Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib

By: Hyphatia Cneajna

Membaca buku setebal 192 halaman ini sangat menarik. Sampul bukunya berwarna coklat yang memudar menandakan aroma gothic yang begitu kental. Judul besarnya dengan embos warna merah menyala memang menarik mata untuk mengambilnya. Apalagi setelah membaca judulnya, Dracula. Memang awalnya akan mengira bahwa buku ini buku misteri seperti halnya buku tentang Dracula lainnya. Akan tetapi, judul kecil yang berbunyi “Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib”, tentu segera membuat yang memegang buku ini ingin segara untuk membaca keterangan di sampul belakang. Setelah membaca kata demi kata di sampul belakang maka akan segera mengetahui bahwa buku ini berbeda dengan buku sejenis lainnya, semisal buku Dracula karya Bram Stoker.

Buku karya Hyphatia Cneajna ini, nama yang tentunya agak asing bagi telinga orang Indonesia, yang lengkapnya berjudul Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib, bukan karya fiksi, tapi buku sejarah. Mungkin saja karena selama ini kisah tentang Dracula sudah lekat dengan vampir yang haus darah, maka penerbit buku ini perlu menambahkan kalimat “Kisah Kebiadaban Count Dracula yang disembunyikan Selama 500 Tahun”. Memang buku ini buku sejarah yang memaparkan riwayat Vlad Tepes atau kemudian dikenal dengan nama Dracula secara mendetail.

Bab I, yang merupakan pendahuluan, memaparkan tentang latar belakang Perang Salib. Perang yang terjadi hampir selama 5 abad ini telah banyak memakan korban, baik dari pihak Kristen maupun Islam. Dalam babakan terakhir perang tersebut, kekuatan yang terlibat dalam pertempuran semakin mengerucut, yaitu Kerajaan Honggaria—sebagai wakil Kristen—melawan Kerajaan Turki Ottoman/Usmaniah— sebagai wakil Islam. Dalam situasi inilah Dracula dilahirkan.

Riwayat hidup Dracula dibahas secara mendalam dalam Bab II. Nenek moyang Dracula, Randu Negru, merupakan pendiri kerajaan Wallachia, sebuah kerajaan yang dibatasi oleh Sungai Danube dan Pegunungan Carphatia. Kalau dilihat dalam peta dunia saat ini, Wallachia menjadi bagian dari negara Rumania. Randu Negru kemudian beranak pinak di wilayah tersebut. Salah satu keturunannya adalah Basarab/Vlad Dracul—”Dracul” berarti “naga”— yang merupakan ayah Dracula. Dracula merupakan anak kedua dari Vlad Dracul. Dracula mempunyai nama asli Vlad Tepes. Nama Dracula sendiri berasal dari bahasa Rumania, Draculea. Akhiran “ea” dalam bahasa Rumania berarti “anak dari”, jadi Draculea berarti anak dari Dracul.

Sebagai anak yang sering ditinggal ayahnya dalam keberbagai peperangan membuat Dracula tumbuh menjadi pribadi yang tidak bahagia. Ketidakbahagiaan ini semakin bertambah ketika pada umur 11-12 tahun ia harus menjadi tawanan Kerajaan Turki Ottoman. Walaupun di Turki ia diperlakukan dengan baik namun Dracula merasa bahwa dirinya telah dicampakkan dari masa kecil, kampung halaman, ibu serta keluarganya. Dari sinilah rasa dendam Dracula terhadap Kerajaan Turki Ottoman bermula. Hampir selama 5 tahun Dracula berada di Turki. Ketika usinya beranjak 17 tahun ia dikirim oleh Kerajaan Turki Ottoman untuk mengisi kekosongan tahta Wallachia setelah kematian kakaknya. Tahta Wallachia pun akhirnya bisa ia duduki. Dan, sejak berkuasa inilah kekejaman Dracula mulai tampak. Selama masa pemerintahannya yang berlangsung hanya 6 tahun ia telah membantai kurang lebih 500.000 penduduk Wallachia. Tentu saja jumlah korban tersebut tidak bisa dikatakan kecil dalam konteks abad pertengahan.

