Sebagai atasan, Anda tak saja dituntut profesional menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi kewajiban di kantor, namun juga harus memiliki integritas seorang pemimpin yang handal dalam mengatur tim di satu divisi. Tentunya, dalam perjalanan karier Anda memimpin sebuah tim kerja di perusahaan, Anda akan menjumpai tipe-tipe pekerja yang bermacam-macam karakternya. Ada yang kurang menyenangkan, atau bahkan membawa pengaruh negatif bagi perkembangan lingkungan kerja di divisi Anda. Nah, berikut ada sejumlah kiat untuk mengatasi bawahan yang membandel!

1. Pantau terus pekerjaannya
Bila memiliki bawahan yang dapat dikatakan “hangat-hangat tahi ayam” alias bekerja sesuai dengan mood-nya saja, Anda harus mengambil langkah cermat tanpa diketahui olehnya secara terang-terangan. Pantau terus pekerjaan dan kinerjanya setiap minggu. Beri ia tugas-tugas yang sedikit lebih menantang dibanding biasanya. Mungkin saja, aksi “hangat-hangat tahi ayam” yang dimilikinya dikarenakan tugas-tugas yang diberikan tak lagi menantang buatnya.
Dengan memantau kinerjanya setiap minggunya dan memberikan tugas-tugas yang lebih penting, Anda bisa sekaligus memancingnya untuk mengeluarkan segala kemampuan positifnya yang mungkin saja terpendam.

2. Beri motivasi
Sebagai atasan, Anda dituntut untuk tidak saja cakap memimpin, tapi juga mau belajar bagaimana cara menciptakan motivasi positif bagi setiap bawahan di tempat kerja. Anda dapat mengajak satu tim kerja mengikuti seminar bersama, disertai acara outbond atau tantangan alam. Tujuannya, tak lain untuk menciptakan motivasi kerja baru bagi setiap bawahan yang mungkin saja sudah jenuh dengan rutinitas kerja harian. Selain itu, Anda akan mendapat manfaat lain, yakni mempererat hubungan kerja di dalam suatu tim. Sehingga, tak ada gosip atau pembicaraan negatif bahwa Anda adalah atasan yang buruk. Jadikan semua tim memiliki rasa menghargai pada atasan, karena Anda temasuk tipe atasan yang baik dan selalu memikirkan bawahannya.

3. Bicara baik-baik
Bila salah satu staf mulai membandel dan malas-malasan datang ke kantor, banyak izin, sering mangkir dari tugas, ini merupakan lampu kuning bagi Anda. Untuk menghadapi bawahan dengan karakter seperti ini, ajak ia duduk bersama untuk membicarakan persoalan ini. Katakan padanya, ini bukanlah masalah personal Anda dan dia, tapi sudah menjadi persoalan perusahaan. Dimana kinerjanya telah tercatat kurang begitu memuaskan. Terutama bila ia tak bisa memenuhi target-target yang berikan perusahaan kepadanya. Tanyakan apakah ia memiliki persoalan pribadi, atau tanyakan pula mengapa ia berperilaku seperti itu, yang ujung-ujungnya justru memperburuk nilai kinerjanya sendiri. Lalu mintalah ia untuk mengubah sikap negatifnya menjadi lebih positif. Toh, itu juga demi kebaikan dirinya sendiri berdasarkan penilaian obyektif Anda terhadap hasil kerjanya selama ini.

4. Selalu ada kesempatan kedua
Jangan merasa “panas” dan menggebu-gebu ingin mengomeli atau bahkan memecat bawahan Anda. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, bukan? Bisa saja ia sedang dalam keadaan tidak termotivasi. Jadi, setelah dibicarakan baik-baik dan dari hati ke hati sebagai seorang atasan dan bawahan, sebaiknya Anda memberikan kesempatan kedua baginya. Janjikan pula keterbukaan peluang baginya, sama seperti yang Anda lakukan kepada rekan lain untuk mendapatkan promosi bila ia berhasil dengan gemilang dalam melakukan pekerjaannya. Kemungkinan ada juga pekerja menjadi malas karena tahu, sehebat apa pun ia mengerjakan suatu tugas yang diberikan perusahaan, tak akan ada promosi karier yang lebih baik baginya di masa depan. Hal ini menjadikannya malas dan membandel.

5. Pecat atau tidak, ya?
Bila beragam langkah sudah Anda lakukan dan masih tak berhasil mengatasi tipe karakter bawahan yang bandel ini, memang agak susah. Bila didiamkan, tentu dapat mempengaruhi penilaian pekerja lain dalam satu tim terhadap kredibilitas Anda sebagai pemimpin. Ia juga bisa membuat suasana kerja jadi tak nyaman bagi bawahan lain yang termasuk tipe pekerja keras dan profesional. Untuk itu, lebih baik segera konsultasikan dengan bagian Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan. Berikan laporan secara obyektif kepada pihak SDM mengenai kinerja bawahan tadi, tanpa dilebihkan atau dikurang-kurangkan. Diskusikan pula dengan pihak SDM apakah lebih baik mencari penggantinya dan memindahkannya ke departemen lain, yang lebih cocok baginya.

Namun, bila ia sudah melakukan pelanggaran berat dan tidak bisa meraih target sama sekali, setelah didiskusikan dengan pihak SDM dan disesuaikan dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berlaku, perusahaan bisa saja memecatnya. Namun, lakukan langkah ini sebagai upaya paling akhir, ketika segala upaya telah gagal dilakukan.