi

Untuk yang solusi pertamax yang Pertamax (wow iramanya enak ya), kita tidak bisa membatasi subsidi BBM bagi kendaraan pribadi, setidaknya sampai Pertamina berbenah. Why? Karena mereka nggak bisa bersaing dengan pom bensin asing, teman2ku.

Kalau kalian perhatikan, harga Pertamax Pertamina selalu lebih mahal daripada bensin2 beroktan 92 lainnya dari pom bensin asing. Bukan, bukan karena korupsi. Ini karena Pertamina tidak dapat memproduksi Pertamax sendiri.

Whaaaattt?????

Yup. Selama ini Pertamina hanya mampu memproduksi 500000 kiloliter Pertamax, sedangkan Pertamax yang dipakai selama ini sudah mencapai 800000 kiloliter. Suplai tambahan sebesar 62.5% dari seluruh penjualan itu dibeli Pertamina dari luar negeri juga, makanya harganya di Pertamina selalu lebih mahal daripada misalnya Shell yang juga jual Super 92 (Pertamaxnya Shell Oil).

Kalo udah lebih mahal, jelas aja orang Indonesia pasti beli yg lebih murah di pom bensin asing. Apalagi mental bangsa kita yg emg udah suudzon sama produk dalam negeri. Dikira diakalin dan dikorupsi sehingga ga sebagus yg dari luar. Jelas banget orang2 bakal ninggalin Pertamina. Ga ada duit yg masuk kas negara deh. Berabe.

Cuma 1 pihak yg senang dengan kondisi ini. ‘Tetangga’

“Lho bos, kalo yang usul Pak Menteri yang keren tadi? Bantuan langsung? Jadi yaudah subsidi Premium dicabut tapi Pertamina bakal kasi subsidi khusus pake bantuan langsung . Oke kan? Harganya tetep bersaing jadinya.”

Nah, buat yang ini, ya jawabannya jadi sama seperti poin sebelumnya tadi, rawan korupsi. Gimana lu mau jamin bantuan langsungnya sampai ke yang benar2 membutuhkan? BLT ke rakyat kecil sama aja juga banyak bgt masalahnya.

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Well, oke, cara ini juga tidak bisa dilakukan, tapi masih ada cara lain, kan, bro? Cara2 radikal yang memberantas akarnya, gimana kalau kita bunuh penyebabnya? Kita batasi jumlah kendaraan pribadi! Kan yg buang2 BBM kendaraan pribadi kan? Yaudah kt buat sebuah aturan biar jumlah kendaraan pribadi berkurang.

Bisa jadi ga cuma Lebaran doang nih Jakarta kayak gini

Ini dia jawabannya! Untuk mengatasi membengkaknya penggunaan BBM, negara2 maju juga pake langkah drastis batasi jumlah kendaraan pribadi. Caranya banyak, mulai dari menaikkan pajak kendaraan pribadi, membatasi umur kendaraan, dan lain-lain. Pake ginian jumlah kendaraan pribadi turun, penggunaan BBM berkurang, negara tidak terbebani!

Tapi, Well, yah, udah sampe poin 5 dan poin2 sebelumnya epic fail semua, dan kalian sedang membaca postingan ini, jadi, Anda pasti tahu kemana larinya poin ini.

2. Kita tidak bisa membatasi jumlah kendaraan pribadi.

Yup, tidak bisa juga. Kali ini penyebabnya adalah sumber pemasukan kas (pejabat dan politikus) negara.

Buat yang belum tahu, Indonesia adalah SURGA bagi industri otomotif dan sepeda motor. Years of shitty mass transportation combined with people’s laziness sudah membuat rakyat negara ini sangat tergantung pada kendaraan pribadi sehingga kendaraan apapun harga berapapun pasti laku dibeli di negara ini. Walaupun sebenarnya harganya bahkan 50-120% lebih tinggi daripada di the Land of the Expensive Freedom Amerika sapisuci Serikat. Semua tetap beli karena malas naik public transport. Malas berhemat. Including us. Termasuk semua orang yang kalo di Singapore aja mau naik bis, tapi di Indon anti. Kapan mau bikin Jakarta jd kyk Singapur kalo gitu caranya? Hipokrit.

Kalo lu adalah Walikota dari Kota terkaya di dunia, tapi naik kereta TIAP HARI ga cuma pencitraan, even when there’s a BOMB threat, baru lu bisa ‘ngomong dikit’ tentang transportasi lu, cuk!

Back to topic, dengan penjualan yang sedemikian gilanya karena pajak yang luar biasa, sudah jelas sekali bahwa negara meraup untung banyak dari kegilaan industri mobil ini. Kalau negara kesatuan republik mahakorupsia kita ini meraup untung, well, sudah pasti pejabat2nya juga kan ya, sudah tradisi :D

Don’t get me wrong, ga semua pejabat mau ambil uang sampah ini. Fauzi Bowo, in his 1 and only comment in his career that deserves our standing ovations with all of our hands and legs, including the extra one, pernah mengajukan ide yang akan mengurangi jumlah kendaraan umum di Jakarta (I can’t find the godd*mn news on the net, but I’m sure I’ve read it somewhere years ago. Kalo ada yg punya link nya kirim ke kami ya ^^). Asik bgt kalo gitu pasti. Sepi dan nyaman!

Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :

Well, sadly, setelah menganalisa semua poin di atas, kita akhirnya sampai kepada kesimpulan yang mengatakan bahwa tidak ada solusi sama sekali dari permasalahan ini, karena…..

1. Kita sendiri boros BBM

Kita. Ya, kita. Saya, mereka, dan Anda sekalian. Boros banget ya kita sebenernya kalo dipikir-pikir.

“Nggak lah Bos ! Jelas2 konsumsi per kapita (orang) nya masih rendah!”

Yah, nggak dari situ lah bro liatnya. Mereka pake energi banyak buat menghasilkan produk yg lebih banyak lagi. Untuk melihat itu ada yang namanya intensitas energi dan elastisitas energi.

Intensitas energi adalah perbandingan antara jumlah konsumsi dengan Produk Domestik Bruto. Gampangnya, kita makan berapa, berapa yang keluar jadi energi, berapa yang jadi keringat & kotoran doank. Nah, untuk Indonesia, nilainya sekitar 400, atau 4x lebih besar dari Jepang! Yang berarti kita 4x lebih boros dari Jepang. Ibaratnya kita makannya sama kek Jepang, tapi kalo kita sebagian besar keluar jadi keringat & kotoran doank, sedangkan Jepang jadi energi.

Yang elastisitas energi, itu adalah perbandingan antara kenaikan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Yang ini juga sejutasetanalastopanbadai nilainya jelek banget bwt Indonesia. Untuk Indonesia angkanya sekitar 1.04, sedangkan negara maju hanya 0.55, yang berarti mereka nambah makan cuma setengah kalinya Indonesia untuk menghasilkan pertumbuhan yang sama. Ini mereka yang irit atau kita yg rakus ya??

“Kok bisa gitu, sih, ?”

Yah bisa aja, itu berarti kita pake energinya buat hal2 yang ga berguna. Di saat negara maju pake sebagian besar energinya untuk membangun Industri, kita pakenya buat having fun aja, hal2 konsumtif yg ga produktif sama sekali.

Yuhuuuuuu!!!!

Sedikit-sedikit naik mobil, sedikit-sedikit naik motor hanya untuk pergi ke tempat2 yg sebenernya bisa kita jangkau dengan jalan kaki saja (dan tidak melelahkan) atau dengan angkutan umum. Merasa pernah melakukannya? Atau mungkin pernah melihat keluarga yg seluruh anggota keluarganya memiliki kendaraan bermotor masing-masing? Entah itu motor atau mobil? Bahkan untuk anggota2 keluarga yg masih di bawah umur?

Okay, kalau yg di atas itu tidak, sadarkah kita bahwa kita seringkali tidak hemat listrik? Membiarkan lampu menyala saat tidak diperlukan, memanaskan makanan dengan microwave, terlalu sering menonton TV dan ditonton TV, menggunakan komputer untuk melakukan hal2 yg kurang esensial (ya, contohnya seperti yg Anda lakukan saat ini).

Kalo Anda bertanya apa hubungannya listrik dan bbm, ya jelas karena biaya pembangkitan listrik di Indonesia sebagian besar masih utk membeli BBM untuk pembangkit listrik tenaga diesel. Dan yg namanya diesel oil itu BBM. Saat Anda boros listrik, pada detik yg sama Anda sudah memboroskan BBM negeri ini juga.

Dan sadarilah bahwa produksi BBM oleh perusahaan minyak kebanggaan Negara Kesatuan Republik ini tidak cukup untuk memenuhi konsumsi rakyat negeri ini. Makin boros kita, makin banyak kita beli BBM dari luar. Dan ketika permintaan makin banyak, menurut Adam Smith, harga yg ditawarkan akan makin tinggi.

Dan kita yang ga mau ngurangin borosnya pemakaian energi kita, jelas aja bakal terus ngemis2 pemerintah biar tetap mensubsidi BBM. Which brings us back to our first point. Pelik ya? Muter2. Lingkaran setan. Yang membawa kita kepada realitas, bahwa masalah ini kayaknya ga bisa selesai, which shows that are really doomed, my friends. 

Oh Sh*t. Kayaknya emang gitu, deh.

So, cos there’s nothing you can/want to do, then just sit back, relax, check your facebook status every minute and buy 1 car for each family member, ride them with pride while watching the world burn, my friends. Yah, paling nggak, dengan boros dan santainya kita, kita masih dapet kebanggaan jadi negara paling bahagia di dunia. Seriously. It’s a survey by foreign journalists you so trust.

GREAT.