Sebagian besar korban pembantaian Dracula dibunuh dengan cara yang keji. Sebelum dibunuh mereka disiksa terlebih dahulu. Macam-macam penyiksaan Dracula tersebut dibahas dalam Bab III buku ini. Metode penyiksaan yang digunakan Dracula untuk menyiksa korban-korbannya antara lain penyulaan, merebus korban hidup-hidup, memaku kepala korban, menjerat leher korban, merusak organ vital perempuan, dan beberapa metode penyiksaan lain yang tak kalah kejam. Di antara metode penyiksaan tersebut penyulaan merupakan yang paling terkenal. Penyulaan merupakan penyiksaan dengan cara memasukkan kayu—sebesar lengan tangan orang dewasa yang telah dilancipkan ujungnya—ke dalam anus. Setelah sula masuk kemudian tubuh korban dipancangkan sehingga kayu sula terus masuk menembus tubuh korban hingga tembus ke bagian leher, punggung, atau kepala. Biasanya penyiksaan semacam ini dilakukan oleh Dracula secara massal, sehingga sekali melakukan “upacara” penyulaan jumlah korbannya bisa mencapai 2.000 orang.

Di antara korban-korban Dracula sebagian besar adalah umat Islam. Siapa saja umat Islam yang menjadi korban Dracula dijelaskan dalam Bab IV. Hyphatia memperkirakan jumlah korbannya mencapai 300.000 orang. Mereka ini sebagian besar merupakan pendukung Kerajaan Turki Ottoman yang berada di wilayah Wallachia. Sebagian besar korban tersebut dibunuh dengan cara disula, sebagian yang lain dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup, diracuni dan disiksa dengan cara yang lain. Masa inilah dikenal di Wallachia sebagai masa teror yang paling mengerikan.

Masa teror terhadap umat Islam dan penduduk Wallachia baru berakhir ketika Dracula terbunuh. Tentang di mana Dracula terbunuh dan kuburannya dipaparkan di Bab V. Dalam bab ini dibedah segala mitos yang melingkupi Dracula, termasuk kuburan Dracula yang setelah digali ternyata tak ada jasadnya lagi. Pun, dibahas tentang kematian- kematian misterius yang menimpa penduduk Wallachia dan sekitarnya setelah kematian Dracula, yang konon kabarnya kematian tersebut ada hubungannya dengan Dracula.

Segala bentuk kekejaman Dracula yang dipaparkan dalam bab demi bab buku ini masih tertutupi hingga kini. Sampai saat ini Dracula lebih dikenal sebagai vampir yang haus darah daripada pembunuh berdarah dingin. Hal ini terjadi karena Barat memang berusaha mengaburkan kisah hidup Dracula yang sesungguhnya. Mengapa Barat berusaha keras menyembunyikan jadi diri Dracula? Apa hubungan Dracula dengan bawang putih dan salib dalam konteks penjajahan sejarah? Mengapa pembunuh Dracula yang sebenarnya tidak banyak ditampilkan? Semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut diuraikan dengan tuntas oleh Hyphatia di Bab VI karyanya.

Buku karya Hyphatia Cneajna ini menarik karena dua hal. Pertama, buku ini menampilkan fakta-fakta yang belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Pada saat membacanya segala fakta-fakta yang ada dalam buku ini ibarat tamparan yang membuat kita sadar bahwa selama ini sosok Dracula merupakan sosok nyata yang kemudian lebih dikenal sebagai sosok fiski. Kedua, buku ini mengajak kita untuk selalu kritis terhadap sejarah. Sebuah sejarah yang seakan-akan sudah menjadi kebenaran ternyata seringkali berisi kebohongan- kebohongan. Dengan dua kelebihan ini—dan tentunya dengan kekurangan yang ada di dalamnya—buku ini layak dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat. [*]

Judul : Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib

Penulis : Hyphatia Cneajna

Penerbit : Navila Idea, Yogyakarta

Tebal : xii + 192 halaman

Tahun Terbit : Agustus 2007

Harga : Rp. 29.500,-

****** *****************

Dracula: Fakta yang Menjadi Fiksi

(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku “Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM)

Oleh: Ragil Nugroho

Sejarah semestinya menjadi cermin paling jernih bagi umat manusia untuk menatap masa depan. Tetapi bagaimana kalau sejarah telah dibelokan oleh kelompok pemenang?

