Secara umum, ada 3 hal mendasar yang perlu diperhatikan dalam meraih kesuksesan, yaitu Mental (Kecerdasan Emotional dan Spiritual), Akal (Kecerdasan Intelegensia), dan fisik. Akal dan fisik itu perlu memperoleh perhatian yang seimbang. Dan semua itu perlu ditunjang dengan mental dan spiritual yang paripurna. Itu semua untuk menunjang optimalisasi ikhtiar dan tawakal kita.

Namun, saat training berlangsung, ada sebuah pernyataan yang secara tidak sengaja saya sampaikan kepada para peserta.  Sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya, namun mengalir begitu saja. Dan saat saya lihat respon para peserta, banyak peserta yang mengangguk-angguk dan berwajah – yang sepertinya – merenung. Semoga menjadi sebuah inspirasi baru…

Apa yang saya sampaikan saat itu? Saat itu saya menyampaikan bahwa kesuksesan kita dalam suatu hari tercermin dari sejak kita bangun sampai dengan tertidur kembali. Cerminan sebuah usaha atau kerja kita dalam meraih kesuksesan. Sebagai seorang muslim, ada korelasi yang sangat kuat antara kesuksesan hidup dengan kedekatan diri kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Konon kabarnya, untuk melakukan kedekatan terhadap Allah itu diperlukan sebuah usaha. Usaha yang tercermin dari insensitas dan kualitas ibadah kita.

Jadi jika diambil sebuah logika matematika, JIKA Ingin sukses, MAKA diperlukan usaha. DAN sukses sebanding dengan Kedekatan terhadap Allah yang tercermin pula dalam Ibadah kita. Berarti parameter sukses kita bisa dilihat dari kualitas ibadah kita.

Pertama, saat bangun malam/shubuh, bisa kita ukur seberapa kuat kita dalam mengalahkan rasa kantuk kita? Apakah kita mudah dikalahkan oleh rayuan syetan untuk menarik selimut dan tertidur kembali? Jika kita mampu mengalahkan rasa kantuk tersebut dan menyegerakan diri untuk ‘mendekat’ pada Sang Pencipta, maka insyaallah setidaknya kesuksesan kecil sudah kita peroleh. Hal inipun berlaku untuk pada waktu-waktu shalat lainnya. Pada waktu dhuhur/ashar, seberapa kuat semangat kita untuk mendahulukan panggilan Sang Khalik ketimbang pekerjaan, rapat-rapat, atau belajar kita? Pada waktu maghrib/Isya, seberapa kuat pula kita mendahulukan panggilan Sang Pemberi Sukses tersebut ketimbang santai-santai, bercengkerama dengan keluarga, nonton TV, istirahat, atau malah tidur? Jika kita anggap bahwa salah satu kesuksesan itu adalah berhasilnya kita menyegarakan panggilan Allah daripada hal-hal lain yang pada hakikatnya itu adalah rintangan untuk meraih sukses tersebut, maka setidaknya mental sang juara itu sudah ada dalam diri kita. Kita sudah memiliki motivasi kuat untuk mengorbankan banyak hal untuk menggapai cita-cita besar tersebut.

Tapi mental sang juara saja tidak cukup. Kita harus menjalankan sunatullah yang telah Allah gariskan bagi kita untuk meraih kesuksesan itu. Kita berusaha mengalahkan semua penghalang dalam meraih kesuksesan yang kita cita-citakan. Setelah sunatullah itu kita lakukan. Ikhtiar telah kita sempurnakan dan tawakal pun telah optimalkan, maka kita berdoa semoga Allah menurunkan karunia-Nya dengan memberi apa yang telah kita cita-citakan. Sukses tidaknya seorang manusia memang telah Allah tentukan. Meskipun kita ditakdirkan untuk sukses, tapi kita tidak berusaha, maka itu sukses itupun tidak akan terjadi.

Innallaha laa yughayyiru maa biqoumin hatta yughayyiru maa bianfusihim…

Wallahu’alam