Sejarah Superhero

Filsuf dan sekaligus aktivis gerakan kiri Italia, Antonio Gramsci, dalam teorinya tentang hegemoni (peracunan kesadaran), mengungkapkan bahwa seringkali sejarah ditentukan oleh kekuasaan yang menang. Sejarah semacam ini akan memuja kelas yang berkuasa dan sekaligus mencemooh kelas yang kalah; ia hanya akan berbicara tentang para raja bukan tentang para kawula. Akibatnya, kelas yang subaltern (dikalahkan) harus berada di luar gelanggang sejarah, yang artinya tidak mempunyai peran apa-apa dalam sejarah. Sehingga tepat kalau sejarah jenis ini disebut sejarah “Superhero”.

Lebih lanjut Gramsci dalam bukunya yang cukup fenomenal, Notes on Italian History (1934), menuturkan bahwa sebetulnya kelas subaltern—mereka ini terdiri dari petani, buruh, kaum miskin perkotaan, gelandangan dan kelompok-kelompok lain yang termarjinalkan— mempunyai sejarah sendiri yang tidak kalah kompleksnya dengan sejarah kelas yang berkuasa. Akan tetapi, akibat posisi yang tertindas membuat mereka tak bisa menuliskan sejarah mereka sendiri dan harus menerima “sejarah resmi” yang dibuat oleh kelas yang berkuasa.

Teori yang dikemukan Gramsci di muka sangat tepat untuk melihat penulisan sejarah yang dominan dewasa ini. Apa yang dikatakan oleh Gramci itu tampak demikian kasat mata. Di antara sekian banyak negara, Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang gemar memproduksi sejarah superhero. Agar gampang melihat fakta-faktanya tengok saja film-film produksi mereka seperti Superman, Batman, Rambo dan lain sebagainya. Dalam kasus film Rambo misalnya, terlihat dengan jelas bagaimana Amerika Serikat ingin selalu menjadi bangsa pemenang walaupun mereka mengalami kekalahan telak di Vietnam. Mereka ingin tetap menjadi superhero walaupun sebetulnya telah terpuruk. Selain yang dilakukan oleh Amerika Serikat, sejarah superhero bisa dilihat dari sejarah para diktator—semisal Stalin, Hilter, Mao. Para diktator tersebut berusaha mengagung-agungkan sejarahnya sendiri agar diri mereka layak disebut superhero. Apabila ada sejarah yang berlawan dengan yang mereka inginkan, maka akan dibungkam untuk selama-lamanya.

Dalam khazanah penulisan sejarah di Indonesia sejarah superhero juga akan banyak kita dapatkan. Para penguasa berusaha agar nama mereka digoreskan dengan tinta emas, sebagai pahlawan, sementara musuh-musuh mereka harus dikutuk menjadi manusia jahat atau menjadi hewan. Hal ini terlihat jelas dalam sejarah para raja pada masa feodal. Prabu Airlangga misalnya, menjadikan Calon Arang—musuh politiknya—sebagai tukang sihir yang suka mandi darah. Panembahan Senopati juga melakukan hal serupa, dengan tipu daya khas seorang Machialevis, menuduh Ki Ageng Mangir sebagai pemberontak yang layak dibunuh. Atau, bagaimana Sangkuriang dikisahkan dalam wujud manusia yang berubah menjadi seekor anjing akibat penentangannya terhadap kekuasaan yang dominan saat itu.

Melangkah pada zaman yang lebih modern, sejarah superhero ini terus berlanjut. Hal ini sangat kasat mata ketika Soeharto berkuasa. Ia buat sejarahnya sendiri sebagai pahlawan dalam Serangan Umum 1 Maret dan sebagai penumpas gerombolan liar PKI yang katanya akan merongrong Pancasila. Sebagaimana para leluhurnya yang gila akan nama kebesaran—raja-raja Mataram selalu bergelar Hamengkubuwono (pemangku dunia) dan Pakubuwono (paku dunia)—Soeharto pun mengangkat dirinya sebagai “Bapak Pembangunan”. Sejarah-sejarah seperti inilah yang menjadi “sejarah resmi” di Indonesia hingga saat ini. Bisa dikatakan bahwa manusia Indonesia sejak dalam kandungan sampai akan menjemput ajal dicecoki oleh sejarah superhero.

Dalam bandul sejarah yang condong pada sejarah superhero itulah bayang- bayang mitos begitu kuatnya sehingga menelan fakta. Ia telah menelusup pada pola pikir masyarakat. Mitos-mitos baru pun terus-menerus direproduksi. Tak sadar bahwa mitos-mitos tersebut telah melenakan dan semakin melapukkan sejarah itu sendiri.

Penjajahan Sejarah

Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Orientalisme, Erdwad W Said, memaparkan tentang dominasi Barat dalam menciptakan pandangan tunggal. Ia memaparkan bahwa Barat membuat penilaian tentang Timur. Dalam pandangan Barat, Timur merupakan sekumpulan “bangsa irasional, lemah-lembut dan eksotis”. Sedangkan dalam memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri mereka menyebut sebagai “bangsa yang rasional, penuh perhitungan dan dinamis”. Dengan penilaian seperti itu bangsa Barat ingin memberikan citra bahwa mereka berbeda dengan bangsa lain yang ada di Timur.

Tak terasa, penilaian yang dilakukan oleh Barat tersebut termakan oleh bangsa-bangsa Timur. Mereka menjadi alpa menilai diri mereka sendiri dan menyerahkan semuanya terhadap Barat. Mereka memandang diri mereka lebih rendah dari Barat. Mereka merasa tak layak hidup sejajar dengan Barat. Dari proses seperti inilah penjajahan sejarah bermula, dan kemudian berujung pada penjajahan sebuah bangsa.

Memang masih jarang yang mengupas penjajahan sejarah ini. Para aktivis maupun intelektual selama ini gaduh berdebat tentang penjajahan ekonomi dan politik, masih jarang memperdebatkan penjajahan sejarah ini. Padahal penjajahan sejarah tak kalah berbahaya dari bentuk-bentuk penjajahan yang lainnya. Apabila hal ini tak dilawan maka apa yang pernah dikatakan Milan Kundera, “maka tak lama setelah itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau, akan benar-benar mewujud.”

Sebuah bangsa yang telah terjajah sejarahnya akan tumbuh menjadi bangsa yang rapuh. Mereka akan kehilangan kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Mereka akan lupa tentang jati dirinya. Maka ketika suatu bangsa sudah kehilangan kepercayaan diri dan buta akan dirinya sendiri, ia akan mudah terombang-ambing. Akibatnya, sebagai pegangan mereka akan berpegangan pada bangsa yang menurut mereka lebih “kuat” dan “maju”. Dan, secara tak sadar mereka telah jatuh pada cengkraman negara lain.

Penjajahan sejarah ini sangat efektif untuk melakukan penjajahan terhadap sebuah bangsa secara keseluruhan. Sebagai contoh adalah yang akhir-akhir ini digembor-gemborkan oleh AS dan sekutunya tentang terorisme. Mereka menciptakan sejarah baru bahwa Afganistan dan Irak merupakan “sarang teroris”. Dengan sejarah rekaan tersebut telah melapangkan jalan bagi mereka untuk melakukan invasi/penjajahan. Alasan mereka yang sebenarnya, menguasi sumber minyak di Timur Tengah, bisa mereka tutup-tutupi dengan dalih mengejar gembong teroris.

Arnold Toynbee dalam karyanya Mankind and Mother Earth A Narrative History of Word (1975), memberikan pemaparan bahwa penjajahan sejarah telah membuat sejarah hanya berisikan masa lalu yang mengarah pada kuasa pengaruh Barat. Akibatnya, peristiwa-peristiwa masa lalu lainnya dianggap tidak relevan dan karena oleh itu bisa diabaikan. Lebih lanjut Toynbee memberikan uraian bahwa akibat westernisasi sejarah tersebut, negara-negara yang terbaratkan menjadi subordinat dan terpinggirkan.

Membongkar Sebuah Kebohongan

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Horror of Dracula (1958), Nosferatu (1922)—yang dibuat ulang pada tahun 1979—dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman (sebagai wakil Islam) dan Kerajaan Honggaria, (sebagai wakil Kristen) semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel, benteng Kristen, ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas, Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam perang inilah Dracula banyak melakukan pembantaian terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara—yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab—yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan- pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat—khususnya umat Islam sendiri—yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, “bawang putih” dan “salib”. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka—pahlawan dari pihak Islam—dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Dialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danau Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku ini juga memuat hal-hal yang selama ini tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain: politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini—walaupun masih merupakan langkah awal—bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita. [*]